Bagi telinga para achiever, pernyataan di atas bisa jadi kalimat yang tidak enak di dengar. Bagi para penganut semangat 45, yang ingin terus menjadi nomor satu, tentu pernyataan di atas jadi kalimat yang diharamkan. Bagi banyak orang yang mementingkan pencapaian atau prestasi, kalimat di atas bisa jadi bahan tertawaan. Benar, pernyataan di atas berlawanan dengan nilai dan prinsip kawan-kawan yang menempatkan target nomor satu sebagai sasaran hidupnya. Mereka adalah orang-orang yang memiliki drive, dorongan amat kuat untuk terus menjadi nomor satu. Pada titik ekstrem, bagi kelompok ini menjadi nomor satu adalah harga mati.
Tak saja berlawanan dengan semangat para achiever, pernyataan di atas bisa sangat tidak disuka oleh banyak kawan yang mendalami banyak program pengembangan diri. Yang suka membaca buku-buku self help dan success story, tentu tak suka dengan pernyataan yang menyiratkan lemahnya semangat itu. Dalam buku-buku pengembangan diri, pasti isinya adalah kata-kata inspiratif yang mendorong pembaca untuk menjadi nomor satu. Mungkin tidak semua demikian, namun sebagian besar akan coba membakar semangat pembacanya dengan jargon dan tips lain yang kadang melenakan. Pembaca buku dan peserta pelatihan pengembangan diri akan teracuni oleh gagasan besar yang ada. Dan itulah memang tujuan si penulis maupun pembicara yang ada
Menjadi nomor satu memang menjadi ambisi dan impian banyak orang. Dengan menjadi nomor satu, terbayang banyak hal menyenangkan. Menjadi nomor satu di sekolah tentu akan jadi tempat bertanya banyak kawan lawan jenis. Bagi si Ali Topan, bisa berdekatan dengan wanita pujaannya tentu menjadi hadiah besar yang akan terbawa dalam mimpi tidurnya. Bagi Ratna, bisa dekat dengan si Galih adalah hari khusus yang layak dirayakan.
Di banyak tempat, menjadi nomor satu memang disejajarkan dengan kenikmatan dan kemudahan. Menjadi orang nomor satu di sebuah perusahaan, alias menjadi direktur bisa berarti gaji bulanan di angka 50 juta rupiah plus fasilitas mobil mewah. Belum lagi tunjangan dan kemudahan lain yang melekat dengan posisi yang ada. Kalau tak bisa menjadi nomor satu di perusahaan, maka menjadi nomor satu di satu bagian pun paling tidak bisa bernilai 30 juta rupiah per bulannya. Bayangkan saja. Yang bergaji 50 atau 70 juta per bulan mungkin pernah bingung menghabiskan uang mereka
Jangankan yang bergaji tinggi dan mendapat fasilitas mewah, untuk jenis posisi nomor satu yang tanpa gajipun tak sedikit orang yang ingin jadi nomor satu. Ingat saja di kampung-kampung tempat tinggal kita. Menjadi ketua RT bisa bermakna amat besar. Kebanggaan mungkin melekat di sana, sehingga tak sedikit yang masih mau bersibuk ria mengurus banyak orang. Walau sebagai warga biasa kita memang membutuhkan orang-orang jenis ini.
Pokoknya menjadi nomor satu memang bisa menjadi impian nomor satu banyak orang. Sehingga wajar saja jika kemudian banyak orang berusaha amat keras untuk bisa jadi nomor satu. Mulai dari usaha yang masuk akal dan rasional, hingga yang nekad pakai dukun dan coba menyulap nasibnya dengan cara super instan. Menjadi nomor satu memang bisa jadi pembius nomor satu juga.
Sesungguhnya tak ada yang salah dengan menjadi nomor satu. Dunia akan jadi amat menarik dan hidup kalau banyak orang yang demikian ngotot hendak menjadi nomor satu. Di sekolah, guru jadi tambah sibuk karena anak-anak bandelnya nekad menyontek untuk dapat nilai tinggi dan rangking satu. Di kantor, intrik dan sikut-sikutan terjadi agar yang bersangkutan bisa naik ke tingkat lebih baik lalu jadi nomor satu. Di kampung-kampung, politik kelas murah bisa juga muncul, sama seperti akrobat di pentas politik kelas tinggi. Selain jadi dinamis dan hidup, kadang hidup jadi lebih cerah dan lucu. Coba saja mengingat intrik kelas atas yang ada di sekitar kita, maka Anda bisa tertawa sendiri membayangkan apa yang terjadi. Menjadi nomor satu memang membuat hidup jadi lebih hidup
Dengan gambaran menggiurkan macam itu, maka wajar saja jika menjadi nomor satu memang demikian menggoda. Maka wajar saja jika pernyataan pembuka di atas menjadi janggal dalam konteks ini.
Pernyataan di atas adalah sedikit dari perbincangan saya dengan seorang manager. Ia belum lama di promosi untuk memegang jabatan lebih tinggi. Jika melihat masa lalu karirnya, memang terasa ada yang janggal dari promosinya, sebagaimana justru diungkap oleh yang bersangkutan.
" Gue kan back groundnya lebih banyak di belakang, eh sekarang malah disuruh pegang bisnis yang fokusnya lebih keluar. Tapi ya udah dengan segala pertimbangan, gue terima aja", katanya sambil menjelaskan alasan lain yang memaksanya memegang jabatan itu.
" Dari pada diacak-acak sama orang luar, mendingan gue aja deh yang pegang. Emang pusing sih", katanya lagi
Sambil bicara panjang lebar, saya memang terkagum-kagum padanya. Banyak hal. Saya menduga ia orang yang sangat smart. Banyak rekan lain memuji aspek yang sama. Bahkan orang-orang yang dilewatinya juga memujinya. Maka tak heran, meski ia sendiri dari bagian lain, tapi anak buahnya sekarang tetap menghormatinya. Paling sedikit saya tak mendengar ada kasak kusuk anak buah yang mau kudeta atau sekedar menyebar gosip miring. Selain itu, saya juga heran : koq bisa ya saya bicara panjang lebar dengannya. Kami tak akrab, dan agak jarang bicara mendalam. Kesadaran terakhir ini juga hinggap dalam dirinya
" Gue sama elo kan nggak akrab kan ? Jadinya jarang ngobrol begini", katanya baru sadar.
Saya senyum saja. Setuju padanya. Tapi masa bodoh. Mungkin soal momen saja yang membuat tak semua karyawan bisa saling bicara panjang lebar. Kami sudah disibukkan dengan tugas masing-masing hingga tak ada waktu buat bicara dan haha hihi. Namun ini tak berarti bahwa saya sedang tak ada kerjaan sehingga bisa bicara banyak dengannya. Yang pasti juga, kerjaan saya salah satunya ya memang ngobrol macam ini. Lebih tepatnya salah satu tugas saya adalah menjadi pendengar, menjadi ember penampung bagi banyak keluh kesah kawan-kawan yang stresnya mungkin sudah amat tinggi.
Kawan yang saya satu ini juga sempat menumpahkan uneg-unegnya. Namun beda dari yang lain yang sering saya dengar. Tak tampak kemarahan, emosi meledak dan negativisme. Ia sekedar berbagai kesan pribadinya. Ia sekedar mengungkap apa yang ia sayangkan terjadi. Namun tak tampak bahwa ia putus asa.
" Banyak baca buku, gue jadi sadar tipe apa gue ini", katanya
Lalu ia menjelaskan tipologi pekerja menggunakan kaca mata konsep yang ia pahami dari sebuah buku. Beberapa kawan ia jadikan contoh yang kemudian dianalisis dengan sudut pandang itu. Menarik penjelasannya
" Makanya gue jadi makin ngerti kenapa anak buah gue seperti itu. Sekarang sih gue cuekin aja si dia. Yang penting gue sudah berusaha. Habis mau apa lagi", ujarnya sambil menggambarkan latar belakang sejarah yang pernah ada dalam hubungannya dengan anak buah
" Suami gue bahkan bilang bahwa orang macam itu gak akan pernah puas. Di dalam buku ini dijelasin banyak hal. Pokoknya menarik deh", katanya sambil matanya mengarah pada buku yang baru saja ia pinjamkan pada saya
Dan pembicaraan kami siang itu amat panjang.
Sejak lama, sejak bergabung di tempatnya sekarang bekerja ia menyatakan tak pernah nafsu untuk satu posisi tertentu.
" Gue memang bukan orang yang ambisius", tandasnya
Menarik sekali penjelasan dan kisah perjalanan karirnya. Menjadi menarik, karena saat mendengarnya ngoceh, kepala saya lari kemana-mana membayangkan apa yang dilakukannya.
" Makanya gue bingung juga saat harus memimpin bisnis ini. Banyak yang lebih senior dan bidangnya lebih sesuai. Gue kan bukan dari dunia mereka. Tapi mau apa lagi", katanya mengingatkan kembali kisahnya di promosi untuk memimpin satu bisnis di sebuah perusahaan kimia
Benar, latar belakangnya memang bukan dari jenis pekerjaan yang biasanya memimpin bisnis di atas. Bisa dibilang bidangnya amat jauh. Yang satu bicara data dan alat laboratorium. Satunya lagi lebih banyak bicara sebagai orang terdepan yang harus banyak interaksi dengan pembeli
Ia juga menyebut kekurangannya, yang ia anggap menghambatnya dalam memimpin tim yang sekarang ada.
" Lo kan tahu, gue ini nggak laut going amat. Gue kan cenderung reserve, diam-diam. Gak seperti kawan-kawan lain", katanya sambil menyebut satu nama anak buahnya.
Saya sendiri setuju dengan pandangannya. Ia memang tak terlalu menonjol dalam people skills. Apalagi kalau diminta banyak bicara jual kecap dan kebohongan, bukan dia orangnya. Ia terbiasa bicara data dan fakta. Ia bekerja di bidang yang mengandalkan daya analisanya.
Sementara sekarang, ia justru ada pada posisi yang bisa saja akan memaksanya untuk membual dan jual kecap. Saya sempat membayangkan kesulitan yang ia hadapi. Namun wajahnya hari itu, setelah beberapa bulan di promosi menjadi business manager tak menampakan kelelahan yang mengerikan. Tampak ia masih bisa enjoy.
" Sekarang malah gue ditambahin pekerjaan. Dari meeting di luar kemarin, gue harus pegang produk untuk wilayah asia tenggara", katanya tanpa bermaksud menyombongkan diri
Lalu ia bercerita bahwa ia menerima saja perintah atasannya untuk tambahan pekerjaan itu, walau tak diikuti dengan tambahan pendapatan dan tunjangan. Sambil tertawa ia menyebut bahwa bosnya mungkin senang padanya, yang diam saja walau diberi tambahan kerjaan. Atasannya mungkin senang sekali karena ia tak banyak menuntut haknya, walau pada saat yang sama kewajiban kerjanya sudah makin membuatnya sibuk.
Ia pasti telah memperlihatkan kinerja yang baik sehingga kemudian mendapatkan tanggung jawab yang lebih besar. Untuk jenis perusahaan dengan resiko bisnis tinggi, tentunya promosi tak dilakukan semau sendiri. Pasti ada pertimbangan yang dilakukan. Dan kawan saya ini pasti memenuhi kriteria yang ditetapkan. Bukan tanpa kekurangan, tapi ia pasti punya banyak kelebihan yang memudahkannya naik ke posisi nomor satu
Walau ia merasa tak harus menjadi nomor satu, namun realitanya ia adalah orang nomor satu saat itu. Pasti ada yang jadi kunci rahasiannya. Ketika ambisinya tak terlalu besar, nyatanya ia sudah berada pada posisi yang memungkin dirinya memperlihatkan kebesaran yang ia miliki. Pasti ada kata kunci yang kemudian menggelindingkannya, mengantarnya pada kenyataan hari ini.
" I don't have to be number one", katanya. Dan kalimat itulah yang pertama kali menarik perhatian saya saat mulai bicara dengannya.
" I just doing my best. Kalau bisa bagus, gue malu bikin yang biasa-biasa aja", kalimat inilah yang saya ingat saat perbincangan kami berakhir
No comments:
Post a Comment