Selamat Datang SAHABAT

Selamat datang di rumah kecil pembelajar.

Banyak persepsi, interpretasi, elaborasi dan apresiasi yang akan coba saya angkat. Awalnya, ini adalah cara saya untuk terus memberdaya diri. Dan, jika pun pada satu titik apa yang saya ungkap bermakna untuk Anda, Sahabat, maka komentar dan pandangan Anda tentu sangat berharga

Selamat Datang SAHABAT, semoga ini jadi tempat singgah yang bermakna

Mar 17, 2008

JADI NOMOR SATU by adjie

"Jadi  nomor satu itu mudah"

 

Pernyataan itupun langsung disambut senyum  oleh hampir seluruh peserta, yang jumlahnya nyaris 200 orang itu. Sebagian tersenyum bingung. Yang lain tertawa sinis tak percaya. Mungkin tak sedikit yang tak peduli, lalu menganggapnya sebuah omong kosong. Ada juga yang merengut dan memaki karena masih saja ada orang yang sombong berani berujar seperti di atas. Banyak lagi reaksi yang saya duga muncul dan diekspresikan, yang saya tak tahu apa lagi jenis ekspresi mereka

 

Yang pasti, selintas saya sempat berpikir macam-macam kala mendengar  pernyataan di atas. Yang menyampaikan itu adalah pembicara ternama Indonesia, Tung Desem Waringin. Ia tokoh yang dihormati. Sebagai pembicara dia diakui punya keahlian mumpuni. Saya dengar bisnisnyapun menggurita. Salah satunya ya bisnis menjadi pembicara itu. Namun lepas dari apapun pendapat orang terhadapnya, saya menaruh hormat pada beliau.

 

Karena ternama, maka program pelatihan yang ia jual bukanlah jenis produk yang murah. Tak semua orang bisa dengan mudah ikut programnya. Seringkali angka jutaan harus dikeluarkan untuk bisa ikut seminar dan lokakaryanya. Maka saya beruntung sekali ketika mendapat kesempatan menonton atraksinya waktu itu. Makin beruntung karena saya tak harus mengeluarkan uang alias gratis bin gretong.

 

Barangkali  seperti juga yang lain, terlintas banyak hal saat mendengar pernyataan beliau di atas.

 

" Hmmm, sombong juga Bapak ini", ini pikiran awal saya, yang dengan cepat segera saya ralat dengan sebuah permakluman.

 

" Ahh wajar saja dia sombong seperti itu.  Mungkin karena ia punya banyak buktinya. Ia bukan sombong, karena ia bicara fakta. Hanya saja tak banyak dari kita yang tak terbiasa mendengar orang berujar macam itu", ini jenis argumen lain dalam kepala saya

 

Dengan pendapatan beliau yang luar biasa dari bisnis seminarnya tentu ia bisa melakukan banyak hal. Dengan kebingungan menghabiskan uangnya, maka wajar saja ia bisa melakukan investasi di banyak hal. Sering juga ia bicara soal investasi di luar soal-soal memotivasi orang lain buat berubah. Saya pernah dengar ia berbisnis properti juga. Dengan kemudahan dan akses sebanyak itu, maka jelas wajar kalau ia bisa mendapat banyak hal. Jelas wajar jika kemudian ia bisa sukses pada definisi tertentu. Dengan kesuksesan yang mahal itu, maka wajar saja jika ia terkesan sombong. Sebenarnya ia hanya menyampaikan fakta.

 

Di luar penjelasan di balik pernyataannya tersebut, sepanjang program kami puas dan banyak terbahak mendengar penjelasan beliau. Konsep sederhana menjadi menarik di tangannya. Hal sederhana jadi berkesan saat meluncur dari mulutnya. Bicaranya semangat, membakar seisi kelas. Tak ada peserta yang sempat terpikir untuk mengantuk. Pandangan  mata fokus tertuju pada geraknya, pada kata-katanya, pada leluconnya.

 

Sekedar informasi,  saya tak hendak menjadikan momen di atas seperti tontonan lawakan biasa.  Bagi saya pembelajaran terbesar kita justru terjadi saat kita keluar dari ruang kelas seminar. Program semahal apapun tak akan banyak berarti kalau tak ada esensi yang kemudian bisa kita jalankan di luar kelas. Konsep canggih apapun tak akan banyak membantu, saat kita tak melakukan tindak lanjut. Bahkan, perubahan besar kadang memang tak membutuhkan konsep mahal dan canggih.

 

Cara Sederhana Jadi  Nomor Satu

Saya masih ingat cara dan gaya Pak Tung saat mengungkap kalimat di atas. Ekspresi yang bisa mengundang tawa orang yang hadir. Belakangan hari,  saya  bahkan tertawa sendiri mengingat pernyataannya. Kali ini tak ada lagi sinisme dan tudingan bahwa dia sombong. Kali ini tawa saya juga bukan tawa sinisme.

 

Saya  jadi sepakat bahwa menjadi nomor satu kadang memang bisa amat mudah. Contoh yang akan saya ungkap sederhana saja.  Karena hanya kesederhanaan faktuallah berani saya angkat. Karena hanya pengalaman yang nyatalah yang berani  saya bicarakan panjang lebar. Saya tidak selalu jujur. Namun mengungkapkan fakta jujur sungguh sebuah kenikmatan, sesederhana apapun  kejujuran itu.

 

Kalau tidak percaya silahkan coba sendiri.

 

Bagi Anda yang muslim, cobalah sesekali bangun lebih pagi. Bangunlah paling tidak jam 3 dini hari. Kerjakan sholat tahajud beberapa rakaat dan bacalah  Al Quran satu juz saja. Usai itu semua langkahkan kaki Anda ke mesjid terdekat, maka niscaya Anda akan menjadi orang pertama yang hadir. Niscaya Anda akan jadi nomor satu. Anda akan jadi  jamaah pertama yang hadir di masjid menunggu waktu subuh.

 

Jelas, dari contoh sederhana di atas tampak bahwa menjadi nomor satu menjadi semudah itu. Mungkin kasusnya sederhana saja. Namun Anda akan menemukan adanya prinsip generik yang sebenarnya bisa Anda aplikasikan dalam aspek kehidupan lainnya.  Salah satunya adalah niat untuk sungguh melakukan. Dalam kasus bangun pagi itu, tak semua orang bisa otomatis bangun di tengah malam atau menjelang pagi. Mungkin tak hanya soal bangun tidur yang tak otomatis. Banyak hal yang terjadi dengan satu sebab, dengan sebuah proses.  Dalam hal ini, menanamkan niat kuat untuk bangun guna mengejar waktu tahajud adalah sebuah proses awal yang penting. Beberapa  orang bahkan percaya jika ada niat yang kuat maka akan ada sebuah kekuatan yang akan mendorong kita untuk mewujudkan niat tersebut.

 

Tak berhenti niat, Andapun sungguh harus melangkah. Bisa saja Anda memang terbangun di waktu yang Anda inginkan. Namun mata terbuka saat tubuh  masih terbaring baru sebuah cikal. Kalau Anda hanya melihat jam di dinding, lalu diam lagi, maka biasanya tak lama kemudian Anda akan tertidur lagi. Ini bukan teori, karena saya seringkali melakukan kekonyolan itu. Hingga pada satu saat saya berkesimpulan bahwa bangun pagi itu sebenarnya mudah. Yang sulit adalah bangun beranjak dari atas tempat tidur. Buka mata sebentar lalu menyerah kalah dari kantuk menyerang belum menjadi prestasi dalam kerangka ini. Anda harus sungguh bangun, berdiri, berjalan ke kamar mandi, ambil wudhu atau sekedar  basuh muka sementara.

Benar, godaan untuk melakukan hal seperti di atas memang tak sedikit. Melawan kantuk adalah salah satunya. Belum lagi suasana senyap yang kadang  membuat sebagian kita tak nyaman bahkan gelisah. Berada dalam kesunyian tak semua suka. Maka untuk lari dari itu semua, sebagian dari kita kembali cepat ke tempat tidur.  Dalam pengalaman saya, biasanya rasa sesal akan bertumpuk saat kita bangun di esok paginya. Jelas niat saja tak cukup. Bergerak melangkahpun harus didasari oleh semangat kuat untuk melawan godaan. Persistensi kita dibutuhkan, bahkan buat hal yang tampaknya sederhana saja.

 

Menerapkan Konsep Sederhana

Berkaca dari pengalaman sederhana itu saya makin meyakini beberapa konsep yang bisa membantu kita mendapatkan apa yang kita mau. Berkaca pada pengalamanlah pada pengalaman pribadi  Anda, maka akan Anda temukam banyak hal sejenis dan bahkan lebih kaya. Anda pasti pernah memiliki pengalaman sukses, sekecil apapun itu. Ini menjadi tanda bahwa pernah ada sejarah sukses dalam kisah kita. Artinya ada jejak sukses dalam syaraf kepala kita. Masalah kita adalah karena kita tak pernah mengapresiasinya selama ini. kita demikian sibuk hingga jadi kejam pada diri sendiri. Kita lupa  pada kisah positif pengalaman kita dan hanya fokus pada banyak kekurangan yang ada. Alhasil, kita tumbuh jadi pribadi yang kurang percaya diri.

 

Untuk menegaskan pengalaman di atas, saya teringat lagi bagaimana sepak terjang  Pak  Tung sejak muda. Kalau dia pernah jadi juara lomba karya tulis, maka sayapun pernah jadi juara  ke 3 untuk satu lomba karya tulis di fakultas dulu. Mirip kisah beliau, saya bisa jadi juara ke tiga bukan karena kehebatan karya saya. Saya juara ke tiga karena pesertanya waktu itu memang hanya tiga !

 

Karya ilmiah saya memang tidak hebat. Namun saya belajar lagi dari kejadian macam ini tentang betapa mudahnya menjadi juara, walau hanya juara ke tiga. Asal Anda mau dan punya niat, lalu melangkah dan  bertahan terhadap godaan untuk berhenti, maka Anda akan sampai di  tangga juara yang Anda idamkan. Lagi, ini kisah sederhana dan konyol. Namun tetap ada semangat yang sama dengan contoh saya sebelumnya.

 

Selaras dengan pandangan saya bahwa hidup kadang begitu sederhana, maka sebenarnya banyak konsep dan kiat sederhana  yang bisa mengantar Anda menjadi nomor satu. Jikapun Anda merasa tak puas dengan konsep sederhana yang ada, Anda masih bisa mencari banyak konsep canggih di toko buku. Kalau Anda punya uang lebih, Anda bisa mendapatkan banyak formula lebih mendalam dari training-training yang harganya jutaan. Pendek kata, kalau Anda mencari konsep, maka ada banyak sekali di pasaran. Mulai dari yang gratis sampai yang berbayar.

 

Hanya saja tantangan kita bukan lagi pada pencarian akan konsep dan formula. Menurut saya, masalah besar kita lebih pada tindakan. Konsep mudah di dapat. Formula mudah dibeli. Saya pernah mendapatkan banyak konsep hebat dengan gratis. Begitu juga saat punya uang, saya membeli formula luar biasa yang harganya mahal. Namun usai transaksi di atas, hari-hari ini saya berkaca bahwa konsep dan formula itu banyak yang tak terpakai. Mereka lebih sering jadi penghiasa lemari pamer dalam kepala saya. Ia lebih sering memenuhi ingatan saya, yang sayangnya tak banyak saya ingat saat itu dibutuhkan. Konsep dan formula sukses yang ada dalam kepala saya akhirnya justru menjadi pencetus rasa bersalah. Benar, saat sadar saya tahu banyak  hal, saya justru makin malu karena saya tak mendapatkan banyak hal yang sebenarnya bisa dicapai bermodalkan  pengetahuan itu.

 

Pengetahuan memang tak dengan sendirinya menjadikan Anda sukses. Sama seperti sekedar membaca buku, ikut banyak pelatihanpun bisa tak mengantar Anda kemana-mana. Baca buku dan ikut seminar memang menyenangkan, dan sering mencerahkan. Namun pengetahuan dan pencerahan tak punya kaki sendiri, yang bisa mengantar Anda pada apa yang Anda mau. Pengetahuan dan pencerahan memang jadi modal berguna, terutama saat Anda menggerakkan kaki dan tangan Anda.

 

Saat Anda bertindaklah, modal yang ada bisa kemudian sungguh bermanfaat. Modal yang ada memang akan jadi referensi, yang bisa Anda buka saat terbentur masalah. Teori, formula dan pencerahan memang akan jadi sumber rujukan saat Anda bingung menghadapi masalah di tengah perjalanan Anda menuju sukses. Maka bergeraklah yang sungguh akan menggerakkan Anda. Gerakan jiwa dan raga Anda, maka perlahan Anda akan semakin dekat pada tujuan.

 

Ketika tersadar pada gerakan-gerakan yang mengantar kita pada tujuan, maka saya percaya bahwa kita  justru akan  bertemu dengan konsep dan formula yang sebenarnya sederhana sekali. Gerak dan berubah, itulah konsep sederhana itu. Sembarang gerak memang  tak selalu efektif. Sembarang berubah tak selalu mengantar Anda pada tujuan yang dimau. Sembarang gerak dan perubahan mungkin membuat Anda butuh waktu lebih lama untuk mencapai sasaran. Namun hanya gerak dan perubahanlah  yang sungguh akan memindahkan Anda dari fakta hari ini.  Hari esok Anda akan berubah hanya jika kita merubah apa yang ada hari ini. Gerak kita hari ini bisa membentuk hari esok kita.

 

Masih relevan dengan coretan ini, saya juga hendak tegaskan bahwa Anda kadang harus berhenti membaca teori hari ini juga. Kadang berhenti ikut pelatihan ada  baiknya. Cobalah duduk tenang, ingat dan lihat ke belakang, mencari tahu apa saja konsep dan teori yang sudah Anda punya. Lalu buka mata dan lihat kenyataan hari ini. Akhiri dengan bertanya pada diri sendiri : sudahkah Anda memanfaatkan semua yang Anda tahu ?

 

Pengetahuan adalah kekuatan. Knowledge is Power.  Namun kekuatan itu baru ada jika Anda memanfaatkannya. Kalau konsep dan teori yang Anda punya didiamkan, maka ia  baru sekedari potensi. Ia akan aktuali hanya jika kita memanfaatkannya.

 

Sejalan dengan anjuran di atas, maka coretan ini saya hentikan dulu di sini. Masih banyak yang hendak saya ungkap. Namun saya harus adil pada Anda. Anda harus segera berhenti. Kini waktu Anda untuk bergerak.

 

Jadi, silahkan take action !

 

Ingat juga bahwa untuk jadi nomor satu ternyata tak sesulit yang dikhawatirkan. Untuk menjadi yang terdepan ternyata bisa mudah saja

No comments: