Selamat Datang SAHABAT

Selamat datang di rumah kecil pembelajar.

Banyak persepsi, interpretasi, elaborasi dan apresiasi yang akan coba saya angkat. Awalnya, ini adalah cara saya untuk terus memberdaya diri. Dan, jika pun pada satu titik apa yang saya ungkap bermakna untuk Anda, Sahabat, maka komentar dan pandangan Anda tentu sangat berharga

Selamat Datang SAHABAT, semoga ini jadi tempat singgah yang bermakna

Apr 14, 2008

MAU BISA ? GAMPANG AJA CARANYA !

" Supaya bisa itu gampang aja caranya, ayah"

 

Kalimat di atas  meluncur mantap dari mulut anak tertua saya. Saya menikmati ekspresi itu sambil tertawa. Dia yang duduk di sebelah saya mungkin sempat heran melihat saya tertawa. Lalu kami terlibat pada pembicaraan dua arah yang mengasyikan. Ucapan di atas adalah sebagian potongan  lontaran dari mulut anak-anak,  yang kadang bermakna jauh lebih dalam dari sekedar yang  terucap.  Mengingat dan mendapatkan kejadian macam ini membuat kegiatan saya mengantar jemput anak-anak menjadi kegiatan yang berkesan. Kami memang tidak punya sopir pribadi, maka hampir setiap hari saya mengantar jemput mereka. Karenanya, mendengar celoteh macam ini menjadi upah luar biasa

 

Kembali ke pernyataan anak saya di atas, saya coba mendalami apa yang ada dibalik kesimpulannya itu. Beberapa pertanyaan saya ajukan, sambil  meyakini bahwa pada usia mereka pun pada kenyataannya mereka mampu membuat analisa yang tajam. Pasti ada nalar berpikir tertentu yang kemudian mengantarnya sampai pada kesimpulan seperti di atas.

 

Saya terkesan. Makin terkesan karena pada saat yang sama saya juga ingat betapa banyak di antara kita yang justru   merasa kesulitan untuk menguasai sesuatu. Saya terkesan, karena apa yang ia lontarkan ternyata adalah isu besar dalam konteks orang besar (baca :dewasa). Dalam dunia orang dewasa, menjadi kompeten, menjadi mampu adalah pekerjaan besar. Tak sedikit yang harus dikeluarkan oleh perusahaan untuk membiayai program pelatihan yang bisa meningkatkan kompetensi dan kemampuan karyawan. Di tengah  perjalanan dan pengorbanan macam itu, tak jarang saya masih juga mendengar keluhan putus asa saat sejumlah orang mencoba berubah.

 

" Habis susah Pak", begitu seorang kawan pernah bertutur saat ia berada di tengah masalah yang buat saya sebenarnya biasa saja

 

" Lho kamunya sendiri maunya apa ?", saya coba mendalami

 

Ia menjelaskan apa harapannya.

 

" Nah kalau begitu kan bisa langsung bicara aja sama yang bersangkutan", saya coba memberi saran ketika masalahnya ternyata lebih berhubungan dengan kebutuhannya akan informasi dari rekan kerjanya. Ia butuh informasi dari koleganya, namun merasa bahwa koleganya  tak mau berbagi data.

 

Saya tak tahu pada akhirnya apa yang ia lakukan. Namun ini jadi sedikit contoh betapa kadang kita cepat putus asa, bahkan ketika berhadapan dengan soal-soal yang sederhana dan jelas jalan keluarnya. Saya kadang jadi berpikir, apakah pikiran saya yang justru terlalu naif dan sederhana

 

Tak hanya contoh di atas, pada kesempatan lain gejala putus asa dan enggan mencoba sungguh jadi fenomena yang menggejala di banyak tempat. Kita sibuk mengeluh dan marah. Kita sibuk mengurusi soal orang lain dan lupa ada banyak yang harus dimulai dari diri kita sendiri. Tak jarang kita menyalahkan orang lain dan lupa ingatan akan banyak kesalahan kita. Alel Pattakos pernah menegaskan bahwa ketika kita tenggelam dalam keluhan, maka tak lama kemudian kita akan mulai menyalahkan orang di luar sana. Semua yang ada di luar salah dan bermasalah. Lalu mereka merasa bahwa semua orang di luar sana yang menyebabkan ia menderita. Orang di luar sanalah yang menyebabkannya jadi korban. Pengeluh dan penuduh macam ini adalah orang yang mulai kehilangan makna !

 

Sambil mengingat itu semua, saya jadi kian terkesan pada komentar sederhana anak saya di atas. Ia dengan sangat yakinnya menyebut bahwa untuk menjadi bisa dan mampu itu mudah saja. Mungkin kasus yang saya angkat juga sederhana, maka kesimpulannya pun jadi terkesan menyederhanakan persoalan.

 

Awalnya adalah pertanyaan saya akan cita-citanya. Ini pertanyaan berulang yang saya sampaikan. Sengaja saya ulang karena saya  paham bahwa mereka tentu belum punya gambaran masa depan yang jelas. Jadi wajar saja  kalau cita-citanya hari ini beda dengan apa yang ia sampaikan dua hari lalu. Saya sadar akan hal itu. Saya pun berkepentingan untuk terus mengulang pertanyaan yang sama antara lain untuk  secara perlahan mengajaknya berpikir lebih dalam.

 

" Kak, ayah ingin Kakak mengingat-ingat cita-cita kakak", saya tegaskan hal itu

 

Ia diam saja, sambil  terus menyimak.

 

" Kalau kakak  ingat itu,  baru nanti kakak bisa pikiran apa yang harus dikerjakan untuk bisa dapat cita-cita kakak", saya nyerocos. Lupa sedang bicara pada anak kecil. Itu  kalimat  paling sederhana yang bisa saya sampaikan. Semoga saja ia mengerti

 

" Ya ayah. Aku kepengen jadi guru renang", katanya. Ia lupa beberapa Minggu lalu ia ingin jadi nakhoda, yang ia sebut sebagai sopir kapal laut

 

Saya cukup terkejut dengan cita-citanya itu. Namun menahan diri untuk tak mempersoalkan, apalagi protes atas pilihan itu. Ia justru butuh masukan dan pencerahan agar langkahnya makin terarah.  Melalui obrolan ringan sepanjang perjalanan menuju sekolahnya lah saya bisa bicara lebih dalam

 

" Iya Kak. Misalkan ayah pengen bisa berenang, maka ayah harus belajar berenang. Apalagi kalau jadi guru berenang, maka harus bisa berenang. Harus lebih pinter dari muridnya", saya coba menjelaskan

 

" Kalau mau bisa berenang itu gampang aja sebenarnya. Tinggal belajar, terus bisa deh", ucapnya mantap

 

Saya tertawa

 

" Bener ayah. Gampang aja. Belajar terus jadi bisa", ia mengulang, khawatir saya tak percaya

 

" Terus apa lagi Kak ?", saya memancingnya

 

" Terus harus serius. Kalau serius pasti bisa", ia makin mantap berucap

 

" Selain serius, apalagi yang harus dilakukan supaya bisa berenang", saya bertanya lagi

 

" Ya udah ayah. Pokoknya belajar dan serius aja. Gampang aja", ia menyimpulkan

 

" Makanya Kak, tadi ayah bilang supaya kamu ingat-ingat cita-cita Kakak. Ya itu tadi, supaya kakak tahu apa yang harus dilakukan supaya tercapai cita-citanya"

 

" Iya ayah"

 

Pembicaraan pagi itu terhenti saat kami sudah sampai di  halaman sekolah anak saya. Setelah menciumnya, saya turun mengantarnya sampai gerbang masuk.

 

Siang harinya, saat saya menjemputnya dari sekolah ada perbincangan yang menguatkan obrolan kami di pagi harinya.

 

" Bersakit-sakit dahulu, enjoy aja kemudian", anak saya coba mengeja papan reklame besar yang mengiklankan satu produk rokok

 

Saya diam saja menunggu reaksinya

 

" Apa sih maksudnya. Tulisannya koq gak ada artinya sih", ia  bicara penuh tekanan pada kalimatnya

 

" Ada maksudnya lagi", saya menenangkannya sambil menjelaskan maknanya

 

" Enjoy itu artinya senang, bahagia, happy. Jadi maksudnya kalau mau dapat  yang menyenangkan harus berusaha, harus bersusah-susah dulu", saya menyimpulkan, dengan sedikit menghubungkannya dengan dialog kami di pagi harinya

 

Ia mengangguk. Saya berdoa, semoga ia  mengerti.

 

Saya memang sungguh berharap, ia benar-benar paham  pesan saya. Lepas dari itu, tugas saya adalah selalu jadi sumber referensi sebatas yang saya mampu. Ini kesempatan besar buat semua  orang tua. Di masa mereka melakukan eksplorasi, maka kesempatan kita untuk jadi pendamping utama. Saat mereka banyak menggali gagasan, maka kita bisa jadi sumber referensi utama mereka. Maka jelas bahwa kedekatan kita dengan mereka akan jadi dasar yang penting. Tanpa kedekatan, tanpa kepercayaan dari mereka, maka akan sulit mereka mau terbuka bicara pada kita. Akan jadi  duka dan luka yang dalam jika anak-anak tak bisa hangat dengan orang tuanya

 

Beranjak dari  pemahaman di atas, saya pun coba semampu saya memanfaatkan peluang yang ada untuk membangun rasa percaya mereka. Kesempatan sekecil apapun saya usahakan dan terus saya coba untuk belajar memberi yang terbaik pada mereka. Seperti juga kesempatan saat harus mengantar jemput mereka. Ada pengorbanan, semisal makan siang tergesa dan bahkan tidak makan siang. Namun rasa lapar macam itu bisa hilang oleh kepuasan batin

 

Makin puas saya karena selain menjadi sumber referensi pada mereka, tak jarang justru saya sering diingatkan  pada prinsip hidup.  Itu juga yang saya tangkap dari dialog kami di atas. Dari obrolan pagi itu, saya belajar bahwa ada hal sederhana yang harus kita upayakan untuk dapat meraih yang kita mau.

 

"Belajar" menjadi kata kunci yang ditawarkan anak saya. Belajar yang tidak setengah-setengah. Belajar yang sungguh serius dan tidak main-main. Ini sekaligus menyiratkan persistensi, ketangguhan saat menghadapi hal yang tidak menyenangkan. Bukankah tak selalu mulus jalan di  muka bumi ini. Tapi ya begitulah tak ada makan siang yang  gratis. Maka kuncinya ya bersusah-susah dahulu , enjoy aja kemudian !

 

"Energy is the essence of life. Every day you decide how you're going to use it by knowing what you want and what it takes to reach that goal, and by maintaining focus."

 

(adjie @ www.PowerWriting.co.cc)

No comments: