Coretan ini mungkin bisa menjelaskan , walau serba sedikit, mengapa kemajuan dan kesuksesan hidup kita ternyata tak berbanding lurus dengan jutaan kata dan kalimat kebaikan yang sempat singgah dalam benak kita. Tentu tak kurang bayak buku dan kisah sukses yang kit abaca. Usai membaca buku macam itu, lalu kita merasa terinspirasi. Membaca kisah sukes banyak tokoh, kita terbangkitkan. Ada antusiasme, yang sayangnya hanya sesaat. Ada motivasi, yang nyatanya hanya sekedar ilusi akan jalan sukses yang juga bisa kita lalui.
Kita tak cukup kuat melawan tarikan-tarikan dari luar dan dalam diri, yang ternyata membuat kita sungguh jalan di tempat. Akhirnya, kisah sukses yang kita lalui tak sepanjang perjalanan hidup itu sendiri. Keberhasilan yang kita nikmati tak sama panjang dengan usaha yang sudah kita keluarkan. Atau jangan-jangan kita tak sungguh mengupayakan apa yang kita pikir seharusnya bisa kita jalankan ?
Ada yang salah ?
Tentu saja, namun aku masih bingung memberi nama yang paling pas atas kebodohon, kelalaian, kemalasan atau kedunguan yang satu ini. Yang jelas, untuk sukses tak hanya tahu yang dibutuhkan. Yang dibutuhkan juga bukan barang mewah. Secara konseptual, kita semua amat sangat sudah sering mendengar dan membaca bahwa sukses adalah kombinasi sejumlah hal. Orang butuh tahu apa yang hendak ia kejar. Orang juga harus tahu apa yang harus dilakukan. Teori dan strategi bagaimana melakukannya juga jadi kata kunci. Tahu saja konsepnya namun jika tak diimbangi pemahaman akan langkah-langkahnya tentu tak akan mengantar kita pada sukses yang kita tuju.
Anda tahu hendak kemana Anda berpergian adalah sebuah prasyarat awal. Setelah tahu bahwa Anda hendak ke Bogor dari Jakarta, maka maka Anda perlu mempertimbankan pilihan yang tersedia yang akan mengantar Anda sampai kota hujan itu. Ada pilihan naik bus dari terminal Kampung Rambutan. Ada pilihan naik kereta Jabotabek dari Gambir dan ada pilihan menyusuri arah Ciputat Parung dan seterusnya.
Namun memahami pilihan-pilihan di atas ternyata tak dengan otomatis mengantar kita sampai ke Bogor. Paling sedikit, kita butuh menetapkan hati, menyiapkan sekedar bekal yang diperlukan, lalu mulai melangkahkan kaki keluar rumah.
Jadi ada kombinasi TAHU dan MAU. Banyak orang tahu tapi tak mau melakukan. Berjuta orang paham kiat sukses, tapi sedikit yang sungguh mendapatkan sukses yang mereka angankan.
" There is one quality which one must posses to win, and that is definiteness of purpose, the knowledge of what one wants, and a burning desire to posses it" – Napoleon Hill
Untuk menang, berhasil atau sukses dibutuhkan kejelasan maksud dan tujuan kita. Lalu kita juga perlu punya pengetahuan apa yang kita inginkan, serta dorongan untuk mendapatkan itu semua.
Benar, ada gagasan tentang antusiasme yang coba sedikit disinggung dalam pesan seorang Napoleon Hill.
Ketika bicara antusiasme, kita bicara gairah yang berasal dari dalam hati. It's about heart. It's not only about head. Ini soal hati, bukan Cuma wacana di tingkat pikiran semata.
Kesadaran bahwa Anda hendak ke Bogor , lalu Anda memutuskan keluar rumah dan memilih jalur lewat Ciputat tak dengan otomatis mengantar kita sampai Bogor . Sudah bagus karena kita tahu tujuan dan sudah mulai melangkah. Namun ternyata itu saja belum cukup. Ada ujian-ujian lain yang akan menyapa siapapun yang sungguh ingin sukses. There's no free lunch. Gak ada yang gratis. Semua butuh investasi, biaya, waktu dan tenaga.
Sikap dan reaksi terhadap ujian di tengah jalan itulah yang kemudian ikut membedakan siapa yang sukses dan tidak. Orang yang sudah berada di atas kendaraan menuju Bogor bisa sangat putus asa saat harus berhadapan dengan kemacetan yang sering terjadi di tengah perjalanan. Hingga tulisan ini dibuat, jalur Ciputat adalah salah satu jalur yang masih sering macet. Kalau tak tahan menghadapi kepadatan di jalan raya, kita bisa putar badan dan kembali ke rumah. Kalau stress di jalan merongrong, kita bisa lekas turun dari angkot, menyeberang jalan lalu kembali pulang.
Karenanya, tujuan perjalanan kita sungguh harus sesuatu yang memang bermakna buat kita. Kalau yang hendak kita kejar adalah soal remeh di mata kita, maka seringkali kita mudah mundur dan menyerah saat mengusahakannya. Kalau kita sendiri tak merasa bergairah atas apa yang kita mau, maka lebih banyak kisah kegagalan yang lahir dari scenario hidup macam itu.
" You will be most successful with this work if your goals really matter to you" – John Robson.
Kalau tujuan-tujuan kita bukan sesuatu yang penting, maka kemungkinan besar tak ada antusiasme dan komitmen di sana .. tanpa antusiasme dan komitmen kita jadi pendekar yang lemah yang mudah menyerah kalah atau pulang kandang.
Agar tujuan yang kita kejar sungguh berarti buat kita, maka tak cukup kita hanya berdialog dengan kepala saja. Kita perlu bertanya pada hati kita, begitu pesan banyak guru kesuksesan. Kepala kita lebih sering memerintahkan kita melakukan apa-apa yang sudah biasa kita lakukan, apa yang kita pikir perlu kita lakukan atau apa yang orang lain harap kita lakukan. Sebaliknya, kita harus menemukan apa yang sungguh ingin kita lakukan dengan dan dalam hidup kita.
Jadi bagaimana mendengarkan hati bicara ?
Kita perlu ruang pribadi. Bukan ruang fisik berdinding marmer semata yang kita butuhkan. Yang perlu kita miliki adalah ruang meditasi, ruang spiritual, yang bisa jadi memang menawarkan kesepian. Dalam kesenyapan kita kadang menemukan ekspresi hati kita. Dalam keheningan kadang kita baru bisa mendengarkan nyanyian nurani terdalam kita.
Agar perjalanan ke dalam diri itu menjadi lebih terarah, ada baiknya Anda mengingat rute-rute yang harus dicicipi. Ingat kembali area-area dalam hidup Anda. Kesadaran untuk menelusuri sebanyak mungkin area hidup ini akan menjadi gerbang awal menuju sukses yang lebih seimbang, success in balance, happiness in balance.
"a happy life should be in balance. One must live equally in the mind, body and spirit. those who are lacking in one of these attributes can not be totally happy" – Lillian Gish
Area hidup itu bisa berupa : KARIR, HUBUNGAN, KESEHATAN, KELUARGA, SAHABAT, PERTUMBUHAN PRIBAD (growth), WAKTU LUANG, PELAYANAN, PERTUMBUHAN SPIRITUAL, waktu pribadi, keuangan dll
Buatlah evaluasi sederhana terhadap masing-masing aspek di atas. Buat penilaian dengan menggunakan skala 1-5, dari sangat tidak puas hingga sangat puas. Pada area-area dimana Anda merasa tidak puaslah Anda bisa mulai memprioritaskan usaha dan gerak Anda. Di sana kita mungkin perlu memberi perhatian lebih. Di sana kita mungkin perlu berinvestasi lebih banyak.
Mari masuki jalan sepi yang akan mengantar kita pada jalur sukses di depan sana
No comments:
Post a Comment