Selamat Datang SAHABAT

Selamat datang di rumah kecil pembelajar.

Banyak persepsi, interpretasi, elaborasi dan apresiasi yang akan coba saya angkat. Awalnya, ini adalah cara saya untuk terus memberdaya diri. Dan, jika pun pada satu titik apa yang saya ungkap bermakna untuk Anda, Sahabat, maka komentar dan pandangan Anda tentu sangat berharga

Selamat Datang SAHABAT, semoga ini jadi tempat singgah yang bermakna

Apr 7, 2008

(INSPIRASI) LAYANI DULU

" Gue batalin  deh beli sama dia. Habis sebel sih !"

 

Itu adalah ekspresi kekecewaan istri saya. Itu adalah ujung kekecewaan kami padanya. Kekecewaan yang membuatnya kehilangan kesempatan baik. Ia kehilangan 5,5 juta rupiah.

 

Angka itu adalah angka harga satu set komputer yang hendak kami beli. Awalnya kami memang tak ada rencana untuk beli komputer. Awalnya saya tetap ngotot untuk hanya memperbaiki komputer tua yang  ada.

 

"Toh masih bisa jalan. Sayang deh  kalau harus beli lagi", ujar saya pada satu kesempatan

 

" tapi bolak-balik mulu diservis. Mengganggu juga kan", balas istri saya

 

Kengototan saya tetap menang, walau mungkin sementara saja.

 

" Aku jadi stress kalau pas aku dapat kerjaan dan mau dibikin di rumah. Pas lagi kepepet, eh komputer ngadat. Jadi  lama !!", istri  saya mengungkapkan kekecewaan lamanya, yang sesungguhnya bukan semata kekecewaannya sendiri. Saya juga sering mengalami kejadian serupa. Beberapa kali saat akan mengerjakan projek di rumah, tiba-tiba komputer ngadat. Kadang tak keluar gambar sama sekali di monitor. Kadang tiba-tiba tampilannya jadi buram

 

Perjalanan Si Tua

Beberapa kali kecewa, saya antar si komputer ke tukang servis. Sebentar bisa kembali  baik. Tak lama kemudian ia kembali mengejutkan  kami. Tak hanya diotak-atik, komputer tua sempat juga  ganti sebagian onderdil. Maka ada komponen baru dalam tubuhnya yang reot itu. Tapi saya masih nyaman dengan apa yang ada. Saya pikir kami  masih punya prioritas lain. Jadi lain waktu sajalah mempertimbangkan untuk mendapatkan komputer yang baru.

 

" Kalau buat anak-anak main games doang sih masih bisa". Itu argumen saya pada istri menimbang bahwa komputer itu memang lebih sering mereka pakai untuk bermain dan menikmati beberapa vcd edukatif. Kalaupun main games semata buat senang-senang, mereka juga tidak membutuhkan tampilan huruf. Yang ada hanya gambar dan suara. Itu yang mereka butuhkan.

 

Kebetulan di satu sore kami ada rencana ke sebuah  mal, maka saya niatkan membawa komputer tua itu ke salah satu toko ternama  yang ada. Dari tempat parkir menuju lantai 3, saya angkat komputer tua. Malu juga dilihat banyak orang. Mereka mungkin heran karena cpu yang saya angkat itu bukan dari merek ternama. Casing-nya juga adalah merek murahan yang statusnya hanya terdengar. Maka jelas bagi  mereka, bahwa komputer saya adalah kelas jangkrik hasil kreativitas dagang kawan-kawan di Glodok  sana.

 

Saya coba tak peduli dan lebih sibuk memikirkan cara paling mudah membawa komputer itu. Teknik terbaik saya pilih agar saya tak cepat lelah membawanya naik ke lantai atas. Tetap saja, naik ke lantai 3 melalui 2 eskalator sempat membuat lengan kanan saya pegal-pegal. Maka saat sampai di toko komputer  yang saya tuju harapan merekah saya mengalahkan lelah yang ada.

 

Saya sok akrab dengan penjualnya. Saya berlagak sebagai pelanggan walau baru beberapa kali saja belanja di sana. Itupun  tak banyak yang saya habiskan untuk belanja di sana.

 

" Beh, bantuin install dong. Tambahan games buat anak-anak", ucap saya sambil meletakkan cpu di meja kerjanya.

 

Hari itu, tak seperti biasanya, ia tampak tak banyak senyum. Saya coba tak peduli dengan perubahan itu dan membiarkannya mulai memasang beberapa kabel

 

" Monitor berapaan sekarang ?", tanya saya

 

" Macam-macam", katanya sambil tangannya terus sibuk

 

" Yang 15 inchi aja", minta saya

 

" satu koma delapanan deh", katanya

 

" Hah. Mahal banget", saya terkejut sambil memindahkan pandangan pada istri yang ada di sebelah saya

 

" Nggak bisa kurang ?", tanya istri saya.

 

Namun menawar bukan agenda saya. Tujuan utama saya adalah memastikan bahwa cpu masih bisa ditambahi games. Saya tahu monitor di rumah sudah sama tuanya dengan cpu. Namun masih cukup untuk kebutuhan anak-anak. Lagi pula kalaupun harus membeli monitor baru, angka yang saya bayangkan adalah 800-an ribu.

 

" Gue pikir dapet di bawah sejuta. Lapan ratus apa sembilan ratus gitu ?", pancing saya

 

" Kalau yang lcd gak ada Pak. Itu mah yang crt kali"

 

Saya baru sadar. Mungkin benar katanya. Yang layar datar lcd sudah mahal.

 

" Merek lain ada ?", tanya saya mencari alternatif

 

" itu ada yang satu koma 6", ia menawarkan mereka  tak saya kenal

 

"  Kalau beda segitu mah tanggung. Mending beli yang bermerek sekalian", ucap saya pada istri. Saya tergoda kini. Agenda utama hanya beli monitor murah makin saya lupakan.

 

Petugas itu masih sibuk dengan cpu tua saya. Wajahnya dingin. Mulutnya terkatup. Tak ada senyum yang pernah saya jumpai sebelumnya

 

" Wah ini rusak Pak", katanya mengejutkan saya

 

Saya sungguh terkejut tapi tetap coba tenang saja.

 

" Ahh yang bener. Tadi  pagi masih bisa tuh dipakai main sama anak-anak", tangkis saya sambil sungguh terkejut melihat tak ada tampilan di monitor

 

" Ada yang salah kali. Coba cek lagi kabelnya", pinta saya sok tahu

 

" Iya. Tadi pagi masih bisa dipakai", istri saya menimpali

 

" Tadi keguncang-guncang kali", kata si petugas sedikit tajam. Lebih tepatnya, saya mendengar nada tak bersahabat.

 

Mungkin dia  tak suka berhadapan dengan pembeli murahan macam kami. Tapi kami kan pembeli, jadi wajar dilayani dengan baik dong.

 

" Iya Pak, rusak. Tuh lihat gak ada sinyal lagi proses. Kalau ada proses, ini nyala lampunya", sambil ia menunjuk lampu indikator di cpu

 

Saya masih belum bisa menerima kenyataan. Benar, bisa saja cpu itu ngadat karena terguncang saat kami bawa dari rumah. Tapi saya tak percaya bisa semudah itu hilang sama sekali tampilannya. Kecurigaan mulai bersemi

 

" Bener tuh ?", tanya istri saya sambil berbisik. Ia juga mulai curiga.

 

Kami curiga pada si tukang komputer. Kecurigaan dikuatkan dengan ekspresi kurang bersahabat yang ia tampilkan. Buktinya  gak ada senyum lagi. Dulu waktu kami beli barang yang lebih mahal, ia tampak helpful sekali. Waktu kami belanja dengan nilai jutaan ia memang sangat ramah dan mau membantu

 

" Apa karena Cuma servis, makanya ia jadi malas ?", pikir saya dalam hati

 

" Bener nih nggak bisa diakalin ?", tanya istri saya lagi.

 

" Mesti  di bawa ke toko lamanya. Karena harus pakai cd driver dari toko lamanya", ia merekomendasikan

 

Sayangnya itu bukan jenis rekomendasi yang kami tunggu. Masukannya saya anggap menyulitkan. Boro-boro harus cari cd driver. Lha wong tokonya saja kami nggak tahu. Jangan-jangan komponen yang ada dalam cpu itupun berasal dari banyak  toko. Namanya juga rakitan dan jangkrik !

 

Maka kecurigaan saya meninggi. Saya menduga targetnya hanyalah menjual satu set komputer berharga jutaan

 

" Dah ganti aja. Yang itu lima koma lima sudah bagus",  tawarannya justru membuat saya makin curiga

 

" Ya udah deh kalau begitu", istri saya mengakhiri kunjungan saya di toko itu

 

Seperti kalah perang, saya gontai harus membawa kembali cpu tua ke mobil di area parkir.

 

Istri saya masih kesal. Dia kesal karena merasa tak dilayani dengan baik. Saya juga  melihat perbedaan sikap si petugas, walau memang tak pasti apa sebabnya.

 

Pilihan Reaksi

Kecewa kami pada petugas kali ini berhadapan dengan janji untuk menyenangkan anak-anak.

 

" Gimana nih ? Nggak enak sama anak-anak karena sudah janji", istri saya mengingatkan saya.

 

" Ya udah kita cek dulu ke toko lain untuk cari alternatif", ucap saya yang masih bertahan di angka 900 an untuk sebuah monitor baru.

 

Tapi masalah kami bukan hanya monitor. Saya memang akan cek kembali cpu di rumah, untuk pastikan  apakah ia ikut ngadat seperti monitor yang ada.

 

Sampai di rumah ternyata memang benar bahwa cpu tak bekerja. Keringat saya mengucur saat harus berulang memastikan kerja cpu itu. Benar kata petugas di toko tadi. Mungkin cpu ngadat karena terguncang. Tapi kebenaran itu cepat kalah oleh kesal yang ada. Kami sudah kecewa oleh cara dia melayani kami. Persepsi kami, petugas itu hanya akan menjebak kami untuk hanya membeli komputer , dan bukan memperbaiki yang ada. Persepsi kami, ia tak melayani kami dengan sewajarnya

 

" Beli aja deh", kata istri saya saat kami berkunjung ke beberapa toko lain di malam harinya

 

" Satu set ?", saya mengkonfirmasi

 

" Iya, sekalian aja deh", solusi yang paling realistis malam itu

 

Maka malam itu akhirnya kami membeli komputer, demi janji  pada anak-anak, demi membuat mereka senang.

 

Sekedar info, harga yang kami beli jauh lebih mahal dari tawaran petugas di toko awal tadi. Saya menghibur istri dengan menyebut selisih itu karena spesifikasi yang satu ini lebih baik. Namun istri saya tak terlalu peduli dengan selisih. Kini, ia tak lagi memikirkan soal harga.

 

" Coba tadi dia ngelayaninnya bener, kan kita jadinya akan beli ini di toko mereka", istri saya mengingatkan saya pada toko komputer yang telah  mengecewakan kami sebelumnya

 

" Mungkin dia memang lagi ada masalah", saya coba menetralisir

 

" Ahh bodo amat. Aku dah kesel", tegas istri saya

 

Sebuah penegasan yang lebih dari cukup,  dari kami yang kecewa. Sebuah penegasan yang lebih dari cukup, yang mewakili persepsi kami yang merasa sudah dikecewakan. Sebuah pelajaran berharga bahwa pelayanan adalah soal persepsi. Sebuah pelajaran bahwa pelayanan akan mendatangkan manfaat balik nantinya

 

Kalau  saja si petugas awal bisa membuat kami tetap punya persepsi baik, maka kemungkinan besar kami akan belanja komputer di tokonya. Sayang, persepsi kami  terkotori oleh reaksi-reaksinya. Kami terganggu oleh pelayanannya. Jadi maaf, kalau kami beli komputer dari toko lain, bahkan dengan harga lebih  mahal sekalipun. Angka jutaan itu mungkin tak terlalu besar. Namun saya yakini tetap lumayan bagi pedagang manapun.  Kalau saja ia memberi  pelayanan terbaik, maka ia akan mendapatkan order

 

Sepulang dari belanja malam itu, saya tercenung mendapatkan pelajaran besar,  bahwa kalau ingin mendapatkan  sesuatu, kadang pertama-tama kita harus memberikan apa yang kita punya. Layani dulu, agar Anda bisa mendapatkan sesuatu.  Lakukan yang  terbaik, maka akan ada balasan yang kadang tak terduga. Bagi saya, kisah di atas adalah juga tentang pelajaran untuk mendapatkan banyak hal dalam kehidupan kita.

 

 

# end

 

 

Cimanggis – Tuesday – 18 Mar 08

 

 

 

 


No comments: