Menjadi Terbaik
Menjadi yang terbaik, menjadi sempurna dalam ukuran subyektif kita tentu menjadi salah satu cita-cita sebagian individu. Lalu mereka berupaya menyusun strategi untuk mengejar yang mereka mau. Cita-cita dirancang lengkap dengan rencana-rencana kecil yang bisa membantunya mendekatkan jarak dengan apa yang sungguh diinginkan. Jadi bersyukurlah jika Anda sudah memiliki cita-cita lengkap dengan aktivitas penunjangnya.
Soalnya kadang banyak dari kita tak sungguh menyadari dinamika yang bisa muncul dan ada dalam perjalanan kita menuju apa yang kita mau. Banyak di antara kita yang lupa ada banyak hal yang bisa terjadi saat kita mengejar cita-cita. Tak sedikit di antara kita yang terjebak hanya melihat gambar diri hari ini dan pesona gambar masa depan yang diidamkan. Tak salah memiliki gambaran utuh masa depan yang diimpikan. Bahkan banyak guru sukses memang menganjurkan agar kita bisa membuat gambaran yang detil dan berwarna akan tujuan-tujuan kita. Semakin detil dan berwarna maka semakin besar peluang kita untuk bisa meraihnya. Semakin berwarna dan nyata cita-cita kita maka usaha kita akan mendapatkan energi tak saja dari kesadaran kita, namun juga ada dorongan bawah sadar yang diyakini punya kekuatan luar biasa.
Namun melupakan dinamika yang membatasi realita dengan harapan, bisa sungguh membuat orang justru terkejut dan akhirnya frustrasi. Cita-cita setinggi langit bisa membuat langit dunia ANda justru runtuh, karena Anda takut sendiri dan bingung hendak mulai dari mana. Akhirnya seperti pungguk merindukan bulan. Cita-cita sejuta bintang bisa justru menggelapkan dunia subyektif Anda. Akhirnya cita-cita berhenti jadi khayal. Maka sasaran yang SMART (SMART Goals) sungguh menjadi hal penting. Maka keluar dari jebakan kesempurnaan juga hal mendasar.
Menimbang cita-cita Anda dengan kerangka SMART akan membantu kita untuk tak sekedar punya tujuan yang konkrit dan spesifik. Ada isu apakah sasaran yang kita buat masih masuk akal dengan mempertimbangkan sumber daya yang ada pada kita saat itu. SMART goal akan membantu kita untuk merancang sasaran yang kemungkinan berhasilnya makin tinggi. Bukan target yang mudah, tapi juga tak menjebak kita dengan tujuan-tujuan setinggi langit yang melelahkan mental. Ukuran realistis memang bisa sangat subyektif, maka meneliti sasaran yang ada memang usaha yang serius.
Selaras dengan gagasan untuk punya sasaran yang realistis dan sekaligus keluar dari jebakan kesempurnaan, saya ingat pesan banyak penulis berpengalaman yang menegaskan agar kita tak terjebak untuk langsung ingin punya karya masterpiece yang luar biasa. Wajar jika punya harapan seperti itu, namun tak semua kita memiliki sumber daya luar biasa yang bisa dengan cepat membantunya mencipta karya menakjubkan.
Memilih Jalan Sendiri
Sebagian besar orang memang perlu mengikuti tahapan untuk kemudian menjadi lebih baik dan makin baik. Saya juga coba terus mengingat prinsip sederhana ini.
Sebagai contoh, saya juga pernah memiliki ambisi untuk bisa menulis buku karya. Namun pada saat yang sama, saya juga sadar kapasitas yang ada waktu itu. Maka terpaku untuk segera punya buku sendiri justru akan melemahkan saya. Maka salah satu yang realistis pada saat awal adalah berguru pada sejumlah kawan. Bergabung dengan komunitas menulis menjadi pilihan utama. Tak berhenti jadi pengamat, maka Anda harus sungguh mulai terlibat. Saya pun belajar memberanikan diri untuk mengirim tulisan. Jangan tanya soal kualitas, karena hingga hari ini coretan saya pasti perlu terus diperbaiki.
Namun berlatih itu sendiri adalah tujuan penting yang akan jadi fondasi bagi lompatan berikutnya. Saya tak focus pada kualitas. Waktu itu target saya lebih pada kuantitas. Maka rencana hariannya adalah tiada hari tanpa menulis. Saya pernah MEMAKSA diri untuk bisa menulis minimal satu tulisan tiap hari. Tak peduli pada topic dan gaya tulisan. Yang penting adalah mulai menulis dan mengasak keterampilan. Saya sempat menjadikan aktivitas itu menjadi semacam stretching di pagi hari. Menulis adalah peregangan bagi mental saya dan saya menyukainya. Maka pernah ada satu masa dimana saya bisa membuat 3 tulisan di tengah kesibukan saya sebagai pekerja. Sayangnya, itu berarti kadang saya mengambil waktu kerja saya di kantor. Walau memang kemudian saya juga coba mengkompensasinya dengan berada di kantor lebih lama, tidak selalu pulang tenggo, pulang lebih malam dari karyawan lain.
Pengalaman sederhana saya ikut membuktikan bahwa keinginan kuat kadang ikut membuka banyak pintu kesempatan yang tak terduga. Saya lalu terhubung dengan sejumlah kawan yang punya minat sama. Kami juga terhubung dengan Pak SB yang sangat supportif, yang lalu mengeluarkan banyak waktu dan biaya untuk mendukung kami yang sedang belajar di sekolah kehidupan. Kebaikan hatinyalah yang kemudian memungkinkan kami pada akhirnya bisa memiliki buku berisi kumpulan tulisan. Buku keroyokan pun sudah diterbitkan. Dan ini jadi kabar gembira banyak murid seperti saya, yang juga butuh untuk makin menguatkan rasa percaya diri. Saya percaya, jika jalan ini diteruskan maka buku yang diidamkan tentu tak perlu terlalu lama ditunggu.
Proses di atas memberi saya penegasan betapa saya tak boleh terjebak dengan ilusi kesempurnaan di masa awal saya belajar.
Itu pula yang saya terapkan dalam aspek lain kehidupan saya sebagai Muslim. Salah satu kebahagiaan jika saya berhasil khatam membaca Al Quran. Terus terang ini pernah menjadi sekedar impian kosong di siang bolong. Saya gagap mengeja huruf Arab. Aturan dalam membaca Al Quran juga tak saya tahu. Namun itu bukan alasan untuk tak mengejar impian bisa khatam Al Quran. Apalagi ketika di usia saya yang menua itu saya belum pernah sekalipun melakukannya.
Dari yang sangat jarang menyentuh Al Quran saya bergerak mengejar impian untuk khatam pertama kali. Singkat cerita saya butuh waktu hamper 6 bulan sejak saya tegaskan niat saya pada awalnya. Sadar bahwa saya berhasil khatam untuk pertama kali, maka target di naikkan : saya ingin khatam dalam waktu lebih singkat. Seingat saya khatam ke dua menghabiskan waktu tak sampai 3 bulan. Maka impian untuk bisa khatam lebih sering makin membumbung.
Banyak kawan yang bisa khatam setiap bulan. Dan ketika tiba bulan Ramadhan, makin banyak lagi kaum muslim yang berambisi khatam dalam satu bulan itu. Saya juga begitu. Tapi saya tak bisa langsung berlari sebelum kokoh saya berdiri. Khatam dalam satu bulan masih terlalu berat, bahkan ketika hitungan rasional di atas kertas menunjukkan bahwa itu adalah pekerjaan realistis. 4 halaman setiap habis sholat wajib pasti mengantar siapapun khatam dalam satu bulan. Namun kenyataannya, saya tak bisa melakukan itu. Maka belakangan hari target saya adalah tiap dua bulan khatam. Dengan begitu satu tahun bisa 6 kali khatam. Setelahnya ada ambisi agar bisa makin sering saya khatam
Ketika saya coba disiplin mengejar target untuk khatam tiap 2 bulan, pernah satu waktu istri saya menghampiri saya yang sedang ngebut membaca AL Quran. Kebetulan istri saya sempat berguru cara membaca Al Quran yang baik dengan tartil, dengan mempertimbangkan tanda baca dan aturan lainnya. Salah tanda baca, salah baca bisa bermakna lain. Itulah keunikan Al Quran
" Mas, kalau ketahuan Ibu guru ngajiku, bisa dimarahin tuh", ujar istri saya yang coba mengingatkan saya untuk tertib mengikuti tanda baca yang ada
" Ah biarin aja. Aku gak peduli", jawab saya pendek waktu itu.
Bukan saya tak membenarkan aturan yang ada. Ingin suatu saat untuk sungguh membaca dengan baik, dengan tartil. Tapi target saya yang terdekat adalah soal kuantitas. Dan karenanya saya tak pedulikan dulu soal kualitas. Bagi saya target-target kuantitatif yang saya rancang adalah dasar penting. Pencapaian target yang ada akan membantu saya memperkuat percaya diri. Setelah itu baru perlahan saya memikirkan kualitas.
Toh saya juga sadar bahwa membaca saja tak cukup. Sekedar khatam juga bukan yang utama. Yang terpenting adalah memahami dan menjalankan. Artinya suatu saat saya harus belajar mulai untuk mendalami makna yang saya baca dan tak hanya ngebut kejar setoran. Walau belum tentu yang paling baik, saya sudah merancang tahapan belajar buat saya sendiri. Dan saya yakin itu adalah tahapan dan pola yang sejauh ini efektif buat saya
Pada sisi lain, saya juga yakin bahwa Allah tak akan murka pada orang yang sedang belajar mengeja seperti saya. Allah tentu tahu bahwa saya memang perlu mengeja terlebih dahulu. Allah juga tak mau menjebak umatnya dengan ilusi kesempurnaan, yang menyebabkan ketakutan dan frustrasi, yang pada akhirnya justru membuat banyak orang tak memulai langkah sama sekali.
Ini menurut saya lho.
No comments:
Post a Comment