Ini bukan sekedar pertanyaan basa-basi. Ini pertanyaan penting, tak hanya untuk Anda tapi juga bagi saya. Saya tiba-tiba terpikir hal ini, dan tertarik mengolahnya menjadi telaah reflektif. Sebagai sebuah refleksi maka ini tak dimaksudkan untuk mengajari orang-orang di luar diri saya. Ini adalah refleksi subyektif, yang karenanya kemudian lebih menggambarkan dinamika pemikiran individual.
Setiap individu bisa punya refleksinya sendiri. Bahkan terhadap satu kasus yang sama, tiap kita bisa sangat berbeda telaah dan pemaknaan atasnya. Namun tak masalah. Bagus saja kalau kita melihat sisi baiknya. Dan buat saya, dari refleksi macam ini saya belum menemukan sisi buruknya. Manfaatnya jelas untuk saya. Dan jika bermanfaat buat Anda maka itu layak disyukuri. Namun saya lebih bersyukur kalau setiap kita mau melakukan refleksi lalu membagikan catatan pribadinya untuk pembelajaran orang lain
Kembali ke pertanyaan soal limit manusia, maka bagi saya ini lebih banyak muatan spiritualnya. Jawaban atas pertanyaan jenis ini saya yakini akan melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru yang bisa membuat diskusi menjadi amat lebar dan panjang. Tak selalu diskusi jenis itu mengantar pada sebuah kesepakatan. Dan bukan kesepakatan yang sedang saya cari. Yang saya yakini, kesediaan untuk membedah dan bertanya ke dalam akan membangkitkan kesadaran kita. Kesadaran itulah yang kemudian akan memancarkan energi pemberdayaan, karena membantu manusia untuk mengenali sisi gelap dalam dirinya. Kesadaran jualah yang mengantar kita pada kejujuran dan pencerahan.
Dalam pandangan saya, kalau jawaban soal batas manusia itu dihubungkan dengan posisi Tuhan, maka keterbatasan manusia harusnya tetaplah luar biasa. Dengan begitu , berbekal keterbatasan yang ada pun, maka manusia seharusnya masih bisa mencapai dan mendapatkan hal-hal luar biasa.
Thesis di atas ditunjang oleh argument tentang Maha Luar Biasa nya Tuhan. Allah Yang Maha Besar pasti menciptakan manusia dengan segala kesempurnaannya. Kesempurnaan manusia itu tentu adalah buah kesempurnaan-Nya. Dengan begitu seharusnya manusia juga termasuk sempurna. Kalau manusia dicipta dengan kesempurnaan-Nya, maka pasti ada bekal luar biasa yang dititipkan Allah buat manusia. Bekal ini penting karena Allah meminta manusia untuk menjalankan peran sebagai wakil-Nya bukan ? Sebagai utusan Allah, manusia harus memiliki kapasitas yang dibutuhkan untuk mengatur dan bermain dalam scenario drama di dunia.
Kalau soal dan permasalahan di dunia sudah sedemikian kompleksnya, dan Tuhan telah membekali manusia dengan bekal yang memadai, maka aku menduga bahwa kapasitas manusia akan sangat luar biasa. Belum lagi kalau disandingkan dengan pendapat yang mengatakan bahwa manusia baru memanfaatkan 10 % dari kapasitasnya. Bayangkan betapa luar biasanya keterbatasan manusia itu.
Sayangnya kesadaran akan kapasitas manusia di tingkat spiritual belum semuanya diterjemahkan dalam konteks kehidupan social kita. Buktinya masih saja ada banyak di antara kita yang bahkan belum pernah mencicipi kebesaran-kebesaran mereka sendiri. Banyak di antara kita yang bahkan belum mendapatkan banyak dari yang mereka mampu. Masih sedikit di antara kita yang meraih apa yang dicita-citakan.
Nah kalau kapasitas kita luar biasa lalu mengapa masih banyak yang belum mendapatkan apa-apa ?
Terkait dengan goal setting skills, soalnya kadang bukan pada kapasitas dan limit manusia. Dan mungkin ada benarnya masalahnya kadang karena kita memasang target terlalu tinggi pada waktu tertentu. Ingat, ini bukan perkara larangan berpikir besar. Bukan di sana isunya.
Masalahnya, pada satu waktu tertentu target yang terlalu tinggi menyebabkan makin rendahnya kemungkinan kita untuk berhasil. Sasaran yang terlalu tinggi makin kecil harapan untuk sukses. Sayangnya, ini bisa juga terjadi pada kita yang bahkan memiliki target biasa saja.
Soal strategi mengejar impian mungkin pernah disinggung pada tulisan lain. Kiat memecah-mecah target juga dibahas dalam coretan lain. Sementara soal strategi memilih prioritas juga dibahas dalam tempat terpisah. Nah , di sini pesan pentingnya adalah pada soal melakukan monitoring dan kaji ulang terhadap semua sasaran kita.
Terkait dengan monitoring dan kaji ulang di atas, ada beberapa hal yang perlu kita renungkan :
- catat kembali success story Anda. Ini akan jadi modal untuk menguatkan rasa percaya diri Anda yang akan meningkatkan harapan untuk sukses pada hal lain, yang sedikit banyak berhubungan. Keberhasilan Anda naik sepeda akan meningkatkan percaya diri Anda untuk bisa dengan cepat belajar mengendarai motor.
- berbekal pengalaman sukses Anda, kaji terus target-target Anda di depan. Apakah sudah cukup besar dan menantang ? Apakah target Anda sebesar kapasitas Anda ? Kalau kerendahan membuat ANda malas. Kalau terlalu tinggi, target Anda akan membuat Anda frustrasi.
- kalau kaji ulang sudah dilakukan, maka secara sistematis manfaatkan kepercayaan diri Anda untuk menetapkan target yang menantang dan masih menyediakan ruang belajar bagi Anda
- ingat juga untuk menetapkan target yang bermakna buat Anda. Susunlah target yang memang ingin Anda kejar. Buatlah target yang memang penting untuk Anda
dengan memindahkan focus pada soal-soal di atas, maka perhatian kita tak lagi habis untuk mempersoalkan keterbatasan kita. Focus kita ada pada tindakan yang bisa dilakukan, bukan pada soal-soal yang bisa membatasi kita. Energi kita lebih tercurah pada usaha dan kerja bukan pada wacana yang kadang mengotori persepsi diri.
Melakukan kaji ulang, mencari umpan balik, meningkatkan kesadaran akan kapasitas akan menghindarkan kita dari tragedy gajah sirkus, tragedy sosok yang terlupa akan kapasitasnya lalu membatasi diri dengan pikiran-pikiran beracunnya sendiri.
Dengan terus secara teratur melakuan kaji ulang dan berfokus pada tindakan, maka perlahan tapi pasti kita akan tersadar dan setuju dengan apa yang dengan baik diungkap oleh Benjamin E. Mayes yang berujar :
" It must be borne in mind that the tragedy of life does not lie in not reaching your goal. The tragedy lies in having no goal to reach. It isn't a calamity to die with dreams unfulfilled, but it is a calamity not to dream. .......
Tragedinya adalah ketika kita tak punya sasaran yang akan dituju, bukan pada kegagalan kita meraih sasaran itu. Malapetakanya bukan karena kita mati saat belum berhasil mewujudkan impian. Malapetaka terjadi justru ketika kita tak punya impian.........
No comments:
Post a Comment