Ini bukan bagian awal dari syair lagunya grup musik New Kids on The Block (NKOTB) yang pernah ngetop lebih dari sepuluh tahun lalu. Ini adalah kesimpulan yang saya dapat usai saya berbincang dengan anak-anak di rumah, yang ternyata relevan dengan perjalanan mengejar mimpi-mimpi kita yang dewasa. Ada pelajaran kecil dari balita yang ternyata cocok jadi bekal perjalanan dalam kenyataan hidup para manula sekalipun . Kita memang bisa belajar dari mana saja, kalau mau
" Nas, bagaimana caranya memasukan gajah ke dalam amplop ?", tanya saya sambil tertawa dalam hati, menunggu apa yang bakal dipikirkan oleh anak saya yang usianya menjelang 4 tahun itu.
Kakaknya, mendengar itu sempat senyum ke saya. Tak tahu apa arti senyum anak berusia lima setengah tahun itu. Apakah ia sudah sadar bahwa saya konyol dan hanya bercanda ? Namun realitanya kemudian jadi menarik
" Pilih yang kecil gajahnya", jawab Anas singkat, dan tentu saja dengan amat serius
" Terus ?", saya memancingnya lebih jauh
" Terus dipotong-potong, terus dibejeg-bejeg. Baru deh dimasukin ke amplop", katanya lancar, masih dengan wajah lurus tanda serius.
Saya melebarkan senyum, nyaris terbahak. Kakaknya yang ada di sebelahnya ikut senyum. Mungkin ia juga setuju dengan jawaban adiknya. Atau jangan-jangan ia memang mendapatkan pencerahan dari jawaban spontan itu ? Pencerahan untuk seorang anak kecil sebagaimana saya juga tercerahkan. Pencerahan di balik senyum yang mengantar saya pada soal-soal yang lebih besar dan berada di luar ruang tidur anak-anak waktu itu.
Saya masih penasaran mengingat kejadian di ruang tidur itu. Lalu menguji kembali konsistensi jawaban Anas saat kami berkesempatan dalam satu mobil, putar-putar sekitar kompleks tempat tinggal kami.
Ternyata jawabannya tetap sama. "Dipotong-potong, terus dibejeg-bejeg. Baru deh dimasukin ke amplop", katanya tegas, tak sadar bahwa saya mengulang pertanyaan yang sudah saya lontarkan sehari sebelumnya. Ia merespon dengan sungguh-sungguh. Dan ini memang tanda tentang dinamika logika anak-anak dalam menanggapi pertanyaan, yang mungkin konyol dari kaca mata orang dewasa. Menariknya, pertanyaan yang mungkin konyol itu nyatanya adalah hal serius ketika dimasukkan dalam konteks yang lebih besar, terkait dengan usaha manusia mencapai apa yang sungguh dicita-citakannya.
Mengejar cita-cita, membumikan impian adalah hal-hal serius dalam kehidupan kita. Dan dari kisah konyol di atas, saya seakan diingatkan ulang pada beberapa prinsip dalam merealisasikan impian. Dengan sangat serius, anak-anak mengajarkan saya soal itu, khususnya terkait dengan gagasan dan konsep "melakukan sedikit demi sedikit"
" Big tasks are accomplished in little steps. Take things step by step, and you will succeed"
Kisah memasukan gajah ke dalam amplop selaras dan mirip dengan cerita bagaimana kita bisa memakan gajah. Dan kisah-kisah macam itu memang relevan dengan kisah nyata lainnya dalam perjalanan hidup kita, sebagaimana juga relevan dengan upaya kita memastikan pencapaian tujuan-tujuan yang sudah kita rancang.
Bahkan setelah kita memiliki tujuan yang jelas sekalipun, kita tak akan dengan mudah bisa mendapatkan yang kita mau. Bergerak, bertindak, bekerja adalah penggerak yang akan mengantarkan kita, mendekatkan kita pada tujuan yang sudah kita punya. Terhadap tujuan dan impian yang ada, tak selalu setiap kita bisa tergerak dengan sendirinya. Melihat dan memahami tujuan yang ada, tak sedikit justru ada orang-orang yang malah jadi frustrasi. Terutama ketika merasa bahwa impian kita terlalu muluk, sebagian kita justru jadi bingung hendak mulai dari mana. Tujuan yang dirasakan terlalu muluk memang sering membuat kita justru bingung memulai langkah awal. Yang ada kemudian justru ketakutan dan tak yakin apakah tujuan yang sudah ditetapkan tidak terlalu ambisius. Tujuan yang dirasakan mengawang-awang memang membuat kita hanya melayang di tanah impian, sambil perlahan frustrasi menggerogoti semangat untuk mulai melangkah.
Sebaliknya tujuan yang terlalu sederhana bisa dirasakan terlalu mudah, yang pada ujungnya juga bisa membuat kita terlena dan anggap enteng. Anda tentu tahu apa yang sering terjadi kala kita menganggap enteng sesuatu ? Kita bisa terlena, dan tak mengoptimalkan usaha kita. Alhasil, target terlalu muluk dan target terlalu ringan akan sama saja dampaknya, sama-sama tak bisa kita capai kalau sikap mental kita tak selaras dengan impian-impian itu.
Dengan begitu, kesungguhan merancang SMART goals juga mensyaratkan keseriusan memikirkan langkah lebih detil yang akan mengantar kita untuk perlahan merealisasikannya. Terkait dengan ini, ada tawaran menarik yang pernah saya baca dari satu sumber. Sang guru mengingatkan kita untuk mencoba goal setting strategy yang agak berbeda untuk mengenali langkah-langkah yang kita butuhkan untuk mencapai tujuan-tujuan kita. Tak mulai dari "tiada", kita justru diminta membayangkan (dengan visualisasi) seakan kita sudah berhasil mendapatkan apa yang kita mau. Lalu perlahan kita diminta "melihat" apa yang "sudah" dilakukan sesaat sebelum tujuan di atas tercapai.
Dari sana, kita terus bergerak mundur lagi, melihat dan mencari lagi, tindakan dan langkah apa yang kita butuhkan untuk sampai pada tingkatan sebelumnya. Dengan menggunakan pendekatan itu, maka akan semakin jelas langkah apa yang dibutuhkan. Jadi semakin jelas apa yang diperlukan dari kondisi sekarang ke keadaan masa akan datang.
Untuk memperkaya ilustrasi, saya ambil contoh tujuan yang sederhana, misalnya minum jus alpukat. Sesaat sebelum jus alpukat kita minum, berarti harus sudah ada jus alpukat di tangan yang siap kita minum. Sebelum jus dingin sampai di tangan, maka salah satu kemungkinannya adalah memasukan daging buah alpukat yang ke dalam blender. Lalu harus ada tindakan memasukkan es batu ke dalam blender yang mungkin sudah dicampuri alpukat dan susu coklat. Sebelum ada proses mencampur itu, berarti harus sudah ada alpukat yang harus dibeli dari toko buah terdekat. Untuk membeli buah maka harus mengambil uang di saku celana yang digantung di belakang pintu kamar tidur. Sebelum mengambil uang berarti, saya harus berdiri dari tempat saya mengetik sekarang dan bergerak ke kamar tidur.
Jika ke semua proses disusun dari awal, maka akan menjadi sebagai berikut :
- Berdiri dari tempat saya mengetik
- Bergerak ke kamar tidur
- Mengambil uang di saku celana yang digantung di kamar tidur
- Dengan uang tersebut membeli alpukat di toko buah terdekat
- Mengambil blender / juicer lalu menyalakannya
- Memasukan daging alpukat ke dalam blender
- Menambahi es batu dan susu coklat
- Memasukan jus yang sudah siap ke dalam gelas
- Siap meminum jus alpukat dingin tersebut
Jelas, ada sebuah proses yang seperti terbalik, mundur dari masa akan datang ke situasi hari ini. Tampaknya pendekatan ini mungkin bisa menjadi pilihan lain yang menarik untuk dipertimbangkan, yang lalu perlu dibiasakan sebagai satu strategi alternatif.
Dengan begitu, menjadi jelas bahwa pesan penting buat kita semua adalah mengkaji tujuan-tujuan kita, lalu mengenali apa saja yang perlu dan harus dilakukan hari ini, setiap hari secara berkesinambungan. Tentu, saya sepakat dengan Anda bahwa ini bukan proses mudah , yang sesederhana coretan di atas. Ini juga bukan upaya main yang sekonyol pertanyaan saya pada anak-anak saya tentang bagaimana memasukan gajah ke dalam amplop. Tentu diperlukan usaha keras dan terus menerus, yang pasti membutuhkan keteguhan dan tekad kita. Karena membentuk kebiasaan baru memang sebuah proses yang membutuhkan energi khusus
Meski demikian, masih layak kiranya kita mengingat kekonyolan kisah di awal coretan ini. Lalu perlahan kita belajar untuk selalu bertanya : "What is the next small step ?", yang akan mengantar kita pada pemahaman tentang apa yang perlu dilakukan untuk mendekatkan kita pada tujuan yang kita rancang. Sambil memikirkan pertanyaan ini, ingatlah juga bahwa :
"the best way to eat an elephant is one bite at time"
No comments:
Post a Comment