Dari target menjadi standard, sebuah konsep yang sederhana saja bukan ?
Bahkan banyak kita yang mungkin sudah tahu atau pernah mendengar. Yang pernah tahu dan mendengar, mungkin ada yang lalu mencoba membaca realita di luar sana dengan menggunakan kaca mata tersebut. Biasanya menjadi pengalaman menarik saat kita coba membaca kenyataan dengan sebuah kerangka yang baru saja kita pahami. Tambah menarik ketika kita jadi tersadar akan warna-warni dinamika yang ada, yang kadang ada juga yang melenceng dari teori yang kita pahami. Namun tak mengapa, kenyataan seperti itulah yang kemudian mendorong usaha eksplorasi dan penemuan lebih lanjut, yang dengannya kemudian dunia kita menjadi lebih maju dan makin baik
Saya sendiri pernah bingung saat pertama mendengar konsep di atas. Sayangnya, saat itu tak ada banyak kesempatan yang bisa saya manfaatkan untuk bertanya dan mengeksplorasi lebih dalam. Pengalaman sederhana itu tertinggal begitu saja dalam bawah sadar saya. Beruntung, pengalaman itu tak lepas dan hilang. Makin beruntung ketika saya menemukan beberapa titik persinggungan dengan sejumlah pengalaman lain.
Saya ingat, pernah bingung dalam menetapkan target. Pada tahun tertentu dalam peran saya sebagai karyawan , saya pernah memasang target untuk bisa melakukan semacam sharing session di kantor. Kegiatan sederhana ini adalah ajang berbagi informasi baru dari karyawan untuk karyawan. Saya coba mendorong kawan-kawan untuk juga berani bicara di muka umum, berbekal informasi baru yang mungkin mereka peroleh usai mengikuti seminar atau pelatihan di luar kantor.
Setelah berhitung kemungkinan dan akses yang saya punya, lalu saya pasang target kuantitaif. Singkat cerita, karena sudah mengantisipasi kemungkinan yang kelak terjadi, termasuk kendala yang bisa muncul, maka target di atas bisa saya capai dengan relatif mudah. Bahkan lebih dari yang ditetapkan di awal, saya berhasil memfasilitasi sehingga pencapaian melebihi rencana awal.
Ada kegembiraan, banyak kawan yang mengapresiasi kesempatan macam itu. Banyak yang senang karena berkesempatan berbagi dan kadang bicara hal-hal personal secara lebih lepas. Saya juga gembira karena berhasil mencapai salah satu target, walau diam-diam ada sedikit tanya : "jangan-jangan, target saya terlalu rendah dan tidak memenuhi kaidah challenging SMART target ?".
Namun kegembiraan di atas sebentar saja usianya. Kebingungan sempat muncul waktu itu, terutama saat saya hendak menyusun target kinerja untuk tahun berikutnya. Kalau saya menetapkan target yang sama, maka tantangannya menjadi terasa makin berat. Dari sisi topik bahasan, saya belum menemukan topik-topik baru yang menarik dan bisa disajikan lintas departement. Saya menghindari topik-topik yang terlalu spesifik dan hanya cocok sebagai konsumsi karyawan dari satu departemen tertentu saja. Karena ambisinya adalah juga memberi ruang silaturahmi yang melibatkan karyawan lintas department, maka pemilihan topik memang jadi isu penting.
Khawatir pengulangan topik akan menciptakan "kegaringan" tertentu, maka saya memutuskan untuk membatalkan memasang target sharing session sebagai sasaran kinerja saya. Dengan sejumlah pertimbangan, saya menetapkan sasaran lain. Sharing session dihilangkan dari daftar berganti target kinerja yang lain
Mengganti satu target dengan target yang lain memang bisa dianggap wajar saja. Namun menjadi aneh jika Anda tak punya argumen kuat yang jadi dasar perubahan yang Anda lakukan. Mengapa harus mengubah satu target ? Bukankah masih bisa dimodifikasi ?
Saya lalu sempat teringat seorang kawan yang sering mengirim tulisan yang pesan besarnya adalah : " there is always a room for improvement". Selalu ada ruang dan kesempatan untuk sebuah usaha perbaikan.
Sayangnya, saat coba menerapkan konsep di atas dalam konteks sasaran kinerja saya, saya masih menemukan kebingungan. Apanya lagi yang bisa saya tingkatkan ? Kalau bicara sharing session, saya sempat menganggap bahwa sisi kualitas menjadi aspek yang masih sulit dikelola. Saya tak bisa menuntut banyak agar para pengisi materi, yang adalah karyawan biasa, untuk menjadi sehebat trainer di luar sana. Benar adanya jika sharing sesion memang hendak dijadikan ajang berlatih berbicara di muka umum. Namun belum pada tempatnya untuk kemudian menjadikannya sebagai ajang untuk menggodok karyawan agar mampu menjadi trainer handal. Bukan di sana sasaran saya. Maka dengan argumen demikian, saya kehilangan jejak saat mencari ruang improvement bagi program sharing session tersebut
Itu baru satu contoh. Contoh lain di luar konteks kantor, saat coretan ini saya buat, saya juga tengah mengkaji ulang target-target lama saya dan merancang sasaran baru untuk masa yang akan datang. Salah satu yang menjadi perhatian adalah target saya untuk lebih banyak berinteraksi dengan Al Quran. Target awal adalah khatam AL QURAN . Ketika target khatam sudah bisa dilampaui maka target berikut yang saya kejar adalah untuk lebih sering khatam AL QURAN . Bukan sekali seumur hidup, atau sekali dalam satu tahun. Khatam 6 kali dalam satu tahun adalah target moderat untuk saya yang memang tengah belajar mengeja dan masih terbata. Dalam dua bulan, saya masih yakin untuk bisa menuntaskan satu mushaf tersebut.
Dan kita tak sedang bicara kualitas bacaan saya. Juga bukan sedang membahas kemampuan saya memahami bacaan tersebut. Saya masih harus belajar dari nol untuk memahami teks dan konteks AL QURAN . Ilmu tafsir saya nol besar. Paling jauh, sementara ini yang bisa saya lakukan adalah juga membaca terjemah AL QURAN .
Terkait dengan khatam AL QURAN tersebut, saya sebenarnya masih melihat bahwa khatam tiap bulan adalah sesuatu yang tak terlalu muluk. Secara konsep mudah saja tekniknya. Masuk akal dan rasional untuk bisa tuntas membaca AL QURAN tiap bulannya. 4 halaman tiap usai shalat fardhu tentu akan menjamin pencapaian target tersebut.
Yang jadi isu dalam konteks sekarang ini adalah menjadikan target yang ada untuk perlahan bermetamorfosis menjadi sebuah standar. Ini yang tengah saya upayakan dalam beberapa segi kehidupan saya. Saya belajar dan tak mau melakukan kesalahan yang sama, di mana saya sempat kehilangan jejak. Sharing session yang saya anggap baik sekarang ini jadi sulit lagi untuk saya mulai. Memang memulai lagi sesuatu yang baru butuh energi lebih banyak. Bahkan hendak memulai sesuatu yang pernah kita lakukan pun ternyata butuh kekuatan dan daya dorong khusus.
Jadi terkait dengan target meningkatkan interaksi dengan AL QURAN , saya tak ingin mengalami kesulitan untuk memulai dari awal. Salah satu yang kemudian saya anggap menarik dijajaki adalah justru menjadikan aktivitas membaca AL QURAN , yang awalnya adalah dalam rangka mengejar target khatam, kini diubah menjadi sebuah standar. Spesifiknya, aktivitas harian atau reguler yang sudah dijalankan dalam mengejar target khatam kini diubah menjadi standar reguler.
Ada beda antara standar dan target. Pemahaman sederhana saya, target lebih bicara hasil akhir. Kalau Anda pasang target untuk khatam tiap bulan, maka fokusnya lebih banyak pada apakah pada akhir bulan Anda sungguh sudah mencapai target tersebut. Dan ketika itu, Anda tak banyak bicara prosesnya. Bisa saja Anda tak konsisten membaca secara reguler. Bisa saja ada hari dimana Anda sama sekali tak menyentuh AL QURAN . Lalu ada hari lain di mana Anda akan habis-habisan tergopoh membaca berlembar-lembar AL QURAN demi membayar hutang atas hari-hari yang tanpa AL QURAN
Sementara jika bicara standar, maka saya hendak fokus pada aktivitasnya, bukan pada hasil akhirnya. Jika untuk khatam tiap dua bulan, saya lalu memutuskan untuk membaca 10 halaman setiap usai sholat Subuh, maka aktivitas harian usai Subuh itulah yang kemudian paling mungkin dijadikan standarnya. Dengan logika sederhana, jika standard tersebut saya jalankan, jika tiap Subuh saya sungguh disiplin membaca AL QURAN , maka dipastikan tiap dua bulan saya akan khatam AL QURAN .
Jika standarnya dijalankan, jika prosesnya benar, maka bisa diduga bahwa hasil akhirnya pun akan sesuai harapan. Mudah-mudahan jadi jelas beda antara standar dan target
Dengan menggunakan kerangka ini, barulah saya makin menyadari pernyataan kawan yang saya singgung di atas, yang menyebut bahwa selalu ada ruang untuk sebuah usaha perbaikan. Dalam konteks interaksi dengan AL QURAN , maka gambar besar yang bisa dipakai adalah melihatnya dalam konteks memperbaiki kualitas diri dalam peran sebagai muslim. Dengan begitu, ruang improvement yang tersedia bisa dijadikan target baru. Kalau membaca 10 halaman usai Subuh sudah jadi standar, maka yang bisa dijadikan target baru adalah membaca terjemah AL QURAN itu sendiri.
Kalau pada satu waktu standar harian 10 halaman usai Subuh sudah dijalankan dengan baik, juga begitu dengan membaca terjemahnya, maka kelak target lain yang bisa dimunculkan misalnya adalah mendalami tafsir AL QURAN dengan bimbingan guru khusus. Begitulah seterusnya. Jadi jelas, bahwa ada ruang perbaikan yang selalu terbuka untuk di masuki. Standard bisa terus ditingkatkan agar target-target baru bisa dirancang sebagai sebuah usaha untuk terus memperbaiki diri. Dengan begitu, semoga kita tak kehabisan akal dan bingung dengan pertanyaan : " habis ini mau kemana ? atau apalagi setelah ini ?"
Walau demikian, saya hendak tegaskan ulang tentang pentingnya kesadaran untuk melihat dalam kerangka lebih besar. Berangkat dan bergerak dari kerangka lebih besar bisa mengantar kita membangun rumah sasaran yang lebih terstruktur. Melihat dalam kerangka lebih besar bisa membantu siapapun memahami keterkaitan satu hal dengan yang lain, melihat hubungan satu target dengan target lain. Dengan menyadari keterkaitan yang ada, maka sejatinya kita bisa memulai dengan lebih sistematis. Memahami gambar besar akan memudahkan kita mengambil dan menyusun kepingan puzzle secara lebih efektif.
No comments:
Post a Comment