Pengalaman keseharian saya mengajarkan betapa waktu adalah soal penting. Anda juga setuju bukan ? Sedemikian penting hingga kitab suci juga memasukannya sebagai topic yang harus disebarkan sebagai pengingat bagi manusia, khususnya bagi yang ingin selamat. Waktu menjadi alat yang akan menyelamatkan manusia, tak saja di dunia namun juga selamat di akhirat (bagi yang percaya akan adanya akhirat)
Benar, jika tidak mempertimbangkan waktu maka banyak hal yang akhirnya tak bisa kita capai. Bahkan sehebat dan seagung apapun tujuan mulia Anda, tak akan berarti sama sekali ketika Anda tak membingkai itu semua dalam kerangka waktu. Banyak orang yang punya impian besar, akhirnya tak mencapai apa-apa. Banyak orang yang punya rencana besar akhirnya tak bisa merealisasikannya. Banyak projek terbengkalai juga semata karena kita tak sensitive pada waktu.
Pekerjaaan harianku di kantor juga sering kacau karena aku lupa waktu. Bukan lupa waktu karena terus bekerja ; sebaliknya aku kadang lupa waktu dan hanya sibuk pada hal-hal yang bukan prioritasku. Ketika bicara prioritas target maka saat itu kita memasukkan waktu. Namun kesadaran dan thesis macam ini tetap saja sulit dilaksanakan dalam realita keseharian kita. Itulah mengapa coretan macam ini tetap penting dibagi, agar terus menjadi media pengingat bagi kita yang sungguh punya cita-cita.
" Goals are dreams with deadlines" – begitu kata Diana Scharf Hunt
Dan aku teringat kekacauan yang pernah aku alami semata karena aku tak concern pada waktu, tak peduli pada deadlines. Seperti sudah berulang kali, belum lama ini aku diminta kawan untuk mengerjakan projek assessment di sebuah lembaga keuangan. Tugasku adalah melakukan tes psikologis, dan tentu harus dilengkapi dengan laporan hasil test-nya.
Tanpa pikir panjang, apalagi karena dilaksanakan di hari Sabtu dan Minggu, akupun setuju. Lalu aku berangkat ke sebuah kota di Jawa Timur. Pengalaman yang seru, dengan liku-liku dinamika yang ada. Wawasan bertambah dan kawan yang semakin banyak adalah warna yang aku suka saat mendapatkan projek-projek semacam ini.
Namun projek-projek macam itu tak semuanya berisi kesenangan. Tak semuanya adalah hak prerogratif yang keputusannya terserah aku sendiri. Projek macam itu adalah juga kumpulan kewajiban dan tugas. Dan salah satu tugas berat dalam projek assessment adalah membuat laporan psikologis.
Untuk jadi sebuah laporan psikologis yang baik ada banyak tata aturan yang harus diikuti. Ada juga beberapa orang yang ambil jalan pintas, yang biasanya karena mereka sudah expert sehingga mampu melakukan judgment dengan sumber daya yang bahkan terbatas. Sementara aku, untuk assessment aku selalu takut ambil keputusan cepat. Ada banyak data yang harus aku kompilasi, analisa dan elaborasi. Data hasil tes harus dikombinasi dengan hasil wawancara agar laporan yang aku buat bisa menggambarkan dinamika orang yang aku test.
Urutan kerjanya sudah jelas. Bagaimana menyelesaikan tugas sudah jelas aku tahu prosesnya. Format laporan dan panduan kerja sudah aku dapat. Bahkan tanggal pengumpulan laporan sudah aku dengar. Namun soalnya kemudian adalah bagaimana aku sungguh-sungguh membuat deadline bagi diri sendiri.
Sabtu dan Minggu melakukan tes dan wawancara. Minggu malam, tengah malam sampai lagi aku di rumah. Senin pagi masuk kantor dengan lelah yang masih menempel di sekujur tubuh. Selasa penat masih dirasakan namun aku tak sempat pergi ke pijat refleksi yang aku suka. Rabu baru terpikir untuk mengerjakan laporan projek. Kamis ada rapat penting. Sementara di malam-malam harinya, aku terlalu lelah untuk bekerja selepas anak-anak tidur. Kadang kalau bangun dini hari aku lebih memilih sholat atau membaca Al Quran hingga Subuh. Maka 25 laporan yang harus aku selesaikan tak ada satupun yang mulai aku kerjakan.
Jumat ada telepon lagi, masih dari kawan yang sama. Aku panik, takut ia menagih laporan yang aku janjikan.
" Djie, hari Minggu jadi ya ?"
" yang mana nih ?", tanyaku
" Yang sama. Tapi nanti wawancara saja. Tempatnya di Cengkareng"
" Ok", dan aku lega karena kawanku tak menagih laporan. Ia justru membawa kabar gembira lain. Ia kembali mengajakku mengerjakan projeknya. Toh laporan yang diminta memang harus aku serahkan di hari Senin. Jadi masih ada 3 hari lagi, Sabtu, Minggu dan Senin. Kalau aku kerjakan malam hari, bisalah aku selesaikan semuanya. Ternyata itu Cuma kabar gembira basa-basi yang sekedar usaha bawah sadarku untuk menenangkan diri. Realitanya tak semudah itu.
Karena tahu bahwa hari Sabtu aku tak ada di rumah, maka Sabtu itu aku habiskan waktu bermain bersama anak-anak. Mengajak mereka ke tempat favorit mereka sudah amat membuat mereka suka cita. Dan sayangnya itu dilakukan di sore hari. Aku sempat uring-uringan karena hingga Maghrib kami masih di luar rumah. Bagaimana dengan nasib laporan ku ? jadilah aku semakin panik
Aku berpikir, tak mungkin Sabtu malam itu aku mulai mengerjakan laporan. Kalai lelah dan mengantuk, maka bisa repot saat besoknya aku harus melakukan interview. Benar saja Minggu pagi jadi heboh, karena aku harus berangkat dan janjian dengan kawan untuk pergi bersama ke Cengkareng.
Hari yang melelahkan. Aku menginterview cukup cepat. Untung data yang aku cari masih bisa aku dapatkan. Aku bisa pulang cepat dari Cengkareng dan berencana mulai mengerjakan laporan.
Sampai di rumah, sore hari tumpukan berkas sudah menanti. Jujur saja aku sudah putus asa dan berpikir untuk minta tambahan waktu, agar bisa mengirimkan laporan hari Selasa.
Minggu malam itu aku bekerja hingga jam 3 pagi. Baru 7 laporan selesai. Sisanya masih bertumpuk. Itupun sudah meminta bantuan istriku untuk mengerjakan yang bisa ia lakukan. Mengirim laporan di Senin pagi seperti yang diminta tak bisa aku penuhi jadwalnya. Aku kontak kawanku, minta kelonggaran. Ia setuju dan ini menenangkanku, walau sebentar.
Soalnya tetap saja, masih ada banyak laporan yang belum aku selesaikan. Singkat cerita Selasa dan Rabu aku bekerja, lagi-lagi hingga jam 3 pagi. Demi laporan yang aku janjikan, aku menyiksa diriku !
Ini memang bukan sekedar kewajiban mencari nafkah. Tak ada yang salah dengan menerima projek demi mendapatkan nafkah. Yang salah adalah bagaimana aku mengelola pekerjaan yang aku terima. Lebih tepatnya soal utamanya adalah bagaimana aku mengelola diriku, mengelola waktuku.
Dan lagi-lagi pengalaman seperti di atas mengajariku, untuk ke sekian kalinya, tentang bagaimana memanfaatkan waktu.
Kalau bicara soal actual, maka sebenarnya laporan itu bisa dikerjakan dengan cepat. Waktu yang dibutuhkan tak harus menyiksa badanku. Kalau tiap malam aku bisa cicil dan kerjakan 4 buah saja, maka sebenarnya aku masih bisa leluasa dan santai. Masalahnya aku begitu ceroboh dan kacau dalam mengelola diri. Aku tak komit pada deadline yang ada. Deadline sudah ada dan aku tahu, namun merubahnya menjadi kesadaran yang menggerakkan ternyata soal lain.
Dan benar tanpa deadline yang aku komit dengannya, maka ambisi untuk mengerjakan laporan tak seperti yang aku mau. Menyelesaikan laporan sekedar jadi hal dan impian. Benar seperti kalimat pembuka di atas, tanpa deadline maka banyak tujuan dan ambisi yang sekedar mimpi.
Deadline, tenggat waktu memang menjadi salah satu ukuran tentang sejauh mana target dan tujuan kita bisa terukur. Masih ingat konsep SMART dalam penetapan target ? "M" bermakna measurable, alias terukur. Tujuan yang terukur adalah tujuan yang punya tenggat waktu. Kalau tujuan kita tak terukur dan tak konkrit maka itu akan jadi sekedar impian semata. Dan saat itu kita hanya berharap pada nasib baik untuk bisa merealisasikannya. Dengan deadline diharapkan kita jadi punya panduan tentang kapan dan mengerjakan apa. Deadline membantu kita mengatur prioritas kerja harian kita. Deadline yang kita hayati mestinya mampu menggerakkan kita untuk walau perlahan memulai langkah, makin dekat pada tujuan-tujuan kita.
Makin jelas deadline untuk tiap target kita, maka makin jelas pula bagaimana kita bisa mengukur progress pencapaian tujuan-tujuan itu. Kita tahu kapan dan apa yang harus kita monitor. Deadline membantu kita untuk melakukan kajian dan pada akhirnya mencari tahu apa yang sudah berjalan baik seperti rencana dan mana yang belum
Jadi tunggu apa lagi ? Mari bergerak berdasarkan deadline yang ada, sebelum datang deadline terhadap hidup kita sendiri. Kalau deadline atas kehidupan kita telah datang dari Sang Maha Pencipta, maka deadline-deadline tak akan berguna lagi. Bahkan sekedar impian pun sudah tak lagi bermakna
Cimanggis – December 2007
No comments:
Post a Comment