Semua yang hadir diam, menatap saya, menunggu dan berharap saya segera menjawab sendiri pertanyaan yang saya lontarkan
" Seingat saya, kisah sederhana ini pernah saya sampaikan sebelumnya. Tapi pada kesempatan ini perlu saya angkat lagi, karena jadi contoh yang paling sederhana yang bisa menjelaskan", ujar saya bersemangat, namun tetap coba menahan diri agar kalimat saya tak dipersepsikan berbeda. Tidak enak juga, kalau kemudian ada yang merasa isi pernyataan saya adalah sebuah hinaan betapa mereka tak mampu berpikir abstrak sehingga perlu ada contoh konkrit yang sederhana
Situasinya memang mendorong saya mengambil contoh itu. Yang kami bahas memang soal yang banyak muatan konsepnya. Untuk jelasnya, hari itu kami membahas proses penilaian kinerja karyawan sekaligus penyegaran soal prosedur penetapan target untuk tahun akan datang. Fokus bicara kami ada pada 2 isu besar, yakni soal target-target terukur (kuantitatif) dan target kualitatif dengan sejumlah kriteria penilaiannya.
" Target terukur yang bicara angka konkrit itu adalah soal "What"-nya. Sementar yang kualitatif adalah soal "How"- nya", saya coba menjelaskan.
Saya berharap penjelasan itu memudahkan mereka mendapatkan gambaran lebih jelas soal konsep yang bagus itu. Sayangnya konsep itu tak seluruhnya bisa dipahami, apalagi diterima dengan lapang dada. Bahkan petinggi yang hadir hari itu juga tak dengan mudah menerima argumen yang sempat dilontarkan.
Memang ada jenis argumen yang lebih banyak nuansa memaksa tanpa penjelasan. Saya sendiri bisa paham kalau ada yang mengungkap jenis argumen itu.
" Ya habis bagaimana lagi, ini kan perintah dari kantor pusat di Jerman sana", begitu salah satu ekspresi pasrah yang pernah saya dengar. Untuk banyak kasus seputar kebijakan perusahaan memang ada saja petunjuk yang sifatnya top down. Kami yang ada di afiliasi Indonesia hanya bisa bilang iya dan jalankan apa yang diperintah oleh kator pusat
" Kebijakan ini dibuat dengan pertimbangan masak. Tak sedikit biaya dan waktu dikeluarkan untuk menelurkan konsep ini. perlu diingat juga bahwa pendekatan ini sudah dengan banyak kajian dari konsultan yang memang kredibel di bidangnya", saya coba beri pandangan yang saya pikir lebih rasional
Namun suasana diskusi kami pagi itu tetap saja tak mulus. Banyak kendala yang diangkat kawan-kawan. Saya paham implementasi tak selalu mudah seperti di atas kertas. Saya mengerti tak semua teori indah jadi mudah dalam pelaksanaannya. Sayangnya tidak semua keluh kesah dan keberatan yang ada juga didasari argumen rasional. Sebagian lebih banyak karena soal kesulitan mereka mengelola waktu.
" Repot kalau kita harus pakai ini. Memang bisa dilaksanakan, tapi merepotkan", tegas salah satu yang hadir hari itu
Karena dinamika diskusi pagi itu tak memberi harapan cerah, maka saya berharap cerita saya soal taksi di awal bisa membantu mereka memahami dengan lebih mudah.
" Semua taksi bisa mengantar kita pada tujuan. Beberapa bahkan bisa lebih cepat sampai dibanding dengan taksi B. Tapi mengapa sebagian besar kita memilih taksi B itu ?", saya menegaskan
Tak ada jawaban. Sebagian yang hadir mungkin sudah lupa cerita yang pernah saya sampaikan sebelumnya ini
" Kita memilih taksi B antara lain karena pelayanannya. Kita suka karena ia tak ugal-ugalan. Kita senang karena sopirnya ramah dan bisa membuat kita nyaman. Tak sedikit yang mengajak kita ngobrol sehingga kita juga enjoy", begitu saya coba mengurai
Soal taksi ini, Anda tentu punya pilihan favorit sendiri. Tak bisa dipungkiri, dengan banyaknya pilihan tersedia, maka kita lebih leluasa memilih yang paling kita mau. Namun saya berani bertaruh pasti ada taksi tertentu yang paling Anda ingin tumpangi. Kalau saya tak salah duga, salah satunya karena keramahan pengemudinya. Kalau bicara kecepatan, ada jenis taksi lain yang terkenal berani lari kencang, yang dipadu dengan argometer mereka yang juga takkalah cepat bertambah.
Maka pilihan kita terhadap taksi yang hendak ditumpangi tak semata pada kemana kita hendak pergi. Itu adalah soal tujuan. Itu soal "What" yang saya maksud. Kita memilih taksi juga karena soal bagaimana si sopir berkendara. Kita peduli pada bagaimana pengemudi mengantar kita pada tujuan. Inilah yang saya maksud sebagai soal "How". Jadi bicara target tak hanya soal "Apa/What", namun juga ada perkara "Bagaimana/How".
Terhadap dua orang karyawan yang sama-sama mencapai target produksi, atasan bisa saja cenderung memilih salah satunya sebagai calon pemimpin.
" Kalau dia sih mau belajar hal baru. Saya rotasi ke bagian lain dia mah senang aja. Nggak mengeluh. Terus nggak banyak nuntut. Sementara yang lain, belum apa-apa sudah minta tambah gaji", begitu yang pernah saya dengar dari seorang manager
Ada "What", ada "how". "What" adalah target kuantitatif, sementara "how" adalah kompetensi yang adalah target kualitatif dengan sejumlah indikator perilaku. Dalam konteks ini, kompetensi bisa dimaknai sebagai sejumlah perilaku yang mencerminkan ciri tertentu. Keterampilan komunikasi, kesediaan melayani orang lain, kemauan untuk terus melakukan perbaikann adalah sedikit contoh kompetensi itu
Bicara "What" dan "How" di atas, konsep di atas makin menarik karena tak saja relevan dalam konteks dunia kerja. Kita sungguh bisa menerapkannya dalam keseharian kita. Bahkan lebih bermanfaat kalau kita bisa mengaplikasikannya dalam konteks pribadi kita
Pengalaman keseharian bisa menegaskan itu. Yang paling aktual bagi saya belakangan ini adalah soal target saya untuk sesering mungkin khatam membaca Al Quran pada satu periode tertentu. Masih sering terjadi, saya menggunakan sistem kebut untuk mencapai target khatam itu. Alhasil, kadang berhasil. Namun tak sedikit pengorbanan saya. target jumlah halaman terpenuhi, namun gaya kerja saya, cara saya, kompetensi saya tak terasah dengan baik. Idealnya, saya melakukannya dengan bertahap dan teratur, alias dengan mengedepankan kompetensi pengelolaan waktu yang baik (time management). Jadi meski target tercapai, namun saya tak menggunakan time management yang benar.
Repotnya selalu ada dampak ketika target kita tak diselaraskan dengan kompetensi. Selalu ada korban kalau kompetensi tak menunjang pencapaian target. Di kantor, karyawan yang egois bisa tetap mencapai target pribadinya. Di pekerjaan kantoran, karyawan yang pemarah bisa tetap mencapa target yang ditetapkan. Namun pengorbanannya tak sedikit. Bisa saja suasana kerja dalam kelompok jadi terganggu dan tak harmonis
Dalam kasus saya, ada keseimbangan yang terganggu saat saya menggunakan sistem kebut. Hubungan saya dengan anak dan istri terbengkalai. Waktu bagi mereka tak optimal, karena saya sibuk sendiri mengejar target pribadi di atas. Kalau dibiarkan, ini bisa jadi cerita buruk. Memang baik bisa khatam Al Quran. Namun idealnya saya tetap bisa menjaga kehangatan hubungan dengan seisi rumah. Mengkhawatirkan juga kalau kemudian anak-anak mempersepsi baca Al Quran sebagai pembatas hubungan mereka dengan saya !
Maka semoga makin jelas bahwa ada aspek yang harus kita perhatikan dalam mengejar target kita. Ada dimensi lain di luar target kuantitatif yang kita tetapkan, yang kadang dimensi itu justru memainkan peran penting dalam jangka panjang. Kompetensi, bagaimana cara kita mengejar impian kita tak kalah penting dari target itu sendiri. Kompetensi, bagaimana cara kita bekerja ternyata adalah kaki-kaki yang menopang sukses kita.
No comments:
Post a Comment