Selamat Datang SAHABAT

Selamat datang di rumah kecil pembelajar.

Banyak persepsi, interpretasi, elaborasi dan apresiasi yang akan coba saya angkat. Awalnya, ini adalah cara saya untuk terus memberdaya diri. Dan, jika pun pada satu titik apa yang saya ungkap bermakna untuk Anda, Sahabat, maka komentar dan pandangan Anda tentu sangat berharga

Selamat Datang SAHABAT, semoga ini jadi tempat singgah yang bermakna

May 5, 2008

MENCIPTA PILIHAN di PETUALANGAN KITA

" Kita beruntung ya Mas ?", sebuah tanya yang langsung saya balas dengan senyum, sambil saya terus terengah menapaki jalan menanjak. Pertanyaan kawan itu juga saya sikapi dengan sejumlah baris kata, yang siap melompat dari mulut saya

 

"  Kalau nggak begini, kan nggak ada yang dibahas ?",  kata kawan saya ini lagi. Ia adalah salah seorang fasilitator yang bersama saya tengah menemani sejumlah sahabat untuk belajar. Kami ada di sana untuk sebuah program pelatihan berbasis alam terbuka.

 

Logika kawan saya ini bisa diterima. Dalam pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning), maka pengalaman konyol yang tengah saya nikmati memang bisa jadi bahan belajar yang menarik. Pengalaman konyol macam itu bisa dibahas mendalam , yang pada akhirnya mengantar semua yang terlibat untuk sampai pada sebuah pesan bermakna. Jadi pendapat kawan saya ini masuk akal dan  valid

 

Namun bukan persetujuan yang kemudian saya sampaikan padanya.

 

" Enak aja.  Ada benernya sih, tapi gue  lagi nggak kepengen belajar kayak begini", ujar saya membalas ocehannya.

 

Dia mungkin bingung dan menunggu penjelasan saya selanjutnya.

 

" Yang harus belajar kan mereka. Tapi  kalau harus sengsara begini, mendingan jangan ngajak-ngajak gue deh", jawab saya sekenanya. Tentu sambil bercanda. Tentu juga ada pesan serius di balik canda saya.  Saya setuju  bahwa kita bisa belajar banyak. Tapi kenapa harus sekonyol itu prosesnya ?

 

Hikmah di Tengah Nafas Terengah

Saya memang sedang bergurau saat menyebut tak mau belajar dari kejadian macam di atas. Meski bukan saya yang jadi peserta program pelatihan, sejatinya saya memang sungguh  belajar dari kekonyolan yang terjadi. Semakin jelas dan tegas bahwa siapapun memang bisa belajar sesuatu di sekolah kehidupan ini. Asal mau, bersedia membuka diri  dan peka, maka terlalu banyak hal yang bisa kita  pelajari di kehidupan kita.

 

Saya percaya, kawan ini juga sangat tahu bahwa saya memang bergurau. Yang mungkin ia tidak tahu adalah betapa saya juga sangat serius soal napas saya yang terengah-tengah. Bayangkan, ketika sebagian besar orang sudah terlelap tidur, saya dan rombongan justru tengah dipaksa menikmati jalan menanjak.

 

Saya lupa sudah berapa lama kami berjalan. Yang saya tahu, jarak yang kami tempuh pasti sudah  lebih dari 3 kilometer !  Asal tahu saja, kami  berjalan kaki di malam saat jam sudah lewat dari pukul 9. Udara sekitar Cisaat – Sukabumi cukup dingin. Namun tak ada tulang saya yang gemetar kedinginan. Tampaknya suhu malam itu kalah kuat oleh keringat saya yang  sudah membasahi tubuh.  Karena sudah lama tak berjalan  kaki sejauh itu, cukup berat untuk saya melahap tanjakan yang ada. 

 

" Saya sudah berulang kali menemani perusahaan lain menjalankan program macam ini", saya berhenti sejenak, menunggu reaksi kawan-kawan peserta

 

" Sudah sering juga kami mengambil lokasi ini sebagai tempat pelatihan. Tapi  asal Anda tahu, ini kali pertama saya harus berjalan kaki dari bawah tadi", saya protes pada para peserta saat kami membahas pengalaman konyol di atas, tetap sambil bercanda.

 

Satu kelas tertawa riuh. Tawa mereka meledak bercampur komentar singkat yang tiba-tiba bermunculan di banyak penjuru

 

Tentu saja, kelompok yang melakukan kekonyolan ikut tertawa juga, walau mungkin terpaksa dan garing. Tapi saya percaya bahwa tawa mereka ini pasti dari jenis tawa yang dalam, karena yang mereka  tertawakan adalah diri sendiri. Ini sekaligus menjadi kesempatan mereka menertawakan  kekonyolan yang mereka buat.  Untungnya, kelompok ini agak terbantu, karena bukan hanya mereka yang melakukan kekonyolan. Ada satu kelompok lain lagi dalam kelas kami yang juga berjalan kaki. Sementara satu kelompok sisanya berhasil dengan sukses mengelola   modal yang mereka punya, sehingga mereka tak perlu jalan kaki berkilo meter jauhnya. Kelompok terakhir ini saya yakini tertawa amat lepas. Tanda puas amat sangat. Pada saat yang sama, tawa mereka sekaligus jadi sebuah ejekan halus pada dua kelompok yang katro itu !

 

Dan seperti biasanya :  yang menang dan berhasil seakan berhak bicara apa saja.

 

" Awalnya kami sempat minder  juga pada kelompok lain yang bisa naik bus lebih dahulu. Namun rupanya kelompok lain asal naik dan akhirnya kehabisan uang", begitu ujar salah seorang anggota kelompok yang sukses

 

Yang merasa disudutkan tak mau kalah. Kalaupun sudah salah, mereka tentu tak ingin jadi bulan-bulanan. Maka membela diri adalah pilihan yang tersisa, apapun caranya

 

" Soalnya kami nggak jelas perintahnya. Kami pikir dengan uang itu kami akan langsung sampai di tempat tujuan.  Rupanya hanya sampai di polsek saja", katanya sambil menyebut tempat pemberhentian bus, sebelum harus menanjak jalan kaki.

 

Yang Tidak Sama adalah Reaksi Kita

 

Saya coba memastikan kebenaran informasi  yang mereka peroleh.  Rupanya semua kelompok mendapat informasi bahwa uang yang ada  harus dimanfaatkan untuk mengantar mereka ke camp di Situgunung.  Tak ada yang salah dengan  informasi awal. Tak ada masalah dengan data yang mereka terima. Semua mendapat informasi yang sama. Semua  kelompok diperlakukan dengan adil.

 

Kalau kemudian timbul masalah, itu karena ada kelompok yang tidak detil memahami informasi. Alhasil mereka  salah mengambil langkah. Berkolaborasi dengan kekonyolan  lain, maka jadilah mereka menerima akibat atas keputusan yang dibuat.

 

Pada titik ini saya teringat pada coretan saya sebelumnya, yang mengupas bahwa  untuk berhasil dalam petualangan ada beberapa hal yang harus diperhatikan.   Belajar dari kekonyolan di atas, salah satu yang lepas dari perhatian adalah soal  pengelolaan sumber daya yang ada.

 

Dua kelompok yang akhirnya jalan kaki ini adalah contoh nyata betapa mereka kurang detil dalam mengelola modal yang ada. Semua  kelompok mendapat uang  dalam jumlah yang masuk akal untuk bisa mengantar mereka sampai di tujuan, di area perkemahan. Sayangnya ada kelompok yang belum berhasil mengelola modal itu dengan baik. 

 

" Habis kondekturnya nyebut  ongkosnya pas sudah di dalam  bus. Jadi kita nggak ada pilihan lain. NTar kalau ditawar,  terus kita dituruni di tengah jalan kan malah repot !!", begitu salah seorang sahabat menyampaikan argumen di balik keputusan mereka

 

" Elo aja yang payah.  Kelompok gue bisa nawar. Tadinya 5 ribu jadi Cuma 3 ribu per orang. Makanya uang kami ada bersisa", potong  anggota kelompok yang berhasil

 

Saya tak heran. Faktanya kelompok ini memang berhasil naik  area perkemahan dengan sukses, tak harus jalan kaki. Mereka naik angkot yang tersisa di malam itu. Jadi, saat saya  dan kelompok sedang terengah  menembus malam, kelompok mereka pasti  tertawa-tawa dari dalam angkot !

 

Logika saya memang menyayangkan keputusan yang dibuat oleh sahabat-sahabat ini. Nalar saya  berteriak mengingatkan saya bahwa semestinya mereka masih bisa menawar harga ongkos naik bus. Kalaupun tak cocok harga dan harus turun, memangnya kenapa ? So what gitu lho !

 

" Kalau diturunin, ya naik kendaraan lain", suara dari benak saya  tak tahan harus diam  dari tadi

 

Diskusi kami memang jadi lebih hidup karena kejadian itu. Saya hanya menegaskan dan mengingatkan sahabat-sahabat itu untuk berhitung dan waspada. Saya juga mengungkap betapa apa yang mereka dapat adalah buah pilihan mereka. Mereka memilih untuk naik bus dan memilih tak  berusaha menawar  ongkos. Mereka memilih menuruti kekhawatiran mereka kalau-kalau diturunkan di tengah jalan.  Mereka juga memilih untuk jalan kaki.

 

" Semua adalah pilihan sadar kita", itu yang saya tegaskan pada mereka.

 

Saya sengaja tak mendalami soal teknisnya. Saya lebih suka mengangkat soal kerangka berpikir, yang kemudian mempengaruhi pengambilan keputusan mereka. Informasi yang sama dari panitia ternyata memang diterjemahkan secara berbeda oleh kepala yang berbeda, oleh kelompok yang ada. Ujungnya, mereka harus menikmati konsekuensi pilihan  mereka

 

Mengingat Kembali Prinsip Petualang

Memang tak hanya soal pengelolaan sumber daya yang lupa mereka perhatikan. Faktor ini berkolaborasi dengan banyak hal yang memperkeruh suasana, yang menuntun mereka pada pilihan yang menyulitkan diri mereka sendiri.

 

Saya tak tahu apa yang ada di benak sahabat-sahabat saya itu. Yang saya tahu mereka juga kurang detil dalam soal perencanaan. Mereka hanya tahu akan ke mana, namun detil tujuan mereka tak dipahami dengan dalam. Mereka tak terlalu paham bahwa untuk sampai ke tujuan tak bisa sekaligus satu kali dengan bus besar. Mereka harus turun di satu tempat, kemudian berganti kendaraan untuk bisa naik ke tempat tujuan. Detil macam ini yang kurang diantisipasi.

 

Kurangnya antisipasi tampak berhubungan dengan rasa ingin tahu yang  lupa mereka bawa. Informasi yang ada tidak coba digali lebih dalam. Keterbatasan informasi yang ada ikut membatasi pilihan yang bisa mereka ciptakan. Mereka  tak sepenuhnya sadar apa saja yang bakal terjadi.

 

Antisipasi terhadap resiko juga tak tumbuh. Mungkin sebagian sahabat saya itu berpikir bahwa jalan akan mulus saja. Mungkin juga mereka berpikir bahwa area perkemahan akan dilalui oleh bus yang mereka pilih. Nyatanya tidak begitu. Antisipasi yang kurang tajam membuat mereka terjebak pada pilihan yang sempit. 

 

Kurangnya antisipasi juga berhubungan dengan skenario yang dibangun. Tampaknya skenario salah ambil keputusan belum sempat singgah di kepala sahabat-sahabat saya itu. Sebagian besar mereka mungkin berpikir perjalanan akan mulus saja. Naik bus, duduk manis, tidur lalu akan sampai di tujuan.

 

Sayangnya perjalanan malam itu tak demikian mulus. Ada saja kekonyolan yang merusak mimpi indah. Dan itu terjadi karena keputusan dan pilihan yang kurang efektif. Perubahan dan ketidak pastian seakan tak masuk hitungan sahabat-sahabat saya itu. Ketika semuanya jadi satu , maka pilihan jalan kaki seakan menjadi satu-satunya  yang tersedia

 

Penutup

 

Maka ketika menuliskan kembali kisah di atas, saya tegas sepakat bahwa kami memang belajar banyak dari kejadian itu. Saya memang menyebut  pembelajaran di atas sebagai buah kekonyolan. Kekonyolan adalah konsep paling halus yang bisa saya pilih untuk mewakili sejumlah kekeliruan mereka.  Sahabat-sahabat saya ini keliru karena terlupa untuk membuat rencana. Mereka keliru karena tak membawa serta rasa ingin tahu. Mereka keliru karena tak waspada pada hal yang tak terduga. Mereka keliru karena tak berhitung detil.  Mereka juga keliru karena tak menyiapkan banyak skenario. 

 

Hal lain, yang membuat kisah ini jadi cerita konyol adalah karena terjadi tak lama usai saya membahas soal petualangan dan apa  yang harus diperhatikan dalam sebuah petualangan.

 

" Gile, baru aja gue bikin tulisan tentang petualangan. Eeee sekarang harus mengalami kekonyolan itu secara langsung !", saya bergumam pada kawan di sebelah saya

 

Yang tidak konyol dan keliru hanyalah satu hal, yakni  bahwa kami sungguh belajar banyak. Saya yakin sahabat-sahabat muda saya, yang dipaksa jalan kaki itu  pasti mendapatkan pengalaman berkesan. Saya pun percaya  bahwa kawan-kawan yang sukses naik angkot itu juga ikut belajar dari sana.  Walau harus gontai berjalan mendaki, dan di tengah nafas memburu, saya ikut menikmati pengalaman luar biasa itu.

 

Di ujung pendakian malam itu, sesampai di area  perkemahan,  saya sampai juga pada kesadaran bahwa tak ada kekonyolan ketika kita mampu menyaring dan menemukan hikmah, sepahit apapun itu. 

 

Maka di ujung tulisan ini, saya hendak sampaikan terima kasih untuk sahabat yang jadi kawan petualangan  hari-hari itu. Hari ini saya juga setuju pada kawan fasilitator di atas bahwa kami memang beruntung bisa mengalami kejadian bermakna di malam itu. Dan kali ini saya sungguh serius

No comments: