" Setahu saya sih belum Pak", walau jadi orang nomor dua dalam kepanitiaan itu, aku memang tak yakin seratus persen. Perkaranya karena aku beberapa kali mengambil cuti. Jadi bisa saja pembubaran panitia dilakukan saat aku cuti. Kalau memang demikian, sebenarnya masih aneh juga buatku. Paling sedikit aku berharap sempat mendengar kabar beritanya, terlepas apakah aku akan ikut serta atau tidak. Jadi karena aku sendiri memang belum pernah dengar kabarnya, maka aku bilang saja bahwa pembubaran panitia memang belum dilakukan
Mengapa ada kawan yang mempertanyakan hal di atas ? Sebenarnya bukan hal besar, namun ini juga mengindikasikan bahwa yang bersangkutan juga ingin dilibatkan dalam pembubaran. Semua panitia sudah bekerja keras, jika ada kesempatan berkumpul saat pembubaran maka seperti ada sebuah apresiasi penutup atas apa yang sudah mereka lakukan. Begitu mungkin pikiran mereka. Pikiran yang tak bisa disalahkan, apalagi kalau sudah menyangkut tradisi yang berurat berakar. Dan bicara tradisi, saat pembubaran panitia biasanya diadakan makan bersama bagi panitia, yang menurutku bisa menghabiskan dana cukup besar. Nah soal dana ini nanti aku coba urai lebih jauh
Kembali ke soal pertanyaan di awal, tak lama kemudian aku langsung berkirim email, bertanya pada sang ketua, mencari konfirmasi kejelasan hal di atas.
" Boss, ada yang Tanya apakah pembubaran sudah dilakukan ?", kalimat terbaik yang bisa aku pilih agar tak multi interpretasi
" Belum Boss", jawaban pendek itu aku terima tak lama kemudian
Lalu sang ketua menghubungiku melalui telepon. Dia menjelaskan alasannya sehingga pembubaran mundur cukup lama. Ia juga menyebut rencananya untuk makan bersama dalam acara pembubaran kelak. Ini sesuai dugaan dan mungkin harapan banyak kawan.
" Aku sih Insya Allah tak terlalu concern. Yang penting mah kawan-kawan lain yang mungkin lebih mengharapkan acara itu", jawabku tegas
Aku sungguh tak terlalu bergairah dengan rencana makan-makan seperti ini. Maaf, mungkin beda dengan kawan-kawan panitia yang lain, yang mungkin berharap ada acara penutup macam ini. Aku tak menemukan esensi penting darinya. Namun lebih dari itu, aku merasa ada yang tidak pas, yang tak boleh aku lakukan.
Tentang makan-makannya sendiri mestinya asyik-asyik saja. Tentu menyenangkan bisa kumpul bareng kawan-kawan dalam suasana santai di luar kantor. Bicara bisa lebih lepas dan jauh dari topic target pekerjaan. Walau bisa juga ajang macam itu jadi terasa buang waktu, apalagi kalau dipenuhi obrolan basa-basi dan sekedar jaga wibawa.
Kalau kumpul dan makan-makannya tak masalah maka sesungguhnya ada yang tetap harus dikritisi. Terus terang aku tak nyaman dengan soal sumber dana untuk acara makan-makan itu. Terkait dengan dana, aku sedang belajar untuk sensitive. Kalau buatku ia berasal dari sumber yang tak jelas, maka aku tengah belajar untuk tak ikut-ikutan menikmatinya. Aku sedang belajar, jadi bukan soal jaga citra.
Tentang sumber dana untuk acara makan saat pembubaran, sesungguhnya itu bukan yang pertama yang aku menaruh perhatian. Saat acara rapat kepanitiaanpun aku sudah tak nyaman, ketika pada rapat itu ada juga acara makan bersama. Kalau di awal saja aku masih bisa maklum, dan memang kami melakukan rapat konsolidasi awal diimbuhi makan bersama di sebuah resto.
Namun ketika itu seakan dijadikan "kebiasaan" aku makin tak nyaman. Makin tak nyaman ketika mulai muncul semangat untuk mendapat perlakuan lebih, termasuk hak untuk melakukan lebih. Buatku, keikut sertaanku dalam kepanitiaan semata membantu, jadi aku tak berharap mendapat perlakuan lebih baik. Lha wong aku justru ingin melayani koq !
Dan protes awal sudah aku tunjukkan saat aku tak hadir dalam acara makan siang bersama yang pernah diadakan. Sayangnya memang baru sebatas itu yang bisa aku lakukan. Aku tak coba mempengaruhi kawan lain dalam kepanitiaan untuk juga memprotes acara makan siang itu. Aku masih merasa banyak orang yang santai saja menikmati acara itu. Bisa aku simpulkan nilai-nilai mereka masih beda denganku. Jadi aku memilih tak menjadi pahlawan kesiangan yang coba merubah nilai dan keyakinan mereka secara drastic.
Protesku adalah gambaran minimal bahwa paling tidak aku memiliki pilihan sikap. Aku bisa memilih sikapku. Aku bisa memilih tindakan yang memang ingin aku perjuangkan.
Karenanya, terkait soal pembubaran panitia itu yang jadi concern-ku adalah sisa anggaran kegiatan. Aku tak bernafsu makan siang bersama. Aku peduli pada soal pertanggung jawaban pemakaian keuangan. (dan ini akan aku jadikan agenda serius). Dan memang sudah ku siapkan sikapku bila ada acara makan-makan saat pembubaran panitia. Lagi-lagi, sayangnya aku hanya focus pada diri sendiri. Aku tak mengajak yang lain untuk protes. Pertanyaanku pada ketua panitia, sebagai mana aku kirim melalui email, mungkin justru diterjemahkan bahwa aku mendukung gagasan pembubaran plus makan-makan.
Namun memang masih di tingkat itu yang bisa aku lakukan. Aku belum bisa merubah orang lain. Aku tak bertanggung jawab pada pilihan-pilihan orang lain, termasuk aku juga tak bertanggung jawab terhadap bagaimana persepsi orang lain tentang aku. Aku sudah cukup puas bisa terus belajar untuk memperjuangkan nilai dan prinsipku, walau masih dalam skala sangat kecil.
Maka ketika kemudian sang ketua menyebut tanggal rencana makan-makan itu, aku juga tak terlalu antusias.
" Bisa Boss ?", tanyanya padaku.
" Aku bisa aja. Tapi yang penting kawan-kawan yang lain bisa nggak ?", begitu balasku bertanya
Sementara itu skenarioku makin matang aku siapkan. Scenario sebuah perlawanan kecil.
Maka di sore itu, aku bergegas ke luar kantor tepat waktu.
" Mau kemana Boss ?", tanya kawanku saat memergoki aku di lobby.
" aku mau ketemu kawan dulu. Nanti nyusul", aku berargumen.
Dan aku ngeloyor pergi. Aku memang pergi ke satu tempat bertemu orang bengkel untuk tune up mobilku. Dan tune up itu memakan waktu lama. Jadilah makin sempurna alasanku untuk tak hadir ke acara makan-makan di atas.
Beberapa telepon kawanku masuk. Tapi tak aku angkat. Mereka mungkin menunggu aku. Aku coba terus menguatkan hati. Lalu ku kirim pesan singkat
" Boss, maaf aku gak bisa ikutan"
Lega rasanya berhasil memperjuangkan nilai yang aku yakini. Lega rasanya bisa mendobrak batasan budaya yang mungkin sudah jadi aturan di kalangan kawan-kawan. Selalu ada batas di luar diri kita, namun kita mungkin masih punya peluang untuk perlahan mendobrak batas itu. Dan kadang soalnya ada pada mind set kita. Batasan dan limit itu kadang ada pada kerangka pikir kita sendiri. Jadi kalau behasil bernegosiasi dengan pikiran sendiri, maka mudah-mudahan lebih mudah merealisasikannya dalam tindakan kita.
Ini memang soal kecil. Dan aku belajar memulai dari hal-hal kecil macam itu. Buat orang lain mungkin ini tindakan konyol, apalagi kalau dilihat dalam kerangka pertemanan. Namun itu jenis resiko yang aku pilih. Perjuangan kita pasti mensyaratkan konsekuensi jenis itu. Toh seperti aku sebut sebelumnya, pada tingkat sekarang aku belum memilih mempengaruhi cara pandang orang lain. Aku tak bertanggung jawab atas pikiran dan pendapat orang lain
Paling sedikit, aku bertanggung jawab terhadap pilihan-pilihanku sendiri. Sebelum mendobrak limit di luar sana , ada baiknya kita belajar menddobrak pikiran-pikiran yang membatasi kita
No comments:
Post a Comment