Selamat Datang SAHABAT

Selamat datang di rumah kecil pembelajar.

Banyak persepsi, interpretasi, elaborasi dan apresiasi yang akan coba saya angkat. Awalnya, ini adalah cara saya untuk terus memberdaya diri. Dan, jika pun pada satu titik apa yang saya ungkap bermakna untuk Anda, Sahabat, maka komentar dan pandangan Anda tentu sangat berharga

Selamat Datang SAHABAT, semoga ini jadi tempat singgah yang bermakna

Nov 27, 2007

HATI-HATI TERSESAT by ADJIE


HATI-HATI TERSESAT  by ADJIE

"There is no road to success but through a clear strong purpose.
Nothing can take its place.
A purpose is the eternal condition of success."
-- Theodore Munger


Pengalaman menemani banyak kawan dalam sebuah sesi  pelatihan sungguh merupakan  bahan belajar amat berharga. Aku belajar banyak hal dari proses dan dinamika yang kami lewati. Pada tiap momennya kami menjumpai banyak hikmah, suka cita dan warna-warni pembelajaran. Dengan begitu, kegiatan semacam itu tak saja memberdayakan kawan-kawan yang hadir sebagai peserta belajar. Aku yang memainkan peran sebagai fasilitator bahkan belajar lebih banyak hal, belajar lebih mendalam, belajar sampai pada kesadaran-kesadaran baru, dan tentu juga dapat bayaran.

Sepenggal kisah yang menarik terkait dengan dinamika yang aku jalani sebagai kawan belajar adalah soal mengelola hasil akhir dari sebuah proses pelatihan. Ini hal penting. Buat client, mereka tentu punya harapan tertentu terhadap kegiatan yang sudah mereka modali. Tak saja uang yang diinvestasikan, waktu juga jadi salah satu modal besar yang mereka tanam. Hal lain yang kadang tak diperhatikan adalah soal investasi emosional yang muncul sebelum, saat dan sesudah kegiatan. Pendek kata, program yang dirancang mensyaratkan banyak hal sebelum bisa dijalankan. Karenanya menjadi wajar saja  jika ada harapan  membumbung.

Kalau tak menyadari ekspektasi macam itu, kadang kita terjebak pada soal ketak jelasan pertanggung jawaban. Komitmen sebagai rekanan kadang tak terjaga dengan baik. Persiapan penyelenggaraan tak dilakukan optimal, yang akhirnya berdampak pada kelancaran program secara keseluruhan. Ini  menjadi fenomena yang kadang lebih sering terjadi pada sejumlah konsultan yang sudah memiliki banyak client. Karena tak seimbang antara sumber daya dan client yang mereka tangani, kadang banyak hal justru merusak citra mereka di pasaran.

Karena jumlah consultant terbatas, pelayanan pada client jadi tak optimal. Alhasil jasa yang mereka tawarkan akhirnya  terdegradasi sekedar menjadi komoditi masal. Mereka hanya sibuk mengemis saat memasukan proposal penawaran. Sementara sesudah kontrak kerja ditanda tangani maka mulailah pelayanan yang seadanya. Tentu ini tak berlaku pada semua consultant besar. Ada juga yang masih tahu diri dan mampu mengelola sumber daya dengan baik

Itu soal makro.  Pada soal mikro,  hal sederhana yang bisa aku lakukan adalah mengelola proses di lapangan.

Ada kejadian dimana kelas yang aku temani berlangsung  garing. Proses belajar mengajar kering dengan antusiasme peserta yang amat minim. Peserta seperti hadir terpaksa, dan jadi tak nyaman selama proses. Diskusi tak mendalam dan aku jadi khawatir mereka tak mendapatkan banyak dari kegiatan yang mereka ikuti.

Bisa saja aku berkilah, bahwa mereka memang dipaksa datang dan ikut program. Namun tetap saja, ada ruang yang disediakan buat kami untuk melakukan sesuatu. Kalau inputnya seperti itu, maka ada ruang  proses yang diharapkan bisa mengelola dinamika sedemikian rupa, sehingga diujung kegiatan peserta akan tersenyum puas. Bukan senyum basa-basi atau tawa lelah karena lelucon. Lebih penting adalah tawa puas karena mendapatkan manfaat dari keseluruhan program.

Salah satu kesalahan yang ikut menyumbang pada memburuknya dinamika kelas adalah ketiadaan intensi dan perencanaan. Ini adalah dua hal yang saling kait. Intensi atau niat yang kuat sungguh menjadi fondasi yang penting bagi berlangsungnya proses  belajar  yang optimal. Ingat, saat ini  fokusnya adalah intensi dari sisi fasilitator teman belajar. Memang, intensi dari peserta belajar juga akan ikut berkontribusi. Namun focus ku lebih pada apa yang bisa dilakukan oleh  fasilitator untuk membantu mengoptimalkan proses yang ada.

Intensi yang aku maksud adalah bayangan  mental yang tertanam kuat tentang bagaimana dinamika yang diharapkan. Kalau tak dilakukan di awal, maka persepsi awal terhadap peserta bisa amat mempengaruhi keseluruhan hasil. Kalau melihat peserta malas, lalu menunjukkan sikap penolakan terhadap program, maka itu semua bisa dengan cepat merusak mind set kita sebagai fasilitator.

Fasilitator justru terpengaruh oleh input yang buruk, yang lalu berdampak  pada pola penanganan berikutnya. Kalau tak mampu bersikap proaktif, yang ada fasilitator justru diatur oleh peserta. Kalau sejak awal peserta sudah sumbang suaranya, maka irama program jadi makin sumbang.  Menghadapi situasi tidak mengenakan macam itu, maka intensi jadi hal penting.

Belajar dari sejumlah pengalaman semacam itu, program terakhir yang aku fasilitasi memberi pengalaman berkesan. Pesertanya banyak yang senior dengan pengalaman kerja hamper sepuluh tahun. Bisa dibayangkan bagaimana penguasaan mereka terhadap bidang kerja mereka. Bisa dibayangkan juga bagaimana mereka mungkin sudah sedemikian terbentuk dan terpengaruh oleh budaya perusahaan lama mereka. Sementara, program yang aku jalani ditujukan untuk mengenalkan budaya perusahaan  baru mereka.

Isu terbesarnya sungguh bukan soal menginduksi budaya baru. Soal ini mestinya adalah hal sederhana, mengingat bahwa pada umumnya setiap perusahaan memiliki budaya yang kurang lebih sama. Ada semacam budaya yang sifatnya generic secara esensi. Memang tampilan dan konseptualisasinya saja yang sedikit beda.

Soal yang lebih menantang adalah pada bagaimana respon mereka terhadap  hal baru. Jadi lebih pada kesediaan berubah. Kalau willingnessnya sudah tidak ada, maka bisa terekspresikan  dalam sejumlah penolakan dan sikap negative.

Maka mulailah aku bersibuk membayangkan gambaran kelas yang heboh yang aku harapkan. Mulailah aku sibuk memvisualisasikan dinamika kelas yang hangat. Aku tanam mendalam tentang bagaimana mereka berdiskusi membahas satu soal.

Berangkat dari sana, aku membayangkan pula apa yang bisa dann harus aku lakukan guna memastikan bahwa proses bisa berjalan sebagaimana gambaran yang aku buat di awal dalam benakku. Ada gambaran perilaku yang konkrit tentang apa yang bisa dan dapat aku perbuat. Ada gambaran detil tentang bagaimana aku memimpin proses diskusi. Ada uraian tentang pertanyaan dan tanggapan ku saat membahas satu topic.

Tidak semuanya kemudian menjadi amat mulus. Ada variabel lain yang bermain. Aku tak sendiri di sana. Program ini adalah buah sinergi sebuah tim besar. Ada kawan-kawan yang bertugas merancang aktivitas, ada kawan lain yang menemani kelompok dan ada kawan-kawan yang bertanggung jawab menyiapkan perangkat support system yang dibutuhkan. Peranku sendiri lebih banyak sebagai nara sumber dan pembahas saat diskusi berlangsung.

Kalau sekedar mencari kambing hitam, maka sudah siap ada di sana. Jika ada hal yang tidak enak, aku bisa saja mencari alas an guna menyelamatkan diri.  Namun sekali lagi, ada ruang buat kita untuk melakukan sesuatu. Dan kesadaran macam itulah yang kemudian aku coba jalankan. Paling tidak  saat memimpin kelas di atas.

Saat mengharapkan kelas hangat, maka aku menghangatkan tubuhku. Di depan kelas aku coba bergerak bebas. Tak terpaku di satu tempat, aku bisa maju mundur. Suara aku buat lebih keras. Tanpa microphone pun mampu didengar kawan-kawan  peserta yang jumlahnya lebih dari 30 orang saat itu.

Lontaran-lontaran sederhana aku angkat sekedar merespon dinamika yang muncul. Aku memang harus waspada, harus alert terhadap perkembangan situasi yang ada. Tak boleh terpaku hanya focus  pada agenda rancanganku. Fleksibilitas bermain namun tetap menjaga jalur yang diinginkan. Ini penting agar program tak berantakan.

Saat diskusi mengarah pada debat kusir, aku memilih melihat dengan kaca mata lebih segar. Memberi apresiasi pada semua pihak lalu  perlahan meluruskan cara pandang mereka. Menyadarkan mereka akan dasar dan akar mengapa debat terjadi. Mengapresiasi kekuatan mereka masing-masing ternyata memang meredam situasi konflik. Orang dan kelompok butuh dihargai. Kalau mereka dihantam di depan public tentu mereka marah. Jangankan mau menerima kekalahan dan kesalahan, mengakui kebenaran orang lain pun mereka enggan.

Alhasil, karena merasa dihargai, mereka jadi tak segan mengapresiasi satu sama lainnnya.

" saya kagum pada kelompok X, yang bisa melihat celah untuk mendapatkan keuntungan. Kami mungkin tidak menggunakan cara pandang itu. Saya kagum pada kreativitas kelompok Anda", begitu pujian dari anggota kelompok Y

" Dasar kami adalah mencari keuntungan. Dan tadi tidak ada batasan tentang bagaimana mencari keuntungan", anggota kelompok X menyampaikan argument dibalik tindakan mereka. Kali ini tetap dalam suasana yang hangat.

" OK, saya setuju. Tapi dalam situasi nyata, kita tidak bisa melakukan langkah yang justru menghancurkan diri sendiri dalam jangka panjang", kelompok lain menekankan esensi pesannya.

Semua bisa sepakat. Suasana terjaga tetap produktif dan kondusif. Beberapa yang lain lebih nyaman mengungkapkan diri. Pertukaran ide mengalir dalam suasana saling menghargai. Aku sebagai fasilitator dimudahkan. Peran yang aku jalani bisa terkelola dengan baik.

Niat awal mengarahkan diriku, sedemikian rupa sehingga pilihan-pilihan tindakan terbuka lebar, membuatku mudah untuk bersikap luwes, adaptif terhadap tuntutan situasi yang ada. Intensi mengarahkan kita, membuat Anda jadi lebih focus pada tujuan yang Anda kejar.

Ada banyak contoh lain yang menegaskan hal macam ini. Ada banyak kasus lain yang menguatkan aku betapa intensi menjadi hal utama dalam pengajaran kita terhadap tujuan-tujuan kita. Dalam bahasa yang lebih bebas, ajaran agama juga mengingatkan kita betapa setiap amalan / tindakan itu tergantung pada niatnya. Kalau niatnya benar dan lurus, maka semoga dimudahkan  usaha kita dalam mewujudkannya

Di antara contoh sejenis memang tak semua yang aku alami mengirim kabar baik, tak semua tentang hal menyenangkan. Ada kasus dimana aku sungguh mendapatkan apa yang aku niatkan. Saat hanya mengharapkan kesempatan untuk menguji orang lain, maka aku sebatas mendapatkan itu. Padahal pada saat yang sama ada kesempatan untuk belajar hal  lain yang lebih penting. Beberapa tahun lalu aku dating ke sebuah pelatihan dengan ambisi ingin tahu bagaimana sang trainer memimpin kelas. Aku terlupa bahwa memahami isi dan mendapatkan nilai tambah dari program adalah hal yang lebih penting. Di akhir program, sungguh aku hanya mendapatkan yang aku mau. Aku kehilangan kesempatan memahami program itu sendiri

Bagaimana dengan Anda ?

Pasti menarik mengingat kembali proses dan pengalaman Anda semua, khususnya seputar pentingnya niat awal. Kita pasti bisa belajar betapa niat, intensi sungguh akan mengarahkan kita. Ia mendorong kita untuk lebih sistematis dalam mengupayakan sesuatu.

Seorang pakar, John Robson menegaskan bahwa  makin jelas dan spesifik apa yang kita inginkan, maka makin besar kemungkinannya kita meraih tujuan-tujuan itu.   Kalau Anda menginginkan sesuatu, mari sama-sama mencoba lebih spesifik tentang apa yang sesungguhnya kita  inginkan. Otak kita bekerja  hanya pada hal-hal yang jelas.

Intensi itu punya kekuatan, kekuatannya akan mempertajam perhatian kita, sehingga kita akan lebih sering melihat orang-orang, kejadian-kejadian dan hal-hal dalam hidup kita yang akan membantu kita meraih tujuan-tujuan kita.   Niat kita bisa menjadi semacam harapan pada penguasa semesta. Ketika niat itu sedemikian kuat, maka kita layak berharap bahwa Sang Maha Kuasa juga akan memberikan energi-Nya agar kita sampai pada apa yang kita mau. Awalnya, adalah Anda harus tahu apa yang sungguh Anda mau. Seperti kata iklan : Ku tahu yang ku mau !

Memahami motivasi akan menjadi sumber kekuatan lain. Semakin Anda paham motivasi Anda dalam menetapkan sasaran, makin tinggi komitmen Anda agar proses Anda berhasil.  Saat Anda menemukan alasan terdalam atas apa yang Anda lakukan, Anda akan masuk ke dalam arus motivasi yang luar biasa besar yang melontarkan Anda menuju sukses. Pengalaman macam ini tentu akan memberi makna bagi Anda.

Untuk mengingatkan kembali diri ku sendiri, maka pada bagian ini layak juga aku rangkumkan kisah sederhana yang pernah aku baca

Pada suatu hari  Alice  ada di persimpangan jalan dan bertemu Cheshire (kucing). Alice bertanya : " jalan mana yang harus aku ambil ?"

" Kamu pergi kemana ?",  cheshire bertanya

" aku tak tahu", jawab Alice

" kalau begitu, tak masalah jalan manapun yang akan kamu ambil",  balas si kucing

Jelas bukan, mungkin saja Alice tak akan tersesat dan bisa kembali ke rumahnya. Namun yang jelas, Alice tak akan pernah sampai ke tempat yang ia tuju. Lha wong ia sendiri tak punya tujuan


Tentu kita tak mau jadi seperti Alice  

No comments: