Selamat Datang SAHABAT

Selamat datang di rumah kecil pembelajar.

Banyak persepsi, interpretasi, elaborasi dan apresiasi yang akan coba saya angkat. Awalnya, ini adalah cara saya untuk terus memberdaya diri. Dan, jika pun pada satu titik apa yang saya ungkap bermakna untuk Anda, Sahabat, maka komentar dan pandangan Anda tentu sangat berharga

Selamat Datang SAHABAT, semoga ini jadi tempat singgah yang bermakna

Apr 28, 2008

LIVING LIFE AS AN ADVENTURE

Adventure kb – petualangan. Itu yang saya baca dari kamus  yang lama tergolek di pojok, sesak nafas  tertindih banyak berkas.

 

Sambil membaca kata-kata lain yang mirip, semacam adventuresome, adventurous atau adventurousness, ingatan saya melayang pada banyak  jejak perjalanan yang saya lewati. Saya bertanya, petualangan apa yang pernah saya lakoni. Saya juga mencari tahu, sungguhkan hidup saya seperti sebuah petualangan ? Atau sekedar rutinitas biasa yang sudah hambar ?

Mencari sebagian jawaban atas pertanyaan di atas, ingatan saya dengan cepat mengantar saya pada kejadian beberapa tahun lalu,  ketika saya  membuat keputusan besar terkait karir. Pada titik ini saya menemukan satu hal bahwa petualangan bisa berarti sesuatu yang besar dan penting.  Ia  bisa dipersepsi sebagai hal besar dan penting tentu dengan sejumlah pertimbangan, yang antara lain adalah soal kebaruan. Memasuki hal baru sungguh bisa dimaknai sebagai sebuah petualangan.  Dengan begitu  petualangan adalah juga soal menghadapi situasi atau hal baru

 

Keputusan besar saya waktu itu adalah menerima tawaran dari sebuah perusahaan tambang emas. Saya akhirnya memang bekerja di perusahaan itu, di sebuah kota di pedalaman Papua. Kalau  hari ini saya melihat kembali kejadian tersebut, maka semua seakan sederhana saja. Hasil akhirnya saya memang berangkat ke kota itu. Namun sejatinya ada sebuah proses yang  tak terlalu sederhana. Sebelum sampai pada keputusan bulat di atas, ada banyak hal saya yang timbang dan hitung. Petualangan  saya kala itu dengan demikian melibatkan juga sebuah pergulatan pemikiran.

 

Menyambut Petualangan Baru

Ada diskusi internal dan dialog dengan pihak yang berkepentingan, yakni keluarga saya. Dengan begitu, petualangan saya mempertimbangkan tak hanya diri saya sendiri. Keputusan yang saya buat pasti memberi dampak pada orang lain. Itu realita hidup yang sulit dicegah. Pun ketika Anda yakin bahwa Anda mengendalikan hidup Anda, maka empati pada kepentingan dan hidup orang lain perlu tetap dipelihara.

 

Keputusan saya untuk bekerja di pedalaman pasti berdampak pada keluarga. Saya akan jauh dari keluarga, karena tinggal di camp perusahaan. Saya akan jauh dari anak-anak yang waktu itu masih balita. Begitu juga dengan istri, jauh darinya tentu jadi perkara sendiri buat laki-laki seperti saya. Maka pertimbangan yang saya lakukan jadi soal yang tak bisa dengan cepat mengantar saya sampai pada sebuah kesimpulan. Ada proses maju mundur sebelum akhirnya sampai pada keputusan bulat. Ada dorongan besar yang menggerakan saya maju, yang kemudian berhadapan dengan banyak antisipasi soal resiko, yang membuat saya berhenti dan menahan diri

 

" Pengen   dapat pengalaman di dunia tambang", kata saya waktu itu dengan semangat.

 

Saya memang sangat bersemangat ketika berhitung soal karir dan pendapatan. Namun  keputusan sekecil apapun akan punya resikonya sendiri. Maka  keputusan besar saya waktu itu juga meminta harga yang harus dibayar. Tak ada yang gratis. Tak ada makan siang Cuma-Cuma. Keputusan besar saya juga meninggalkan konsekuensi yang harus diantisipasi dan dikelola. Jelas, petualangan saya kala itu juga berisi banyak resiko. Mulai soal resiko sosial  karena harus beradaptasi dengan banyak hal baru, hingga resiko jauh dari  istri !

 

" Nanti gimana kalau keluarga di tinggal di Jakarta ?  Kalau ada apa-apa di Jakarta bagaimana ?", itu adalah jenis kekhawatiran banyak pihak di sekitar saya

 

Tak hanya orang dekat yang berkomentar dan memberi masukan. Tak sedikit kawan lain yang bertanya-tanya

 

" Mau cari apa sih sampai jauh  ke Papua segala ?", saya bisa paham pertanyaan ini. Saya mencoba mengerti  peta mental kami yang berbeda

 

Tak semuanya membuat saya berhenti. Ada juga yang menyemangati. " Bagus juga sih buat dapat pengalaman baru, belajar dari perusahaan yang sudah mapan", itu kata kawan yang lain

 

Saya menghitung semua resiko yang dapat saya  pahami. Langkah antisipasi disiapkan. Harus ada solusi untuk kangen dengan anak istri. Harus ada pengaman ketika anak istri sakit sementara saya berada ribuan kilometer dari Jakarta. Semua dirancang semampu saya. Semua direncanakan sebisa saya. Petualangan memang mensyaratkan perencanaan. Tanpa rencana  matang, saya khawatir petualangan Anda akan berakhir di sebuah jurang. Tanpa rencana, saya khawatir tak ada kebahagiaan dalam petualangan Anda. Saya khawatir yang terjadi justru kekonyolan dan celaka

 

Sejatinya  tak hanya resiko yang ada dalam sebuah petualangan. Ada juga sisi manis. Ada sisi manfaat yang akan kita dapat dan jadi imbalan dari pengorbanan dan keberanian kita bertualang. Saya amat sadar akan hal ini.

 

Setelah pertimbangan dibuat, saat keputusan jadi bulat, maka petualangan saya lanjutkan.  Semenjak pesawat Airfast lepas landas dari Cengkareng, saya membawa banyak rasa penasaran. Rasa ingin tahu bercampur khawatir. Detak jantung lari cepat bercampur keringat yang kadang  deras. Rasa ingin tahu berlari namun tak bisa lebih cepat dari Airfast yang kadang goyang kanan kiri dihantam awan sekitar Makasar.  Petualangan memang mengasyikkan karena ada  rasa ingin tahu. Ada ketegangan yang tak sabar menunggu untuk dipuaskan.

 

Menduga-duga apa yang akan terjadi ternyata memang jadi  bagian penting lain dari sebuah petualangan. Ketidak pastian tak bisa dihilangkan seratus persen. Tak semua bisa Anda kontrol total. Anda memang bisa mengendalikan diri sendiri, dan itu harus Anda pelihara terutama menghadapi ketidak pastian yang harus Anda sikapi dengan efektif. Ketidak  pastian adalah bagian dari petualangan. Proaktivitas kitalah yang bisa membantu kita jadi lebih tenang menjalani petualangan.

 

Akhirnya,  petualangan saya di pedalaman Papua memang memberi banyak hikmah. Ada warna-warni yang memperkaya pelangi kehidupan saya. Semuanya berujung pada pematangan diri. Jadi tak sekedar soal karir dan  finansial semata

 

Singkat cerita, benar saja bahwa  tak semua  bisa saya kelola dengan baik. Ada bagian yang tak masuk dalam rencana. Ada sisi-sisi yang sulit di antisipasi.  Ketidak pastian itu  membuahkan hasil. Bagian yang tak bisa saya antisipasi di antaranya adalah bagaimana mengelola emosi saat berhadapan dengan tekanan-tekanan  pekerjaan yang berakar pada perbedaan prinsip. Pada titik puncaknya, saya memang harus memilih antara mengkanibal prinsip saya atau tegas berpegang  pada nilai yang saya anut. Saya memilih yang kedua. Pilihan ke dua  itu saya pahami sebagai kesediaan saya memilih keluar dari lingkungan  di sana.

 

Maka di ruang kendali yang saya punya, saya memilih keluar dari perusahaan di atas, keluar dari pedalaman Papua dan memulai petualangan baru di tempat lain. Mencari tantangan baru untuk karir saya usai mengevaluasi prioritas diri setelah  berkarya di pedalaman Papua.

 

" Mencari tantangan baru", itu yang saya sampaikan pada beberapa kawan sebelum saya pulang kembali ke Jakarta

 

Melihat Kembali Petualangan Hari ini

 

Setelah lewat beberapa tahun di Jakarta, saya kembali tergoda untuk melihat sisi-sisi petualang dalam diri saya. Saya coba bertanya, masih adakah keberanian saya untuk bertualang ?

 

Sadar bahwa pertanyaan di atas akan terus relevan, maka saya tak hendak menjadikan coretan kali  ini  sebagai kesimpulan jawaban  saya. Saya justru hendak menarik beberapa point penting yang saya pikir tetap relevan. Saya hendak mengingatkan diri sendiri bahwa ada sejumlah hal yang harus dihitung sebelum memulai petualangan. Kalau  hidup saya lihat sebagai petualangan, maka saya sepakat pada pendapat Carolyn B. Ellis, yang mengatakan bahwa ada sejumlah hal yang harus kita pertimbangkan. Hal itu adalah :

 

1.        Persiapan – persiapan dimulai dari penetapan tujuan sampai hal lain yang dibutuhkan selama perjalanan

2.       Buatlah skenario  - kita perlu memiliki semacam peta dan jadwal perjalanan. Sebisa mungkin semua terencana, dihitung dan dipertimbangkan. Perlu ada beberapa skenario agar  perjalanan kita terus mengasyikkan. Mengasyikkan tak selalu berarti semua aman dan lancar. Kadang kejutan-kejutan kecil justru membuat perjalanan jadi kian berkesan

3.       Pastikan ketersediaan sumber daya – dengan begitu,  kita harus bicara detil. Ada hal-hal kecil yang harus dihitung, bahkan sampai ke soal-soal resiko

4.       Bawa rasa ingin tahu – petualangan memang akan mengasyikkan kalau  kepala kita dipenuhi rasa ingin tahu. Mencari tahu dan merasakan hal baru mungkin adalah petualangan itu sendiri

5.       Siapkan diri untuk ketidak pastian  - ini catatan berdasar pengalaman pribadi saya. Kita memang punya kendali. Salah satunya coba mengendalikan hal-hal yang mungkin tak terduga

 

Menjadikan Hidup Sebagai Petualangan

 

Berkaca pada pengalaman lalu, maka menarik rasanya kalau kita bisa membawa adventurer mind-set ke dalam keseharian kita. Tak hanya menarik, bahkan hidup kita akan jauh lebih efektif.  Pola pikir seorang petualang saya yakini banyak relevansinya dengan keseharian kita. Bahkan sesederhana apapun petualangan dalam keseharian, pola pikir di atas akan membantu kita mendapatkan apa yang kita mau

 

Cobalah awali keseharian dengan persiapan, maka saya percaya hasil akhir lebih bisa diprediksi. Coba kalau saja kita semua memiliki rencana matang, maka tujuan yang kita rancang akan lebih mudah didapat. Sayangnya tak banyak dari kita yang sungguh merencanakan kehidupan kita. Karena  menganggap semuanya sebagai sebuah kewajaran, kita jadi enggan membuat rencana. Kita merasa bahwa hidup adalah  barang gratis yang tak perlu dipertanggung jawabkan. Akibatnya, banyak di antara kita yang sebenarnya tak terlalu peduli pada hidup kita sendiri

 

Pada tingkat lebih tinggi, hanya sedikit di antara kita yang sungguh punya banyak skenario. Kita menjalani hidup dengan semangat semata mengikuti aliran sungai. Ketika tersangkut di belokan tajam, kita tak punya pilihan lain. Kita tak tahu hendak  kemana dan bagaimana, karena pada dasarnya kita memang tak punya skenario atas  hidup yang kita jalani. Memiliki skenario dan rencana memang tak menjamin kita pasti sukses. Namun tak memilikinya menjamin kita tak akan berhasil.

 

Karena tak ada rencana dan tak punya skenario, kita sering tak waspada pada apa yang kita butuhkan. Kita tak peka pada sumber daya apa saja yang kita butuhkan. Banyak dari kita yang melakukan perjalanan panjang hanya berbekal  sebotol air mineral. Maka ketika lapar melilit perut, kita bingung hendak berbuat apa. Kita sering tak peduli pada kelengkapan bekal kita. Maka sering kita dengar banyak anak muda meninggal di gunung. Mereka nekad naik gunung tanpa bekal memadai

 

Saya juga membayangkan akan indah rasanya jika kita sungguh bisa membawa rasa ingin tahu dalam perjalanan keseharian kita. Berbekal itu, maka semoga kita tak mudah patah dan jatuh. Berbekal semangat untuk terus belajar, saya   percaya kita akan lebih positif terhadap hidup, tak mudah mengeluh apalagi putus asa. Hambatan dan kendala bisa dengan cepat kita pahami sebagai kesempatan belajar.

 

Dengan antisipasi yang optimal, saya percaya kita akan lebih mampu mengantisipasi ketidak pastian.  Sikap positif dan proaktivitas akan membantu kita memegang kendali atas banyak hal dalam perjalanan nantinya. Tentu tetap harus kita siapkan ruang kecil bagi kejutan-kejutan  di sepanjang perjalanan

 

Selamat bertualang !

No comments: