" Kalau nggak begini, kan nggak ada yang dibahas ?", kata kawan saya ini lagi. Ia adalah salah seorang fasilitator yang bersama saya tengah menemani sejumlah sahabat untuk belajar. Kami ada di sana untuk sebuah program pelatihan berbasis alam terbuka.
Logika kawan saya ini bisa diterima. Dalam pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning), maka pengalaman konyol yang tengah saya nikmati memang bisa jadi bahan belajar yang menarik. Pengalaman konyol macam itu bisa dibahas mendalam , yang pada akhirnya mengantar semua yang terlibat untuk sampai pada sebuah pesan bermakna. Jadi pendapat kawan saya ini masuk akal dan valid
Namun bukan persetujuan yang kemudian saya sampaikan padanya.
" Enak aja. Ada benernya sih, tapi gue lagi nggak kepengen belajar kayak begini", ujar saya membalas ocehannya.
Dia mungkin bingung dan menunggu penjelasan saya selanjutnya.
" Yang harus belajar kan mereka. Tapi kalau harus sengsara begini, mendingan jangan ngajak-ngajak gue deh", jawab saya sekenanya. Tentu sambil bercanda. Tentu juga ada pesan serius di balik canda saya. Saya setuju bahwa kita bisa belajar banyak. Tapi kenapa harus sekonyol itu prosesnya ?
Hikmah di Tengah Nafas Terengah
Saya memang sedang bergurau saat menyebut tak mau belajar dari kejadian macam di atas. Meski bukan saya yang jadi peserta program pelatihan, sejatinya saya memang sungguh belajar dari kekonyolan yang terjadi. Semakin jelas dan tegas bahwa siapapun memang bisa belajar sesuatu di sekolah kehidupan ini. Asal mau, bersedia membuka diri dan peka, maka terlalu banyak hal yang bisa kita pelajari di kehidupan kita.
Saya percaya, kawan ini juga sangat tahu bahwa saya memang bergurau. Yang mungkin ia tidak tahu adalah betapa saya juga sangat serius soal napas saya yang terengah-tengah. Bayangkan, ketika sebagian besar orang sudah terlelap tidur, saya dan rombongan justru tengah dipaksa menikmati jalan menanjak.
Saya lupa sudah berapa lama kami berjalan. Yang saya tahu, jarak yang kami tempuh pasti sudah lebih dari 3 kilometer ! Asal tahu saja, kami berjalan kaki di malam saat jam sudah lewat dari pukul 9. Udara sekitar Cisaat – Sukabumi cukup dingin. Namun tak ada tulang saya yang gemetar kedinginan. Tampaknya suhu malam itu kalah kuat oleh keringat saya yang sudah membasahi tubuh. Karena sudah lama tak berjalan kaki sejauh itu, cukup berat untuk saya melahap tanjakan yang ada.
" Saya sudah berulang kali menemani perusahaan lain menjalankan program macam ini", saya berhenti sejenak, menunggu reaksi kawan-kawan peserta
" Sudah sering juga kami mengambil lokasi ini sebagai tempat pelatihan. Tapi asal Anda tahu, ini kali pertama saya harus berjalan kaki dari bawah tadi", saya protes pada para peserta saat kami membahas pengalaman konyol di atas, tetap sambil bercanda.
Satu kelas tertawa riuh. Tawa mereka meledak bercampur komentar singkat yang tiba-tiba bermunculan di banyak penjuru
Tentu saja, kelompok yang melakukan kekonyolan ikut tertawa juga, walau mungkin terpaksa dan garing. Tapi saya percaya bahwa tawa mereka ini pasti dari jenis tawa yang dalam, karena yang mereka tertawakan adalah diri sendiri. Ini sekaligus menjadi kesempatan mereka menertawakan kekonyolan yang mereka buat. Untungnya, kelompok ini agak terbantu, karena bukan hanya mereka yang melakukan kekonyolan. Ada satu kelompok lain lagi dalam kelas kami yang juga berjalan kaki. Sementara satu kelompok sisanya berhasil dengan sukses mengelola modal yang mereka punya, sehingga mereka tak perlu jalan kaki berkilo meter jauhnya. Kelompok terakhir ini saya yakini tertawa amat lepas. Tanda puas amat sangat. Pada saat yang sama, tawa mereka sekaligus jadi sebuah ejekan halus pada dua kelompok yang katro itu !
Dan seperti biasanya : yang menang dan berhasil seakan berhak bicara apa saja.
" Awalnya kami sempat minder juga pada kelompok lain yang bisa naik bus lebih dahulu. Namun rupanya kelompok lain asal naik dan akhirnya kehabisan uang", begitu ujar salah seorang anggota kelompok yang sukses
Yang merasa disudutkan tak mau kalah. Kalaupun sudah salah, mereka tentu tak ingin jadi bulan-bulanan. Maka membela diri adalah pilihan yang tersisa, apapun caranya
" Soalnya kami nggak jelas perintahnya. Kami pikir dengan uang itu kami akan langsung sampai di tempat tujuan. Rupanya hanya sampai di polsek saja", katanya sambil menyebut tempat pemberhentian bus, sebelum harus menanjak jalan kaki.
Yang Tidak Sama adalah Reaksi Kita
Saya coba memastikan kebenaran informasi yang mereka peroleh. Rupanya semua kelompok mendapat informasi bahwa uang yang ada harus dimanfaatkan untuk mengantar mereka ke camp di Situgunung. Tak ada yang salah dengan informasi awal. Tak ada masalah dengan data yang mereka terima. Semua mendapat informasi yang sama. Semua kelompok diperlakukan dengan adil.
Kalau kemudian timbul masalah, itu karena ada kelompok yang tidak detil memahami informasi. Alhasil mereka salah mengambil langkah. Berkolaborasi dengan kekonyolan lain, maka jadilah mereka menerima akibat atas keputusan yang dibuat.
Pada titik ini saya teringat pada coretan saya sebelumnya, yang mengupas bahwa untuk berhasil dalam petualangan ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Belajar dari kekonyolan di atas, salah satu yang lepas dari perhatian adalah soal pengelolaan sumber daya yang ada.
Dua kelompok yang akhirnya jalan kaki ini adalah contoh nyata betapa mereka kurang detil dalam mengelola modal yang ada. Semua kelompok mendapat uang dalam jumlah yang masuk akal untuk bisa mengantar mereka sampai di tujuan, di area perkemahan. Sayangnya ada kelompok yang belum berhasil mengelola modal itu dengan baik.
" Habis kondekturnya nyebut ongkosnya pas sudah di dalam bus. Jadi kita nggak ada pilihan lain. NTar kalau ditawar, terus kita dituruni di tengah jalan kan malah repot !!", begitu salah seorang sahabat menyampaikan argumen di balik keputusan mereka
" Elo aja yang payah. Kelompok gue bisa nawar. Tadinya 5 ribu jadi Cuma 3 ribu per orang. Makanya uang kami ada bersisa", potong anggota kelompok yang berhasil
Saya tak heran. Faktanya kelompok ini memang berhasil naik area perkemahan dengan sukses, tak harus jalan kaki. Mereka naik angkot yang tersisa di malam itu. Jadi, saat saya dan kelompok sedang terengah menembus malam, kelompok mereka pasti tertawa-tawa dari dalam angkot !
Logika saya memang menyayangkan keputusan yang dibuat oleh sahabat-sahabat ini. Nalar saya berteriak mengingatkan saya bahwa semestinya mereka masih bisa menawar harga ongkos naik bus. Kalaupun tak cocok harga dan harus turun, memangnya kenapa ? So what gitu lho !
" Kalau diturunin, ya naik kendaraan lain", suara dari benak saya tak tahan harus diam dari tadi
Diskusi kami memang jadi lebih hidup karena kejadian itu. Saya hanya menegaskan dan mengingatkan sahabat-sahabat itu untuk berhitung dan waspada. Saya juga mengungkap betapa apa yang mereka dapat adalah buah pilihan mereka. Mereka memilih untuk naik bus dan memilih tak berusaha menawar ongkos. Mereka memilih menuruti kekhawatiran mereka kalau-kalau diturunkan di tengah jalan. Mereka juga memilih untuk jalan kaki.
" Semua adalah pilihan sadar kita", itu yang saya tegaskan pada mereka.
Saya sengaja tak mendalami soal teknisnya. Saya lebih suka mengangkat soal kerangka berpikir, yang kemudian mempengaruhi pengambilan keputusan mereka. Informasi yang sama dari panitia ternyata memang diterjemahkan secara berbeda oleh kepala yang berbeda, oleh kelompok yang ada. Ujungnya, mereka harus menikmati konsekuensi pilihan mereka
Mengingat Kembali Prinsip Petualang
Memang tak hanya soal pengelolaan sumber daya yang lupa mereka perhatikan. Faktor ini berkolaborasi dengan banyak hal yang memperkeruh suasana, yang menuntun mereka pada pilihan yang menyulitkan diri mereka sendiri.
Saya tak tahu apa yang ada di benak sahabat-sahabat saya itu. Yang saya tahu mereka juga kurang detil dalam soal perencanaan. Mereka hanya tahu akan ke mana, namun detil tujuan mereka tak dipahami dengan dalam. Mereka tak terlalu paham bahwa untuk sampai ke tujuan tak bisa sekaligus satu kali dengan bus besar. Mereka harus turun di satu tempat, kemudian berganti kendaraan untuk bisa naik ke tempat tujuan. Detil macam ini yang kurang diantisipasi.
Kurangnya antisipasi tampak berhubungan dengan rasa ingin tahu yang lupa mereka bawa. Informasi yang ada tidak coba digali lebih dalam. Keterbatasan informasi yang ada ikut membatasi pilihan yang bisa mereka ciptakan. Mereka tak sepenuhnya sadar apa saja yang bakal terjadi.
Antisipasi terhadap resiko juga tak tumbuh. Mungkin sebagian sahabat saya itu berpikir bahwa jalan akan mulus saja. Mungkin juga mereka berpikir bahwa area perkemahan akan dilalui oleh bus yang mereka pilih. Nyatanya tidak begitu. Antisipasi yang kurang tajam membuat mereka terjebak pada pilihan yang sempit.
Kurangnya antisipasi juga berhubungan dengan skenario yang dibangun. Tampaknya skenario salah ambil keputusan belum sempat singgah di kepala sahabat-sahabat saya itu. Sebagian besar mereka mungkin berpikir perjalanan akan mulus saja. Naik bus, duduk manis, tidur lalu akan sampai di tujuan.
Sayangnya perjalanan malam itu tak demikian mulus. Ada saja kekonyolan yang merusak mimpi indah. Dan itu terjadi karena keputusan dan pilihan yang kurang efektif. Perubahan dan ketidak pastian seakan tak masuk hitungan sahabat-sahabat saya itu. Ketika semuanya jadi satu , maka pilihan jalan kaki seakan menjadi satu-satunya yang tersedia
Penutup
Maka ketika menuliskan kembali kisah di atas, saya tegas sepakat bahwa kami memang belajar banyak dari kejadian itu. Saya memang menyebut pembelajaran di atas sebagai buah kekonyolan. Kekonyolan adalah konsep paling halus yang bisa saya pilih untuk mewakili sejumlah kekeliruan mereka. Sahabat-sahabat saya ini keliru karena terlupa untuk membuat rencana. Mereka keliru karena tak membawa serta rasa ingin tahu. Mereka keliru karena tak waspada pada hal yang tak terduga. Mereka keliru karena tak berhitung detil. Mereka juga keliru karena tak menyiapkan banyak skenario.
Hal lain, yang membuat kisah ini jadi cerita konyol adalah karena terjadi tak lama usai saya membahas soal petualangan dan apa yang harus diperhatikan dalam sebuah petualangan.
" Gile, baru aja gue bikin tulisan tentang petualangan. Eeee sekarang harus mengalami kekonyolan itu secara langsung !", saya bergumam pada kawan di sebelah saya
Yang tidak konyol dan keliru hanyalah satu hal, yakni bahwa kami sungguh belajar banyak. Saya yakin sahabat-sahabat muda saya, yang dipaksa jalan kaki itu pasti mendapatkan pengalaman berkesan. Saya pun percaya bahwa kawan-kawan yang sukses naik angkot itu juga ikut belajar dari sana. Walau harus gontai berjalan mendaki, dan di tengah nafas memburu, saya ikut menikmati pengalaman luar biasa itu.
Di ujung pendakian malam itu, sesampai di area perkemahan, saya sampai juga pada kesadaran bahwa tak ada kekonyolan ketika kita mampu menyaring dan menemukan hikmah, sepahit apapun itu.
Maka di ujung tulisan ini, saya hendak sampaikan terima kasih untuk sahabat yang jadi kawan petualangan hari-hari itu. Hari ini saya juga setuju pada kawan fasilitator di atas bahwa kami memang beruntung bisa mengalami kejadian bermakna di malam itu. Dan kali ini saya sungguh serius
No comments:
Post a Comment