" Tahu nomor teleponnya X nggak ?", itu adalah salah satu jenis pertanyaan yang kadang membuatku langsung tersenyum. Senyumku mengembang kalau kemudian yang ditanya adalah nomor telepon orang yang tak terlalu aku anggap penting. Tidak penting dari sesi pekerjaan maupun hubungan keseharian. Kalau ia hanya kenalan biasa, yang jarang aku butuh menghubunginya maka kemungkinan besar aku tak akan mengingat nomor teleponnya. Sebaliknya kalau ia adalah pribadi yang aku sering butuhkan, maka kalaupun aku tak mengingatnya dalam kepala, maka nomor kontak mereka menjadi salah satu yang penting aku simpan.
Mungkin aku egois ? Atau kurang perhatian ?
Bisa jadi. Namun dasarnya adalah kepentingan. Aku enggan mengingat hal-hal yang menurutku kurang penting. Tak saja berlaku untuk nomor telepon. Parahnya aku bahkan tak berusaha mengingat tanggal lahir orang-orang yang sebenarnya berpengaruh dalam hidupku. Aku tengah belajar mengingat tanggal lahir significant others itu. (maafkan aku akan hal ini). Pada kasus terakhir ini, mungkin apa yang aku lakukan bukanlah contoh yang baik dan layak ditiru.
Sekali lagi, Prinsipnya aku enggan merekam apa-apa yang menurutku adalah hal remeh.
" Menuh-menuhin memori di otak saja", begitu aku sering melontarkan gurauan
Dengan logika begitu, maka tentu ada hal-hal penting lain di luar soal nomor telepon dan tanggal lahir yang layak kita ingat, dan paling sedikit wajib kita catat. Jadi ketika otak kita sedang berfungsi bak computer kelas XT, kita bisa dengan cepat melihat catatan yang ada. (hari-hari ini computer sudah menggunakan processor Pentium IV – plus core duo dan sejenisnya)
Dalam konteks kali ini, salah satu hal penting yang harus kita ingat adalah target-target dan tujuan kita. Paling sedikit kita harus punya catatan tentang target yang hendak kita kejar pada satu waktu tertentu.
Kasus sederhana pernah aku alami. Salah seorang atasanku di tempat kerja pernah panic karena ada target tahunan yang belum ia capai. Repotnya, sebagai anak buah aku yang jadi penanggung jawab untuk memastikan target tersebut tercapai. Ada sebuah projek yang harus aku tuntaskan. Ini memang target atasanku, tapi anak buah yang biasanya harus menyelesaikan. Target atasan biasanya memang lebih banyak mendelegasikan dan memonitor bukan ?
Singkat cerita, menjelang penilaian atas pencapaian target-target yang ada, beliau bertanya padaku, mencari kepastian apakah aku sudah menyelesaikannya. Sayangnya ia bertanya ragu. Ia tak yakin apakah pernah meminta aku menyelesaikannya.
Lebih repot lagi, aku ikut-ikutan ragu. Aku juga tak ingat dengan pasti apakah dia sungguh pernah memintaku menuntaskan projek dimaksud. Jadilah kami yang saling berhadapan bergulat dengan kebingungan dan kepanikan masing-masing. Atasanku mungkin panic karena target tersebut berhubungan dengan bonus tahunannya. Kalau target tak tercapai, bonus bisa hilang, atau paling sedikit jumlahnya berkurang. Kepanikan yang bisa dipahami, sebagaimana aku juga tak ingin kehilangan bonus senilai 50 jutaan itu !
Kepanikanku sendiri makin meninggi, karena bercampur dengan rasa bersalah. Tak enak hati kalau kita jadi sumber kegagalan orang lain. Aku tak nyaman kalau menjadi tertuduh, tersangka yang menyebabkan atasanku tak bisa mendapatkan uang bonus besar di atas. Sebagai anak buah, citraku bisa makin memburuk dan bisa dianggap tak kompeten.
Namun selidik punya selidik, soalnya ada pada perkara mencatat dan mengingat target-target. Aku mungkin pernah mencatat target yang diminta atasanku. Namun soalnya aku tak mengingatnya dengan jelas. Akibatnya, sepanjang tahun berjalan aku tak menggunakan panduan tersebut saat mengerahkan energi dan usahaku. Jadi kalau sepanjang tahun aku tampak sibuk, atau paling sedikit merasa sibuk, maka sesungguhnya ada pertanyaan besar :
"Aku sibuk mengerjakan apa ? Aku sibuk buat apa ?"
Begitulah betapa menuliskan dan mengingat target-target kita sungguh menjadi soal penting, yang menjadi salah satu modal untuk meraih sukses yang kita mau. Kalau kita tak tahu target apa yang kita tuju, maka sesungguhnya kita memang tak kemana-mana.
Dengan begitu makin jelas juga bahwa mengenali dan menentukan target-target kita harus jadi prioritas awal. Sebuah pernyataan yang amat logis bukan. Anda harus tahu hendak kemana sebelum kemudian memutuskan akan naik apa menuju tempat tujuan itu. Kita memang perlu memusatkan perhatian pada usaha mengidentifikasi dengan jelas apa yang sesungguhnya kita inginkan, apa yang sesungguhnya ingin kita capai dalam hidup kita.
Mengenali tujuan-tujuan akan sangat membantu kita memastikan bahwa kita menghabiskan waktu untuk hal-hal yang bermakna dan sungguh bernilai buat kita. Coba lihat lagi kebelakang, jangan-jangan selama ini waktu dan usaha kita habis untuk hal-hal yang tak penting, atau bahkan sia-sia. Kadang kita lupa seakan waktu adalah sesuatu yang tak harus dipertanggung jawabkan. Kita terlupa, menikmati waktu seakan menghirup oksigen yang gratisan !
Menggunakan kerangka PDCA yang amat klasik, kita perlu punya PLAN, rencana, target yang hendak kita kejar. PLAN akan jauh bermanfaat kalau dibuat tertulis. Jangan memaksa diri hanya mengandalkan daya ingat. Ada isu lain di luar sekedar menguji kehebatan otak Anda. Menulis tujuan-tujuan justru mengakselerasi gerak kita.
Setelah PLAN dibuat, kita beraksi, DO something, ada aksi. Aksi kita yang menghabiskan waktu dan usaha serta sumber daya lain tentu akan makin terarah kalau dipandu oleh PLAN yang jelas.
Di tahap berikutnya, kita bisa melakukan CHECK, kaji ulang, review, monitoring terhadap apa yang sudah kita lakukan. Kita bisa mendapatkan umpan balik mengenai efektivitas usaha kita. Data efektivitas itu akan mengantar kita untuk mencari peluang dan ruang peningkatan. Apa yang perlu diubah dan diperbaiki agar usaha kita makin efektif ? Apa langkah perbaikan yang harus segera diupayakan agar kita makin dekat pada tujuan yang sungguh kita mau ?
Buah dari CHECK adalah ACTION baru. Ada tindakan baru yang jadi solusi, yang diharapkan akan mempercepat usaha kita mengejar impian yang ada. Begitulah proses sederhananya. Ini memang konsep, yang amat klasik dan tua. Sayangnya tak semua kita yang sudah tahu tentang ini sungguh mau menjalankan hal sederhana macam ini. Aku juga tengah memarahi diriku, mempersoalkan seberapa sering aku menggunakan format dan pendekatan ini
Sebenarnya isunya bukan pada pendekatan. Ada banyak kiat dan strategi lain. Soal utamanya adalah apakah semua mengantar kita pada sebuah efektivitas. Soal pentingnya adalah apakah kita makin dekat pada apa yang kita mau. Soal mendesaknya adalah mengetahui apakah kita tak menyia-nyiakan energi, waktu dan sumber daya yang ada.
Dan awalnya adalah PLAN, buat target, tuliskan impian kita.
Nyatanya hal sederhana macam menuliskan impian masih juga menjadi hal yang berat, termasuk buatku. Jadi tak heranlah kalau jumlah orang sukses yang berhasil mengejar impiannya pasti jauh lebih sedikit dibanding jumlah eksemplar buku sukses yang pernah dibaca manusia. Bahkan ada yang berani buat pernyataan bahwa orang sukses jumlahnya tak lebih dari 10 persen populasi.
Menariknya ini bukan semata soal persaingan. Sukses saya tak harus menghalangi anda menuju pintu sukses. Kesempatan sukses tentu sebanyak jumlah manusia itu sendiri. Sayangnya tak semua kita mau mengambil hak sukses itu. Sayangnya tak semua mau memulai langkah menuju sukses itu. Sayangnya tak semua kita berani menuliskan kisah sukses hari mendatang. Sayangnya tak semua kita berani menuliskan target-target kita hari ini juga !
Kita mungkin hanya merasa sudah punya target, namun nyatanya bingung saat ditanya detil target itu. Kita gede rasa mengandalkan ingatan, tapi diam saat ditanya apa yang kita ingat tentang tujuan-tujuan kita
" I never know what I think about something until I read what I've written on it" – William Faulkner
Jadi, ayo sama-sama mulai menuliskan target dan impian kita. Ayo tuliskan, sekarang juga !
Kesederhanaan pertanyaan berikut mudah-mudahan membuat kita makin berani memulai menuliskan target kita :
- apa yang kita sukai dari tahun lalu, yang kita ingin wujudkan lagi ?
- apa yang ingin kita kurangi di tahun ini ?
- apa yang baru yang kita inginkan di tahun mendatang ? (bisa berupa hasil, perasaan, pengalaman, nilai-nilai, prinsip dsb)
- hal fisik apa yang kita inginkan ? (materi, kesehatan, energi, olah raga, waktu tidur dll)
- hal emosional yang kita mau ? (perasaan, gairah, rasa seimbang, harga diri, cinta dll)
- hal mental yang kita harapkan ? (belajar, membaca, berkreasi, merancang dll)
- hal spiritual yang kita tuju ? (pelayanan, keindahan, kedamaian, kebahagiaan dll)
- apa yang kita kejar dalam karir ? (financial, pekerjaan baru dll)
- yang kita impikan dalam hubungan dengan keluarga, kawan, komunitas ?
Andrias Harefa, penulis produktif Indonesia pernah merangkumnya dengan menarik menjadi SECAMILANIK. Apa yang ingin kita SE-lesaikan, CA-pai, MI-liki, LA-kukan dan NIK-mati
Ayo, tunggu apa lagi ? (ini pertanyaan buat diriku sendiri lho)
No comments:
Post a Comment