Selamat Datang SAHABAT

Selamat datang di rumah kecil pembelajar.

Banyak persepsi, interpretasi, elaborasi dan apresiasi yang akan coba saya angkat. Awalnya, ini adalah cara saya untuk terus memberdaya diri. Dan, jika pun pada satu titik apa yang saya ungkap bermakna untuk Anda, Sahabat, maka komentar dan pandangan Anda tentu sangat berharga

Selamat Datang SAHABAT, semoga ini jadi tempat singgah yang bermakna

Mar 10, 2008

(Motivasi) Choices and Job Security by adjie

 

Pemahaman Dasar

Sepanjang pengalaman saya sebagai praktisi SDM, salah satu isu penting dan terus menarik di dunia kerja adalah soal job security.  Bagaiamana Anda mendefinisikan konsep ini ? Yang pasti, secara sederhana saya memaknainya sebagai perasaan aman yang ditimbulkan oleh keberadaan pekerjaan kita. Ini soal pekerjaan. Semakin yakin bahwa pekerjaan tertentu terus ada, maka sebagian orang akan merasa aman secara psikologis. 

 

Tak cukup sampai di sana, ada juga sebagian yang lain yang mendefinisikan job security sebagai  sejauh mana orang yang bersangkutan akan terus bisa dipekerjakan di sebuah perusahaan. Sampai di sini barulah makin terasa bahwa mungkin ada yang tak pas dari cara pandang kita. Meskipun banyak telaah yang menyebut bahwa jenis pekerjaan akan banyak berkurang, namun saya pribadi melihat bahwa perkembangannya di beberapa perusahaan di Indonesia tidaklah secepat di banyak tempat lain di dunia.  Memang alih daya (outsourcing) sudah mulai singgah di beberapa jenis industri, namun masih banyak pekerjaan penting yang akan bertahan. Dan ini  kita bahas dalam tulisan lain. Yang hendak saya eksplorasi adalah soal yang lain.

 

Yang saya maksud tidak pas itu adalah harapan atau tuntutan yang berlebihan dari kita sebagai pekerja. Pekerjaan akan tetap ada tergantung pada sejauh mana arti penting pekerjaan itu dalam memastikan pencapaian target perusahaan. Jika peran atau tugas tertentu tak lagi krusial, maka restrukturisasi dan pembenahan akan terjadi. Selaras dengan itu, maka wajar bahwa  keberadaan kita sebagai pekerja juga berbanding lurus dengan sejauh mana kita bisa memberi makna bagi perusahaan. Kalau anda optimum menjalankan peran Anda, mungkin Anda akan jadi orang paling akhir yang akan dikeluarkan.

 

Sebaliknya, jika Anda kurang optimal menjalankan peran di pekerjaan, maka sangat mungkin Anda akan jadi orang pertama yang akan mendapat surat PHK. Kita tentu tak ingin ini, namun realita bisa amat berbeda dengan harapan dan ketakutan kita.

 

Faktor Terkait

Dengan gambaran demikian, maka bisa dipahami bahwa job secuity kemudian menjadi penting bagi karyawan karena kemudian dipersepsikan berhubungan dengan banyak hal. Job security bisa dimaknai berhubungan dengan keamanan psikologis. Ia menyangkut harga diri buat sebagian orang. Tak memiliki pekerjaan tetap dan jelas membuat banyak orang yang jadi rendah diri dan kurang menghargai diri sendiri. Mereka malu berinteraksi dengan orang lain dan enggan menunjukkan siapa dirinya. Kehilangan pekerjaan bisa mengarah pada rusaknya identitas diri.

 

Tak saja terkait dengan keamanan psikologis, pada sebagian besar realita keseharian kita, job security bahkan adalah soal keamanan finansial. Jelas sekali logika yang digunakan.  Pekerjaanlah yang jadi sumber pendapatan. Kehilangan pekerjaan bermakna putusnya jalan mendapatkan penghasilan. Maka ia akan berdampak langsung terhadap kondisi keuangan. Dan banyak lagi turunannya.

 

Job security juga perlu jadi perhatian pengusaha yang diwakili para petinggi perusahaan. Pada banyak keadaan, rendahnya rasa aman di tempat kerja membuat banyak pekerja cemas dan tak tenang dalam bekerja. Bisa dibayangkan hasil apa yang bisa diberikan saat seseorang bekerja  tak dengan totalitas. Kinerja yang memburuk pada akhirnya mempengaruhi sejauh mana perusahaan mampu mencapai tujuannya.

 

Maka banyak program direkomendasikan. Semua mengarah pada upaya peningkatan motivasi agar karyawan terus bisa mempertahakan kinerja unggul. Program lain adalah usaha retensi, upaya untuk mempertahankan karyawan yang dianggap baik. Rendahnya rasa aman di pekerjaan mendorong banyak orang  untuk menengok tetangga sebelah. Di keterbukaan  masa kini, informasi begitu mudah diakses. Dan ini berdampak pada perputaran dalam dunia kerja. Perpindahan seseorang dari satu tempat kerja ke tempat lain berlangsung cepat. Ada yang mencari tantangan baru, ada yang sekedar mengejar rasa aman itu. Maka bekerja di BUMN atau menjadi pegawai negeri adalah pilihan utama buat sebagian orang

 

Terkait dengan konsepsi dan persepsi tentang job security itu, saya tertarik mengutip pernyataan salah seorang senior manager di sebuah perusahaan yang  pernah berujar :

 

" Job security tergantung pada karyawan itu sendiri. Itu terkait dengan choices yang ada". Panjang kalimat yang ia angkat untuk mengelaborasi gagasannya. Dan saya sempat mengangguk sepakat dengan thesis yang ia ajukan. Saya teringat pada banyak konsep besar seputar employability. Tentu kesadaran dan pengetahuan akan banyak konsep belum tentu menenangkan banyak orang. Ia bisa jadi tak akan cukup mampu menekan ketakutan yang membelenggu.  Namun begitu, konsep dan pemahaman yang kita miliki akan menjadi semacam katalog yang akan membantu kita menentukan langkah lebih jauh.

 

Kembali ke soal thesis di atas. Benar bahwa job security  berpulang pada pribadi masing-masing. Ia bisa amat subyektif, walau sebagian orang pintar yang saya kenal pernah amat tak setuju dengan  gagasan ini.  Mereka tak setuju pada soal employability dan mengharap perusahaan melakukan banyak hal untuk menyelamatkan pekerjaan mereka, alias pada akhirnya menyelematakan kehidupan karir mereka. Pada titik ini,  banyak di antara kita yang lupa bahwa ada beda antara logika  pengusaha dan pekerja. Logika pengusaha adalah cari untung. Mind set inilah yang kemudian jadi panduan utama dalam menggerakkan organisasi. Yang tidak efektif harus menyingkir. Yang kurang efisien harap minggir !

 

Sedemikian subyektif pemaknaan seseorang akan job security, sehingga ada banyak telaah yang bisa jadi sangat personal sifatnya. Namun demikian, masih menggunakan thesis di atas, saya sepakat bahwa banyak diantara kita yang kurang menghargai diri sendiri. (mungkin termasuk saya). Konkritnya, kita kurang mengapresiasi potensi yang kita miliki. Banyak kapasitas pribadi kita  yang tidak kita utilisasi. Alhasil kita bekerja hanya dengan kemampuan yang serba minim. Potensi banyak tak teraktulisasi.

 

Karena kapasitas tak dimaksimalkan dan potensi kurang dimanfaatkan maka seperti juga pada usaha penguatan otot fisik, kemampuan kita pun tak terasah. Otot mental kita tak berkembang. Ketrampilan kita tak teruji. Yang semuanya itu kemudian merangsang munculnya persepsi akan kemampuan diri.  Banyak di antara kita yang percaya bahwa kenyataan hari ini adalah gambaran kemampuan terbaik kita.  Padahal tidak. Banyak di antara kita yang tak mengasah  gergaji dengan baik. Banyak di antara kita yang kurang mau memperbaiki diri

 

Rasa rendah diri, persepsi akan keterbatasan diri kemudian membuat kita sempit dalam melihat sesuatu. Bisa jadi, kita kemudian memang menjadi kehilangan banyak pilihan. Karena hanya  memiliki palu, maka segala sesuatu kita pandang dengan kaca mata tukang pukul. Semua yang ada kita lihat sebagai paku. Cara pandang kita terbatas, pilihan kita menyempit.

 

Memperbanyak Pilihan

Pada titik inilah isu ini jadi makin krusial. Ada benarnya jika dikatakan bahwa persepsi  akan terbatasnya pilihan, selaras dengan tingkat security kita. Makin banyak pilihan maka akan makin baik  (anak kecil juga tahu). Dengan begitu, tantangannya adalah :  Bagaimana memperbanyak pilihan itu ?

 

Menjawab ini saya berpikir bahwa mungkin tak cukup bagi kita hanya melihat keluar semata. Banyak di antara kita yang memang terjebak hanya mencari pilihan-pilihan di luar sana. Sayangnya ini tak selalu efektif. Bahkan bisa jadi yang lebih penting justru melihat ke dalam. Menyelam ke dalamlah cara terbaik menemukan mutiara di dasar samudra. Bukan mencari pilihan di luar sana yang harusnya terus dilakukan. Menyelam ke samudra jiwa bisa jadi akan membantu kita  menciptakan pilihan. Pemahaman akan dunia dalam kita, akan  membantu kita dalam menyikapi realita dunia luar. Pemahaman akan kapasitas terdalam akan membantu kita menyikapi tuntutan dunia luar.

 

Maka jelas, kita perlu melakukan introspeksi , melihat ke dalam yang bisa berarti kesediaan untuk mendapatkan informasi yang akan mengubah pemahaman. Koreksi diri, mencari tahu siapa diri ini, semuanya bermakna belajar di tingkat kognisi. Mencari tahu kekuatan dan kelemahan diri adalah jenis penggalian ke dasar kemanusiaan kita, yang kemudian bermakna belajar di tingkat emosional dan spiritual, karena menyentuh wilayah identitas diri di

 

Maka kalau di bagian sebelumnya saya sempat menyinggung gagasan employability sebagai cara menyikapi isu job security, maka makin tegas dan jelas bahwa memperbaiki kesalahan serta terus belajar adalah kata kunci nya.

 

Tak perlu ada kata penutup berisi nasehat bagi Anda, karena ini juga menjadi bagian penting untuk mengingatkan diri saya sendiri.

 

No comments: