Tentang prioritas sendiri barangkali sudah amat jelas bagi Anda. Prioritas tentu adalah sesuatu yang jadi urutan awal yang akan Anda tindak lanjuti. Ia bisa menjadi referensi utama yang menggerakan Anda melakukan satu tindakan. Prioritas adalah apa yang segera ingin Anda tuntaskan. Prioritaslah yang membantu Anda memilih X dan bukan Y.
Manusia membutuhkan prioritas, dan karenanya menyusun skala prioritas menjadi hal yang juga penting. Dengan prioritas, Anda bisa meraih yang terbaik di tengah sumber daya yang ada. Dengan prioritas, Anda bisa mengejar yang optimal di tengah keterbatasan yang mungkin membelenggu. Kita memang sulit mendapatkan semua yang kita mau sekaligus. Karenanya prioritas akan membantu kita tetap pada rel yang akan megantar kita pada tujuan-tujuan yang kita anggap penting terlebih dahulu.
Prioritas sedikit banyak berhubungan dengan keyakinan dan nilai-nilai yang sedang Anda perjuangkan. Ketika kesejahteraan finansial jadi hal penting saat ini, maka Anda mungkin akan mengutamakan usaha yang akan mengantar Anda untuk mendapatkan peningkatan pendapatan. Ketika harmoni keluarga jadi hal utama satu ketika, maka aktivitas yang memastikan keseimbangan dan hubungan yang efektif dalam keluarga tentu akan jadi pilihan yang akan Anda pertimbangkan dengan seksama.
Lalu bagaimana hubungan antara prioritas dengan rasa bersalah ? Bagaimana pula sehingga ada jenis rasa bersalah yang positif ? Bukankah rasa bersalah adalah sesuatu yang tidak menyenangkan ?
Benar rasa bersalah cenderung menjadi sesuatu yang tidak menyenangkan bagi sebagian besar individu. Ia menjadi alasan mengapa banyak orang yang gelisah ketika rasa bersalah itu hadir. Namun pada titik tertentu Anda juga pernah merasakan bahwa rasa bersalah sekaligus sebagai tanda bahwa ada sesuatu yang kurang pas. Ada kejanggalan atau konflik yang berlawanan dengan apa yang mungkin tengah Anda yakini.
Menerima tawaran uang pelicin dari supplier adalah contoh sederhana yang sering terjadi dalam dinamika pekerjaan. Supplier butuh kesempatan masuk dan menyediakan barang dan jasa di kantor kita. Sadar akan persaingan yang ada antar sesama mereka, maka tak sedikit yang menawarkan pelicin agar mereka bisa masuk dan membuat kontrak bisnis. Tentu masih ada banyak contoh lain yang bisa jadi sumber terusiknya rasa bersalah.
Banyak juga yang menganggap rasa bersalah sebagai suara hati nurani, suara Tuhan yang bersemayam dalam diri kita. Makanya ketika masih ada rasa bersalah itu seakan menjadi pertanda bahwa kita masih diberi rambu-rambu untuk berjalan di jalan yang benar. Melihatnya dari perspektif ini, maka rasa bersalah menawarkan wajah positifnya. Dengan mendengarkan rasa bersalah maka kita terbantu untuk mengambil keputusan yang secara etis benar.
Potensi positif inilah yang kemudian bisa juga dikelola, dimodifikasi sedemikian rupa sehingga kita masih bisa memanfaatkan rasa bersalah dalam konteks yang berbeda. Saya melihat rasa bersalah bermanfaat untuk membantu kita mengejar apa yang kita mau. Rasa bersalah bisa bersandingan dengan usaha Anda mendapatkan apa yang Anda cita-citakan. Ada jenis rasa bersalah yang efektif membantu Anda mengejar apa yang Anda mau. Itu paling tidak yang saya alami
Dalam kasus saya, salah satu prioritas saya adalah menjalankan aktivitas yang kental muatan agamanya. Saya ingin terus menjadi lebih baik dalam hal yang berhubungan dengan posisi sebagai makhluk Tuhan. Sebagai pemeluk Islam, salah satu yang saya kejar adalah untuk lebih sering berakrab ria dengan AL QUR'AN. Ada impian untuk makin sering membangun relasi dengan Kitab Suci kami. Lalu itu menjadi prioritas saya. Spesifiknya saya ingin makin sering khatam membaca AL QUR'AN, dimana setiap dua bulan saya berharap paling tidak bisa khatam AL QUR'AN satu kali.
Bagi pemula untuk urusan macam ini, ini bukan perkara mudah dan sederhana. Walau secara rasional dan matematis semuanya mudah dihitung, namun tantangannya justru lebih pada soal emosional dan psikologis. Secara matematis, khatam AL QUR'AN itu mudah saja. Jika yang dibaca adalah AL QUR'AN yang tebalnya sekitar 600 halaman, maka jelas bahwa dengan alokasi waktu satu jam per hari, maka kita bisa khatam dengan cepat. Satu jam dibanding 24 jam waktu yang ada tentu bukan pekerjaan berat. Itu konsepnya.
Saat berbincang dengan seorang kawan, ia juga sempat berbagi cerita bagaimana ia khatam AL QUR'AN tiap bulan. Setiap pagi ia memasang target untuk membaca lima lembar (10 halaman) AL QUR'AN. Begitu juga sore harinya. Jika konsisten melakoni itu maka saatu bulan akan genap semkitar 600 halaman dituntaskan. Jelas bukan bahwa sederhana saja cara untuk khatam tiap bulan ?
Ketika bicara khatam AL QUR'AN di atas, saya tidak sedang bicara penghayatan. Saya sedang mengejar sensasi batiniah dari keberhasilan khatam AL QUR'AN itu sendiri. Sensasi yang tak bisa saya jelaskan , namun terbukti membantu saya mencapai ketenangan yang saya damba. Idealnya memang tak hanya bisa membaca AL QUR'AN. Lebih penting lagi adalah pemaknaan dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pada tingkatan yang masih sederhana itu saja, khatam AL QUR'AN ternyata memang bukan sekedar soal rasional. Nyatanya pada usia yang makin menua, tak banyak yang sudah lakukan. Khatam AL QUR'AN menjadi barang mewah buat saya, apalagi ketika kemampuan saya membaca AL QUR'AN masih setara anak yang masih mengeja. Walau secara matematis sederhana saja konsep untuk menuntaskan AL QUR'AN , walau dari sisi alokasi waktu seharusnya tak menyita banyak waktu, namun tetap saja, kenyataan memberi gambaran bahwa bukan perkara sederhana untuk sungguh mulai serius berupaya untuk khatam AL QUR'AN.
Maka di tengah kebodohan saya, dan ketika menyadari khatam AL QUR'AN sebagai cita-cita besar, maka saya menyusun strategi untuk merealisasikannya. Ketika khatam AL QUR'AN jadi salah satu prioritas maka saya mencari cara yang selaras dengan usaha di atas. Salah satunya adalah berusaha disiplin bangun di tengah malam untuk sholat tiap hari. Sambil menunggu waktu Subuh saya pikir saya bisa habiskan waktn untuk mengeja membaca AL QUR'AN. Usai berlama dengan tahajjud yang sederhana, saya pikir saya masih bisa dengan tenang baca AL QUR'AN, walau tentu belum fasih benar.
Prioritas di atas memang sempat berhadapan dengan kesukaan saya membaca dan mengasah kemampuan menulis. Di tengah kesibukan di kantor, sulit bagi saya punya waktu untuk berasyik membaca. Sepulang dari bekerja, bisa bercengkerama bersama anak dan keluarga adalah hal utama lainnya. Maka, pagi dini hari adalah juga saat yang tenang dan pas buat membaca , berpikir dan merancang tulisan. Dan saya sering tergoda untuk lebih dahulu membuka buku-buku kegemaran saya.
Berjalan dengan pola di atas mengantar saya pada fakta bahwa saya tak juga khatam AL QUR'AN. Yang ada, saat memutuskan menutup buku dan hendak memulai membuka AL QUR'AN, justru rasa kantuk makin menggila. Dan saya seringkali menyerah, tertidur dengan AL QUR'AN di sebelah saya, AL QUR'AN yang tak sempat saya baca karena saya terlalu lelah usai membaca buku lain !
Saya bersyukur diberi waktu dan kesempatan untuk mengevaluasi apa yang terjadi. Belajar dari data dan fakta betapa saya sulit khatam AL QUR'AN, saya akhirnya melihat pentingnya mekanisme lain yang akan membantu saya untuk lebih serius khatam AL QUR'AN. Salah satu kuncinya adalah dengan memanfaatkan rasa bersalah.
Saat dimudahkan untuk bangun malam dan ketika tergoda untuk membuka buku-buku lain, mulailah saya mengeksploitasi rasa bersalah. Saya coba memanipulasi diri sendiri dengan rasa bersalah yang ada. Saya ajukan pertanyaan-pertanyaan pada diri sendiri, mempersoalkan mengapa saya lebih mementingkan buku dan coretan duniawi ketimbang mulai membuka AL QUR'AN. Awalnya tak mudah. Hati yang membatu memang butuh waktu untuk jadi lebih lembut.
Sekali lagi saya bersyukur karena akhirnya dimudahkan untuk meninggikan rasa bersalah, yang memang saya mau itu. Rasa bersalah perlahan menguat ketika godaan membaca buku lain mulai menyapa. Sampai pada satu titik saya merasa bahwa cara di atas efektif, dimana meraih, memegan dan mulai membuka AL QUR'AN adalah tindakan pertama yang saya lakukan di malam seusai dikuatkan menyapa Allah SWT melalui sholat sederhana yang saya bisa.
Akhirnya pembiasaan memang jadi kata kunci. Membiasakan membangun rasa bersalah nyatanya memang efektif buat saya. Terutama usai shalat malam, saya terus belajar membangkitkan rasa bersalah ketika saya tergoda untuk mendahulukan aktivitas lain sebelum membaca AL QUR'AN. Alhamdulillah sejauh ini cara di atas terbilang efektif membantu saya. Ada kepuasan ketika saya tak membaca bacaan lain atau melakukan aktivitas lain sebelum saya menuntaskan target harian membaca AL QUR'AN
Pengalaman sederhana di atas menegaskan betapa rasa bersalah juga bisa bermanfaat dalam mengejar target-target kita. Kebetulan cara di atas menjadi jalan yang dibukakan oleh Allah guna membantu saya untuk menaikan frekwensi hubungan dengan AL QUR'AN. Di segala keterbatasan dan kebodohan yang saya punya, saya mensyukuri hal ini. Di tingkatan iman saya yang masih kelas rendahan ternyata cara inilah yang membantu saya untuk mulai mendekat pada AL QUR'AN.
Semoga Allah terus menguatkan kesunggungguhan saya untuk terus konsisten melakoni hal di atas serta bersabar di jalan kebaikan. Semoga pula Allah terus memberi saya kesempatan menghapus dosa yang ada.
No comments:
Post a Comment