Selamat Datang SAHABAT

Selamat datang di rumah kecil pembelajar.

Banyak persepsi, interpretasi, elaborasi dan apresiasi yang akan coba saya angkat. Awalnya, ini adalah cara saya untuk terus memberdaya diri. Dan, jika pun pada satu titik apa yang saya ungkap bermakna untuk Anda, Sahabat, maka komentar dan pandangan Anda tentu sangat berharga

Selamat Datang SAHABAT, semoga ini jadi tempat singgah yang bermakna

Dec 25, 2007

(motivasi) RESOLUSI TAK BISA LARI SENDIRI by adjie

Saat tulisan ini dibuat, saat Desember akan segera berakhir, salah  satu yang ramai dibicarakan banyak orang adalah soal resolusi menjelang  tahun baru yang segera datang. Ada yang merasa ini adalah perkara penting, sehingga dengan sungguh-sungguh menempatkan soal resolusi ini di urutan atas. Sudah dirancang rencana untuk  mengalokasikan waktu khusus untuk membuat resolusi.

 

Ada yang menganggap serius soal  ini hingga penampilannya juga sangat serius di ujung tahun ini. Ada yang masih cengengesan memandangnya, walau saya juga tahu ia sesungguhnya kawan yang sangat serius untuk soal-soal macam ini. Hanya saja ada  banyak kita yang sengaja menggunakan tampilan lain sebagai cara untuk menyeimbangkan dirinya.

 

" Ngapain juga serius-serius Pak", ujarnya tangkas.

 

Maka kemudian  kawan macam ini mendekati dan memandang hidup dengan kaca mata parody yang segar. Lontarannya penuh analogi bermakna. Ujarannya konyol namun tajam. Tertawanya kadang adalah cara mentertawakan dirinya sendiri. Saya suka orang-orang macam ini. Orang-orang yang seringkali bertanya apakah dirinya sudah masuk kategori gila atau belum. Orang-orang yang mempersoalkan kegilaannya. Yang paling parah adalah jika ada yang sudah merasa gila beneran

 

" Kalau  kita bertanya dan merasa gila,  barangkali itu adalah tanda bahwa kita belum gila", itu yang saya lontarkan pada kawan-kawan jenis ini. Lalu kami tertawa bersama. Dalam hati, saya kadang bertanya  juga, jangan-jangan kegilaan adalah soal kontinum, bukan dua titik ekstrem berbeda dengan jarak amat tegas.

 

 

Resolusi Bukan Solusi

Kembali ke soal resolusi di atas, beberapa kawan mempersiapkan dengan sungguh-sungguh seremoninya. Lalu mereka dengan gembira bercerita telah berhasil menyusun, menulis atau mengumpulkan banyak resolusi buat tahun depan. Saya senang melihat kawan-kawan ini. Saya orang yang setuju bahwa segala sesuatu memang perlu direncanakan. Walau sepakat bahwa tak semua hal bisa dirancang di muka, namun perencanaan tak bisa dipungkiri manfaatnya. Walau setuju bahwa tak semua resiko bisa dihitung di awal, tapi mengelola dan mengantisipasi kendala adalah langkah yang saya pikir tetaplah berguna

 

Tentang resolusi itu sendiri, saya teringat  pernah memulainya beberapa tahun lalu. Waktu itu sederhana saja, hanya sebuah coretan sederhana dalam bentuk  peta pikiran (mind map). Asyiknya di kesederhanaan itu saya menikmati prosesnya. Lebih penting dari itu, saya juga melihat manfaatnya. Paling sedikit saya sungguh punya acuan. Ada pagar yang membantu saya melangkah dan tak salah langkah. Saya makin sepakat, bahwa resolusi sebagai rencana adalah hal mendasar.

 

Lalu di tahun-tahun berikut saya membuat resolusi dalam bentuk yang lain. Kali ini bentuknya adalah sebuah daftar panjang (hot lists atau wish list).  Ada alasan mengapa saya menuliskan daftar panjang macam itu. Saya coba menterjemahkan dan mengikuti anjuran banyak guru yang saya idolakan : " Tuliskan cita-citamu. Kalau belum ditulis, maka  baru jadi khayalan semata"

 

Semakin banyak informasi saya terima, semakin banyak persentuhan dengan guru-guru sukses, bentuk penulisan cita-cita saya juga ikut berubah. Makin ke sini makin sistematis, karena mulai mempertimbangkan pengelompokan (clustering). Di antara daftar panjang yang saya buat tentu ada beberapa target yang saling terkait, saling berhubungan atau berasal dari satu isu penting yang sama.  Naik gaji, kurangi pemakaian kartu kredit dan tingkatkan pendapatan dari memfasilitasi program pelatihan semuanya berhubungan dengan soal financial.  Stretching tiap pagi, badminton tiap Kamis dan  berenang setiap Minggu bersama anak-anak   bisa dimasukkan ke dalam kelompok kesehatan. Sholat lebih tepat waktu, memperbanyak sholat berjamaah, perbanyak membaca Al Quran dan sholat Tahjud adalah soal-soal yang saya masukkan  ke dalam kotak spiritual. Begitu seterusnya.

 

Ketika daftar target  sudah dibuat, ketika resolusi sudah dicanangkan, maka pertanyaan berikutnya adalah soal efektivitas. Pertanyaan penting terhadap hal-hal di atas adalah sejauh mana itu semua membawa perubahan dan dampak. Apakah benar kita berubah dan menjadi makin baik ? Apakah perubahan  yang terjadi bukan semata soal makin baiknya rencana kita ? Adakah perubahan bermakna setelah dan sebelum mempunyai resolusi ? Apakah cukup dengan membuat resolusi itu ? Apakah sungguh resolusi itu bermanfaat ?

 

 

Resolusi dan Aksi

Dari sisi manfaat, jelas buat saya resolusi itu bermanfaat. Seperti sudah diungkap di depan, paling sedikit saya jadi punya panduan arah. Paling sedikit saya tahu hendak ke  mana saya. Saat waktu luang, dan saya berkesempatan membaca kembali impian-impian saya, maka resolusi bisa jadi semacam pengingat.

 

Namun jelas dan harus diakui, resolusi tak bergerak sendiri, lalu mengantar Anda pada tujuan yang dicitakan. Jelas, bahwa menuliskan impian itu perkara penting, namun juga penting diingat bahwa menuliskan saja tak cukup. Anda boleh menggunakan macam-macam pendekatan. Menggunakan konsep SMART goals maupun WELL-FORMED Outcome adalah langkah sistematis, tapi  jangan terbius lalu merasa puas sudah punya target-target yang ditulis indah dan masuk akal.  Bahkan dengan hypnosis kelas canggihpun, resolusi  tetap tak punya kaki yang bisa jalan sendiri lalu mewujudkan impian-impian kita.

 

Kembali  pada kearifan dan logika sederhana adalah langkah paling tepat dalam konteks ini. Kalau resolusi tak punya kaki sendiri maka harus ada sesuatu yang mengantar kita berlari menuju impian-impian  yang pernah jadi target itu. Tak ada hal lain selain bertindak yang harus dipilih. Tindakanlah yang membedakan pemimpi dengan orang-orang berprestasi. Tindakanlah yang memungkinkan kita sampai pada apa yang kita mau. Bahkan untuk sekedar menghilangkan haus, kita harus bertindak. Anda harus beranjak mengambil sendok dan minuman  terdekat. Anda harus mengangkat gelas ke arah mulut, lalu glegh glegh glegh……..

 

Jadi makin aktual dan kontesktual anjuran dari guru semacam Andrie Wongso dengan "Action and Wisdom"-nya. Jadi relevan ajakan Mark Joyner dengan "Simple-ology"-nya. Semuanya mengingatkan kita untuk bertindak, beraksi , melangkah dan berbuat. Hanya dengan cara itu, impian tak sekedar jadi bunga tidur. Dengan cara demikian paling sedikit, kita bisa memperpendek jarak antara impian-impian dengan realita di hari  esok.

 

Menyadari kesederhanaan macam ini, kadang saya mentertawakan diri sendiri. Betapa tidak, untuk sesuatu yang saya sebut prestasi atau sukses, saya sampai memerlukan hadir pada banyak seminar. Puluhan buku juga saya lahap dan tak jarang siaran di radio jadi kawan saya bermobil. Memang tak ada yang salah dengan itu semua. Dari kaca mata pencerahan, sebagaimana banyak kita lakukan -  hal di atas adalah sesuatu yang bermanfaat.

 

Tapi sikap kritis perlu terus dipelihara. Apalagi ketika itu menyangkut persaingan kita  dengan waktu. Ketika waktu terus bergulir, dan  jatah hidup kita makin sedikit, maka  mengkritisi sejauh mana pencapaian dan  prestasi kita adalah sebuah keharusan. Ketika usia menua, maka mempertanyakan makna keberadaan kita adalah sebuah langkah bijak. Kalau tidak, maka lagi-lagi kita akan terbius, lupa waktu, lupa usia, lupa diri. Akhirnya penyesalan di ujung hari. Sesal dan kesal karena sedikit  yang sudah diperbuat. Sesal dan kesah karena tak banyak yang sudah dicapai. Sesal tak ada guna karena ternyata hidup kehilangan makna.

 

Belajar sepanjang waktu  memang bermanfaat. Namun kita juga perlu mengingat bahwa belajar idealnya selaras dengan perubahan. Mata kuliah "Pengantar Psikologi" mengajarkan bahwa belajar adalah sebuah perubahan yang bersifat menetap sebagai hasil dari latihan.  Jadi kalau Anda makin pede karena  pengaruh obat bius itu bukan kategori belajar. Dengan begitu esensinya adalah perubahan tingkah laku.  Jika tak ada perubahan tingkah laku usai membaca banyak buku, maka  jangan-jangan kita tak sungguh belajar. Jangan-jangan tindakan kita membaca buku dan ikut seminar hanya sekedar cara kita menghibur diri, yang ternyata tak mengantar kita pada sesuatu yang lebih baik. 

 

Maka saya malu sendiri, ketika hari-hari ini makin sadar bahwa sesungguhnya untuk mengejar yang kita mau tak perlulah kita terjebak dalam  pendekatan yang super canggih. Yang terpenting adalah sejauh mana kita sungguh bertindak.   Pendekatan heboh memang diperlukan, terutama ketika persoalan kita juga masuk kategori heboh. Soalnya, banyak permasalahan kita yang sebenarnya biasa saja. Saya pikir, hidup kita bisa sederhana saja, sehingga pendekatan sederhana mungkin sudah cukup buat sebagian dari kita. Kunci pendekatan sederhana itu adalah tindakan, aksi dan gerakkan.

 

 

Resolusi Setiap hari

Menyadari bahwa resolusi tak punya kaki, maka semoga kesadaran kita akan pentingnya aksi juga makin meninggi. Semoga kita makin mantap  pada prinsip  untuk segera bertindak, melakukan aksi dan mulai melangkah. 

 

Menyadari bahwa kesenjangan antara cita-cita dan realita kadang terus begitu besar, maka bukan pula berarti bahwa resolusi  jadi tak penting. Saya justru melihat bahwa kita sangat memerlukan  resolusi. Walau tak bisa berlari sendiri, resolusi tetap kita butuhkan. Kali ini bahkan tak hanya resolusi akhir  tahun yang perlu kita siapkan. Ada baiknya kita mulai mempertimbangkan untuk mulai membuat resolusi setiap hari.

 

Kalau resolusi tahunan berisi gambar besar yang hendak kita kejar, resolusi harian berisi rencana kita untuk dan evaluasi  terhadap tindakan-tindakan kecil yang makin  memperpendek jarak kita dengan apa yang kita idamkan. Resolusi harian adalah refleksi dan media untuk melakukan kaji ulang. Kita perlu melakukan review atas langkah-langkah yang sudah diambil, belajar dari sana, melihat apa yang perlu diperbaiki dan sungguh melakukan perbaikan yang diperlukan.

 

Tampak sangat sederhana bukan ?

 

Maaf bukan maksud saya menyederhanakan permasalahan. Apalagi saya juga sadar ada banyak hal yang masih harus saya pelajari. Saya juga sadar masih ada target-target pribadi yang masih dalam perburuan saya. Karenanya, coretan ini juga jadi cara saya untuk memperbaiki diri. Ini adalah cara saya melakukan evaluasi dan refleksi, yang semoga mengantar pada perbaikan.

 

Maaf soal ini memang bisa tampak seakan sangat sederhana. Realitanya mungkin tidak sesederhana ini. Paling tidak realita dalam kaca mata dan dunia Anda bisa jadi sangatlah tidak sederhana. Apalagi kalau sebagian kita berlama dengan polemic dan argument, maka soal macam ini akan makin tidak sederhana jadinya.

 

Semoga tindakan membantu kita menyederhanakan  persoalan yang ada, sekaligus mengantar kita pada apa yang kita dambakan.

 

Semoga

 

 

Cimanggis – December 2007

1 comment:

anugerah perdana said...

ahh...
ketemu juga apa yang saya cari-cari

perkenalkan, saya agah suragah dari bandung :) mampir dari blognya mas prie.gs

resolution is power, but action is more!